MAKASSAR, BKM — Sebanyak 94 jamaah calon haji (JCH) ilegal asal Sulsel, ditambah satu CJH dari Provinsi Sulbar yang tertahan di Filipina,, tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Minggu (4/9) sekitar pukul 12.00 Wita.
JCH asal Sulsel itu berasal dari tiga kabupaten di Sulsel, yakni Bone, Barru, dan Wajo. Mereka didampingi langsung Duta Besar Indonesia untuk Filipina, Jhony Lumintang dan diterima langsung oleh Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo.
Penerimaan JCH yang batal berangkat ke Tanah Suci itu berlangsung dalam suasana yang sangat haru. Malah, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo saat diberi kesempatan untuk berbicara, tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Dia bahkan sempat menyeka air matanya. Hampir sebagian besar JCH yang dipulangkan tersebut juga tak sanggup menahan air mata. Bahkan, ada JCH laki-laki asal Kabupaten Wajo yang sesenggukan, tak bisa membendung kesedihannya.
Kepada Duta Besar Indonesia untuk Filipina, Syahrul mengucapkan terima kasih karena telah memperjuangkan warga Sulsel yang tertahan di sana sehingga bisa kembali ke Tanah Air.
“Terima kasih banyak. Bapak telah menyelamatkan warga saya,” katanya tersendat-sendat.
Dia mengaku sangat marah begitu tahu ada warga Sulsel yang tertipu dan tertahan di Filipina. Koordinasi dengan pihak Kementerian Luar Negeri terus dilakukan untuk mencari cara dan upaya pembebasan mereka. Syahrul pun kemudian bersyukur karena mereka sudah kembali ke Tanah Air dengan selamat.
“Maafkan kalau saya agak emosional. Saya pasang badan untuk rakyat saya. Ini jadi tanggung jawab pemerintah. Kita semua yang urus rakyat yang salah,” cetusnya.
Dia melanjutkan, JCH yang gagal berangkat berhaji tidak boleh sedih lagi. Semoga niatnya untuk ke Tanah Suci sudah diijabah Allah SWT.
Syahrul juga menginstruksikan kepada bupati dan pemerintah masing-masing daerah mengurus kepulangan para JCH dengan baik. Dia juga akan terus memonitor perkembangan selanjutnya. Pasalnya, masih ada tujuh warga Sulsel yang masih tertahan di Filipina karena masih dimintai keterangan.
Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Filipina, Jhony Lumintang mengatakan selama di berada di negara tetangga itu, para JCH sempat ditahan selama lima hari. Yang perempuan ditumpuk dalam satu kamar hingga 15 orang.
Namun, setelah proses negosiasi dan koordinasi dengan pemerintah Filipina, mereka akhirnya dbebaskan dan dibawa ke Kedutaan Besar Indonesia untuk selanjutnya dipulangkan ke Tanah Air.
Dia menghibur para JCH yang batal berangkat, dengan mengatakan jika apa yang dialami merupakan cobaan dan menjadi pelajaran untuk lebih berhati-hati ke depan.
Sementara itu, Pejabat Fungsional Utama Kemenlu, Bunyan Saptomo menegaskan, pihaknya terus berkomitmen untuk senantiasa memberi perlindungan kepada WNI yang ada di luar negeri.
Khusus untuk kasus Filipina, selain JCH yang gagal berhaji dan dipulangkan, ada juga JCH yang berhasil ke Tanah Suci lewat Filipina. Jumlahnya masih sementara didata. Namun diperkirakan mencapai 700 hingga 1.000 orang.
Dia mengatakan, Menlu sudah komunikasi dengan pemerintah Filipina, jika memang ada proses yang mesti mereka lewati, harus dipercepat. Tidak usah ditahan.
“Pada kasus JCH yang dipulangkan ini, mereka kan ditahan dulu dan diinterogasi,” ungkap Bunyan.
Selanjutnya, pemerintah akan mempersiapkan pesawat sekitar lima unit untuk kepulangan mereka ke Tanah Air nantinya.
“Mudah-mudahan kepulangan mereka nantinya bisa lancar. Dubes sudah lakukan pendekatan ke pemerintah Filipina,” terangnya.
Sebenarnya, menurut Bunyan Saptono, yang bertanggung jawab untuk kepulangan para JCH adalah perusahaan yang mengirim mereka. Karena itu, pemerintah akan terus mengejar orang-orang yang bertanggung jawab sehingga terjadi peristiwa tersebut. (rhm/rus)
Rakyat Salah Urus, Syahrul Menangis
×

