SIAPAPUN pelajar punya kesempatan yang sama untuk mengharumkan nama daerahnya. Bukan hanya mereka dari keluarga berkecukupan yang bisa melakukannya. Tapi juga murid dengan latar belakang ekonomi pas-pasan alias kurang mampu.
Laporan: Suherman Karim
NAMA aslinya Muhammad Fachry. Oleh orang tua, teman-teman dan keluarganya ia karib disapa Fachry. Saat ini duduk di bangku kelas VI Sekolah Dasar Negeri (SDN) 112 Belajen, Kelurahan Kambiolangi, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang.
Bersama kedua orang tuanya, Fachry bermukim di Kampung Kecok, Kelurahan Kambiolangi, Kecamatan Alla. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara buah pernikahan Sadri dan Yeni Susanti.
Sehari-harinya Sadri adalah petani ubi jalar. Sementara Yeni Susanti membantu biaya hidup keluarga dengan berjualan tahu. Dari pekerjaan itu, Sadri dan Yeni membiayai sekolah Fachry dan adiknya, Daffa yang duduk di kelas III pada sekolah yang sama dengan kakaknya.
Di tengah keterbatasan ekonomi kedua orang tuanya, Fachry berusaha untuk mencetak prestasi. Salah satunya, ia menjadi peserta terbaik Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat SD tahun 2016 untuk mata pelajaran fisika.
Pencapaian tersebut ia gapai setelah melalui perjalanan panjang dan perjuangan. Mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi hingga level nasional.
Dari ribuan murid SD/MI yang mengikuti seleksi OSN tingkat Kabupaten Enrekang tahun 2016, Fachry mampu menempatkan diri sebagai peserta terbaik. Iapun kemudian mendapat kepercayaan mewakili Enrekang di tingkat provinsi.
Karena kemampuannya, Fachry kemudian terpilih mewakili Provinsi Sulsel pada level nasional. Ia mengikuti OSN tingkat nasional tahun 2016 yang dilaksanakan di Palembang, Sumatera Selaran, 15-20 Mei lalu. Even ini diikuti 408 peserta dari 34 provinsi. Hasilnya, Fachry keluar sebagai juara harapan satu.
Karena prestasinya, BKM mencari tahu tentang kondisi kehidupan keluarganya. Pada Minggu (18/9) malam, di sebuah rumah berukuran 6×4 meter yang berlantaikan tanah.
”Assalamu alaikum…,” BKM memberi salam setelah mengetuk pintu. ”Waalaikum salam,” jawab seseorang dari dalam. Suara itu berasal dari seorang anak-anak. Ternyata dialah Fachry, murid SD yang jago fisika itu.
”Masukki rumah, Om. Saya pergi panggil bapak dulu di kebun belakang rumah,” tuturnya mempersilakan BKM. Diapun menggapai lampu senter untuk digunakan menerangi perjalanan menuju belakang rumahnya.
Tak banyak isi di dalam rumah yang sebenarnya tergolong tak layak huni ini. Ada lemari yang sebagian sudah rusak dijadikan tempat menyimpan pakaian. Dapur tanah untuk memasak terdapat di bagian belakang. Ada pula di bagian luar.
Ketika ada tamu yang berkunjung, mereka biasanya dipersilakan duduk bersila di lantai beralaskan tikar plastik. Seperti saat BKM bertandang ke rumah ini.
Tak lama berselang, Fachry muncul bersama bapaknya, Sadry. Dia masih mengenakan ‘seragam’ berkebun. Celana pendek, baju kaos dan sebilah parang. Selanjutnya, ikut pula berkumpul ibunya, Yeni Susanti.
Setelah BKM menyampaikan tujuan untuk wawancara soal prestasi yang telah diraih Fachry selama ini, Yeni langsung berujar. ”Tunggu saya ambilkan sertifikatnya. Ada saya simpan di rumah tetangga,” katanya.
Karena bernilainya sertifikat OSN tingkat nasional yang dimiliki Fachry, Yeni terpaksa menitipkannya di rumah tetangga. Dia khawatir lembaran berharga dalam hidup anaknya itu bisa hilang kapan saja, karena kondisi rumahnya yang memprihatinkan.
Kepada BKM, Yeni Susanti menuturkanbahwa anak sulungnya itu memang rajin belajar. ”Dia sangat bersemangat untuk bersekolah,” ujarnya.
Yeni kemudian bercerita tentang keikutsertaan Fachry pada ajang OSN di Palembang. Ia sebenarnya ingin sekali menyaksikan secara langsung buah hatinya itu bertanding. Namun, karena terkendala biaya, keinginan tersebut harus dipendamnya dalam-dalam.
”Kemarin itu saya ingin sekali ikut menyaksikannya bertanding di Palembang. Tapi apa boleh buat, kami tidak punya uang untuk berangkat ke sana,” kata Yeni sedih.
Terpisah, guru pembimbing Fachry, Haminah mengakui jika muridnya itu anak yang cerdas di sekolahnya. Salah satu buktinya, sejak kelas I hingga VI SD, ia selalu menempati posisi ranking satu. ”Dia memang pintar,” ujar Haminah melalui telepon selularnya, Senin (19/9).
Disebutkan Haminah, ada enam murid yang mewakili Sulsel pada OSN tingkat nasional. Dari keenamnya, hanya Fachry yang berhasil meraih juara. Dengan predikat juara harapan satu, ia berhak atas piagam penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (*/rus/b)

