WAKTU salat Jumat baru saja usai. Terlihat seorang pria berkacamata hitam berjalan dengan meraba-raba di Lorong Mannuruki II. Hati-hati namun pasti ia melangkah. Lelaki itu adalah Laode Muhammad Idrus.
LAPORAN: ERNA DUSRA-HASMIRA-ADE IRMA
PRIA tuna netra itu baru saja mengantar ibu kandungnya ke bandara untuk kembali ke kampung halamannya di Muna, Sulawesi Tenggara. Sebelumnya, ibunda Laode, Waode Alfi menghadiri acara wisuda anaknya pada hari Rabu (24/8) di kampus UNM Jalan AP Petta Rani.
Alfi menjadi satu-satunya keluarga Laode yang menghadiri wisudanya setelah menyelesaikan pendidikan di Program Pascasarjana (PPs) UNM, pada Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, kekhususan Pendidikan Hukum dan Kewarganegaan.
Langkah Laode kemudian terhenti. Ia telah sampai di tempat kos-kosannya di Pondok Nur Fadillah. Pria itu kembali meraba untuk meraih pintu kamarnya. Luas kamarnya berukuran 3×4 meter dengan toilet di dalamnya. Tak ada ranjang. Yang ada hanya kasur lipat untuk dia tidur. Sebuah lemari dan kompor gas untuk memasak. Sebuah kipas angin terpasang di tembok.
Walaupun dengan kekurangan yang dimilikinya, ia tak pernah tersesat untuk sampai di tempat tujuannya. Sebagian orang yang mengenalnya beranggapan bahwa ia memiliki kelebihan yang biasa disebut indera keenam.
Hal itu disampaikan Patta Tunru, tetangga sekaligus pemilik kos Nur Fadillah yang ditinggali Laode selama menuntut ilmu di Kota Daeng. “Dia (Laode) itu rajin salat. Setiap hari ke masjid jalan kaki. Luar biasa itu, orang yang punya kekurangan di penglihatan mampu berjalan tanpa menggunakan tongkat. Langkahnya dia hitung dari masjid ke kosnya. Begitu pula sebaliknya. Artinya, perasaannya yang jalan. Bisa dibilang punya indera keenam,” kata Patta Tunru, kemarin.
Laode juga diakui pandai bergaul dan wawasannya sangat luas. Begitu pula cara berpikir dan bertutur katanya sungguh bagus.
Walaupun memiliki kekurangan, Laode tidak pernah mengeluh dengan pemberian yang Tuhan tetapkan pada dirinya. “Orangnya sangat sederhana dan tidak pernah malu untuk bertanya dan minta tolong. Kemarin tolong dipinjamkan jas untuk pakai di acara wisudanya. Kebetulan ada dua jas di rumah, jadi saya pinjamkan.” tambahnya.
Pria kelahiran Raha, 16 April 1986 itu sebelumnya lahir dengan kondisi mata yang normal. Namun ketika berusia dua tahun, ia terserang penyakit sarampa, yang menyebabkannya mengalami kebutaan hingga saat ini.
“Waktu kena penyakit sarampa itu sempat diobati dengan obat tradisional. Karena keterbatasan biaya, jadinya berhenti,” ujar pria yang selalu memakai kacamata hitam ini.
Laode sedikit bercerita tentang keadaan kampung halamannya di Muna, Sulawesi Tenggara. “Di kampung ibu tinggal sendiri. Bisa dibilang rumah di kampung kondisinya memprihatinkan, belum sempat diperbaiki karena lebih diprioritaskan untuk pendidikan saya,” terangnya.
Perjuangan hidup dan usaha keras Laode Muhammad Idrus telah menginspirasi banyak orang, terutama yang mengenalnya. Semoga apa yang dicita-citakannya bisa diraih, di tengah keterbasan yang dimilikinya. (*/rus)

