Sagu menjadi makanan pokok sebagian kecil warga di Sulawesi Selatan (Sulsel). Berbeda dengan makanan pokok lain seperti jagung dan beras, sagu murni mengandung karbohidrat sehingga cukup baik dikonsumsi orang yang sedang diet.
Laporan: Rahma Amri
Namun sayang, makanan yang satu ini belum terlalu banyak dilirik untuk menjadi alternatif makanan pengganti nasi. Di bidang penelitian pun, bisa dihitung jari yang menjadikan sagu sebagai obyek penelitian.
Salah satunya adalah seorang professor dari Jepang bernama Katsuya Osozawa. Lelaki yang mendedikasikan hampir sebagian besar hidupnya untuk meneliti tanaman sagu itu tertarik terhadap bahan baku pembuatan kapurung karena nyaris tidak tersentuh sama sekali dalam penelitian.
Padahal sejak 20 ribu tahun lalu, sagu sudah dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat.
Dia menuturkan, awalnya, sekitar tahun 1983, ketika mengurus izin penelitian tentang sagu di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dia ditertawakan.
“Saya dikatakan, kok jauh-jauh dari Jepang, hanya untuk meneliti sagu,” katanya sambil tertawa kepada BKM, di ruang kerjanya, Gedung Rektorat Unhas, Lantai 8.
Lelaki yang kerap disapa sensei oleh mahasiswanya itupun memilih daerah Malangke, Luwu Utara.
Dia menuturkan, dipilihnya daerah Malangke karena sekitar dua tahun sebelum melakukan penelitian disana, atasannya, Takaya Yoshikazu sudah merintis penelitian di sana, tepatnya di Desa Pengkajuran. Malah Kepala Dusun disana yang dijabat M Ilyas sudah menjajaki kerjasama dengan pihak Jepang. Ilyas minta bantuan Jepang untuk memperbaiki dan mendesain ulang pabrik sagu yang masih tradisional sekali di wilayah itu.
Dia mengaku, menjadikan sagu sebagai obyek penelitian, membutuhkan kesabaran yang luar biasa.
Lelaki kelahiran Tokyo, Jepang, 21 Agustus 1953 itu menceritakan jarang orang yang melakukan penelitian tentang sagu karena memiliki siklus hidup yang sangat panjang yakni 12 tahun. Butuh setidaknya tiga generasi pertanaman untuk memperoleh data yang benar-benar menyeluruh atau paripurna. Karena lelaki ramah satu ini suka tantangan, dia tidak mempersoalkan kendala atau apapun yang menjadi kesulitannya dalam melakukan penelitian.
Bagi orang di sekitar Malangke Prof Katsuya Osozawa sudah cukup familiar. Hampir setiap minggu dia ke lokasi penelitiannya untuk menyempurnakan data sekaligus terus melakukan inovasi serta terobosan agar sagu semakin dikenal bukan hanya di Sulsel, Indonesia, melainkan juga di mancanegara.
Dia mengaku sejak melakukan penelitian, sangat kagum pada pengetahuan lokal petani yang bisa memperkirakan produksi yang bisa dihasilkan setiap pohon sagu. Hanya dengan melihat besar pohon sagunya dan mengetuk-ngetuk batang sagu dengan parang, mereka sudah bisa tahu berapa tumang (tempat sagu dari daunnya) yang bisa dihasilkan. “Itu luar biasa. Dan selalu akurat,” jelasnya. (b)

