pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Mematahkan Hegemoni Pria di Pilwali

MAKASSAR, BKM — Hegemoni pria masih mewarnai persaingan kandidat yang akan maju di pemilihan wali kota Makassar 2018 mendatang. Kaum Hawa sepertinya masih malu-malu kucing untuk menampakkan diri.
Padahal, sudah ada sejumlah daerah yang bisa dijadikan perbandingan. Sebut saja di Luwu Utara (Lutra). Seorang perempuan bernama Indah Putri Indriyani berhasil mematahkan dominasi kaum pria. Ia terpilih menjadi bupati Lutra.
Sebelumnya, dua srikandi di Sulsel juga sudah pernah menjabat wakil bupati. Yakni Andi Nursyamsinah Aroepala di Kabupaten Selayar, dan Adelheid Sosang di Tana Toraja. Bahkan di Makassar, sosok Hj Apiaty Kalamuddin pernah dua kali menjadi calon wakil wali kota, meski akhirnya tidak terpilih.
Lantas, seberapa besar peluang bila perempuan berkompetisi di Pilwali 2018 mendatang? Saat ini tercatat sedikitnya ada tujuh perempuan yang memiliki nama dan basis yang cukup besar di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan ini.
Mereka adalah Aliyah Mustika Ilham, Andi Rahmatika Dewi, Indira Chunda Thita Syahrul, Hj Majdah Husain, Sri Rahmi, Muhyina Muin dan Apiaty Kamaluddin Amin Syam.
Suwadi Idris Amir dari Indeks Politika Indonesia (IPI), menilai figur perempuan di pilwali Makassar patut di perhitungkan. Alasannya, penerimaan publik kota Makassar terhadap mereka mengalami peningkatan.
Menurut Suwadi, saat ini tercatat dua sosok yang terekam survei di pilwali. Yaitu Aliyah Mustika Ilham dan Andi Rahmatika Dewi alias Cicu. “Walau dukungan electoralnya, yaitu elektabilitasnya masih jauh di bawah petahana Danny Pomanto, Irman Yasin Limpo maupun Syamsu Rizal, namun kedua figur perempuan tersebut sudah menjadi perhatian publik kota Makassar,” ujar Suwadi, Senin (3/4).
Menurutnya, kehadiran Aliyah dan Cicu jelang Pilwali cukup direspon publik. Itu artinya, figur laki-laki patut mewaspadai kedua orang dekat mantan wal ikota Makassar dua periode Ilham Arief Sirajuddin ini.
“Aliyah, jika maju dan berpaket dengan wakil wali kota Deng Ical (Samsu Rizal), dan juga Cicu maju dan berpaket dengan Rusdin Abdullah, maka kedua pasangan ini akan menjadi lawan tangguh untuk petahana Danny Pomanto,” ucapnya.
Dia menambahkan, figur Aliyah dan Cicu cukup direspon publik. Sebab telah banyak perempuan sukses memimpin daerah dan paling populer dan kinerjanya diakui secara nasional. Seperti Wali Kota Surabaya Tri Risma Harini. Hal ini menjadi spirit figur perempuan di kota Makassar dan seluruh Indonesia.
Pengamat politik dari Unibos Dr Arif Wicaksono, mengemukakan soal mampu atau tidaknya calon pemimpin wanita, sangat tergantung bagaimana yang bersangkutan menjalankan manajemen gerakan politik yang menyuarakan suara kaumnya (perempuan itu) sendiri. “Kesulitan pertama adalah karena basic value, sekaligus image perempuan yang sudah sangat lama terbangun dan terinternalisasi dalam masyarakat Indonesia. Yaitu selalu berada di belakang atau di bawah kaum pria,” ujar Arief, kemarin.
Kesulitan kedua, kata dia, adalah karena sistem politik dan pemerintahan di Indonesia dibangun dengan logika ‘macho’, kelaki-lakian, ataupun menempatkan rasionalitas sebagai ciri khas sistem.
Adapun kesulitan ketiga terkait dengan dominasi keyakinan mayoritas umat Islam, yang cenderung mengamini penolakan hadirnya pemimpin perempuan.
“Dengan situasi seperti itu, calon pemimpin perempuan memang sangat diharapkan untuk memberi respon yang sebaliknya. Realitas saat ini, di Indonesia sudah terdapat banyak kepala daerah perempuan yang dikenal atau yang tidak cukup dikenal luas oleh publik,” jelas Arief.
Realitas lain, menurutnya, yakni menunjukkan bahwa jumlah pemilih tetap masih lebih didominasi oleh perempuan, ibu-ibu rumah tangga ataupun remaja wanita. Oleh karena itu citra perempuan idealnya harus berawal dari upaya memperjuangkan suara-suara perempuan, sekaligus memberikan penguatan dan pemberdayaan terhadap perempuan.
“Isu-isu berbasis gender juga idealnya diluruskan dan dijawab dengan tegas, sehingga calon pemimpin perempuan dapat bersinergi lebih dalam dengan calon pemilihnya,” tandasnya.
Hampir senada dikemukakan pengamat politik Dr Firdaus Muhammad. Ia mengungkapkan, potensi kepemimpinan tetap terbuka bagi politisi perempuan.
“Calon dari kalangan perempuan memiliki peluang menang di pilwali selama lawan politiknya berimbang. Misalnya Aliyah, dapat menghadapi petahana karena kompetensi dan prestasi politiknya secara nasional. Apalagi didukung partai besar,” jelas Firdaus.
Selain itu, Firdaus menilai, perempuan cukup mencitrakan diri bahwa mereka memiliki kemampuan serta mahir memainkan isu gender sebagai bargaining position. (rif)




×


Mematahkan Hegemoni Pria di Pilwali

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar