MENCINTAI pekerjaan menjadi salah satu alasan bagi Ismail untuk bertahan. Menjaga kampus Unhas dilakoninya selama puluhan tahun. Ada kebanggaan tersendiri yang ia rasakan selama menggeluti profesi ini.
Laporan: Ardhita Anggraeni
ADA banyak hikmah yang bisa didapat dari sebuah perjalanan hidup. Jalan panjang nan berliku menjadi pembelajaran. Tak terkecuali bagi Ismail.
Hanya tamat SMA, Ismail tidaklah muluk-muluk. Bekerja sebagai penjaga kampus menjadi kesyukuran tersendiri baginya. Soal gaji yang diperolehnya tiap bulan, tak pernah dipermasalahkan Ismail. Sekecil apapun nikmat yang didapat, selalu disyukurinya.
Sebab, ada banyak kesempatan dan peluang ‘tak biasa’ yang diperolehnya selama bertugas menjaga kampus merah. Ya, Pak Mail bisa bertemu langsung dengan pejabat tinggi yang berkunjung ke kampus Unhas. Termasuk presiden dan kepala daerah.
”Biasa saya ditugaskan menyediakan ruangan untuk menjamu tamu yang berkunjung. Seperti presiden dan wakil presiden Pak Jusuf Kalla. Begitu juga dengan bupati yang datang ke seini. Saya bisa bertemu dan bersalaman langsung dengan mereka. Itu hadiah tak terhingga yang saya dapatkan selama bekerja di sini,” tuturnya.
Bapak lima anak yang lahir di Ujung Pandang, 28 Agustus 1972 ini kerap mendapat amanah untuk menyediakan segala kebutuhan dan keperluan untuk pertemuan di Unhas.
”Kalau ada tamu yang datang, seperti anggota DPR, bupati atau gubernur, saya yang biasa disuruh sediakan makanan. Mungkin karena saya sudah lama bekerja disini,” ujarnya.
Jika ada kegiatan seperti ini, biasanya Pak Mail mendapatkan tambahan penghasilan yang diberikan pihak kampus. Uang itulah yang kemudian dipakai untuk menambah biaya kebutuhan sehari-hari dan uang sekolak anak-anaknya.
Selain bertugas menjadi penjaga kampus, terkadang Ismail dipercaya menjadi pembantu di posko penerimaan mahasiswa baru yang akan mendaftarkan diri di Unhas. Tak jarang pula ia membantu mahasiswa yang akan mengikuti ujian dan wisuda.
Menjadi tukang sapu sejak tahun 1996, Pak Mail diupah Rp150 ribu per bulan. Itu berlangsung selama sembilan bulan. Gaji kecil tersebut tak membuatnya patah semangat. Ia terus menunjukkan dedikasi dan pengabdiannya pada pekerjaan.
Hingga akhirnya di tahun 2005, Ismail terangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Ia mendapatkan gaji Rp500 ribu. Seiring perjalanan waktu, gajinya terus bertamabh. Golongannya kini II/c. (*/rus)

