CUKUP banyak makam bersejarah yang ada di di Sulawesi Selatan. Selain makam Raja-raja Tallo yang berada di Kota Makassar, Kecamatan Tallo, tepatnya di Jalan Sultan Abdullah, juga ada satu di Kabupaten Gowa. Yaitu kompleks makam keluarga keturunan Raja Gowa yang berada di Jalan Syekh Yusuf, Kecamatan Somba Opu, tepat di perbatasan Kota Makassar.
Laporan: Arif Alqadry
KEBERADAAN makam para raja-raja beserta keluarga keturunannya, sampai saat ini masih apik dan terjaga. Kondisi ini tidak terlepas dari peran masyarakat sekitar, yang senantiasa penuh kesabaran dan keikhlasan mengurus makam agar tetap terawat dengan baik.
Sebuah lorong yang berada tepat di samping kanan kompleks makam, berdiri sebuah rumah batu sederhana yang tidak begitu luas. Hanya memiliki satu kamar tanpa hiasan perabotan.
Tak ada kursi di ruangan ini. Televisi ataupun kulkas menjadi barang istimewa bagi Malabayi, atau lebih akrab dipanggil Dg Tayang.
Lelaki tua ini lahir di Gowa, 31 Januari 1942. Telah cukup lama dia menghabiskan waktu mengurus makam.
Rutinitas pekerjaannya setiap hari ia lakoni dari pukul 07.00 hingga 18.00 Wita. Letak makam dengan tempat tinggal Dg Tayang tidaklah terlalu jauh. Kira-kira hanya delapan meter.
Menenteng secangkir kopi hitam dia beranjak dari rumahnya di pagi hari. Dengan badan membungkuk, tertatih ia melangkah.
Dg Tayang selalu semangat berjalan keluar dari lorong sempit menuju makam untuk memulai aktifitasnya. Memotong rumput. Membersihkan daun-daun di halaman makam. Juga mencabut lumut-lumut yang menempel di tembok makam. Begitu rutinitasnya selama ini.
Meski jarak antara kompleks makam dengan rumahnya tidaklah jauh, namun Dg Tayang cukup jarang pulang ke rumahnya. Kecuali untuk makan. Ia selalu meluangkan waktu menunggu para peziarah yang datang berkunjung ke kompleks makam.
Kehadiran para peziarah ke makam menjadi berkah tersendiri bagi Dg Tayang. Tak jarang ia mendapat pemberian, baik berupa uang maupun barang. Terlebih ketika dirinya diminta untuk membacakan doa, atau membimbing para peziarah.
“Itu rezeki kalau ada orang yang memberi uang saat berziarah ke makam. Tapi saya tidak pernah berharap banyak soal itu. Saya menjadi penjaga makam benar-benar ikhlas untuk beramal dan memegang amanah dengan baik,” ujarnya.
Tidak cukup lama berada dalam rumah, Dg Tayang kemudian mengajak penulis untuk berkunjung ke dalam kompleks makam. Di situ ia berkisah awal mula dirinya menjadi penjaga makam.
Ketika itu ia didatangi serta diminta secara langsung oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Brigjen TNI Andi Oddang Makka untuk menjaga makam. Kala itu tahun 1978. Dg Tayang masih berusia 36 tahun.
Ditinggal mati istrinya Subaedah Dg Baji dan memiliki seorang anak gadis, Dg Tayang kemudian menerima amanah itu. Diapun menjadi pemegang kunci di kompleks makam keluarga keturunan Raja-raja Gowa. Apalagi dirinya sudah tidak bekerja lagi, setelah keluar dari Pabrik Gula Bone.
”Dulu saya kerja di pabrik gula yang adai Bone. Saya berhenti karena jauh dari keluarga. Setelah itu sempat jadi buruh bangunan di Makassar untuk menghidupi kebutuhan keluarga,” tuturnya, sesekali berbahasa Makassar.
Setelah istrinya meninggal dunia, profesi buruh bangunan tetap ia jalani. Namun, kondisi kesehatannya tak lagi memungkinkan. Dg Tayang mulai sakit-sakitan.
”Saya memang tinggal di sekitar makam dan bisa bahasa Lontara. Namanya untuk kebaikan dan amal, saya terima itu. Sampai sekarang saya tetap menjaga makam,” ujarnya. (*/rus)

