MEMILIKI prestasi menjadi kebanggaan tersendiri bagi seseorang. Apalagi yang berskala internasional. Seperti yang ditorehkan Rahmayani.
LAPORAN: Nugroho Nafika Kassa
DI pelataran Menara Phinisi Kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) Jalan AP Petta Rani, Selasa (4/7). Angin berhembus sepoi-sepoi nan menyejukkan. Seorang mahasiswi terlihat mengenakan baju terusan dipadu dengan hijab warna pink.
Dialah Rahmayani. Mahasiswi jurusan Biologi UNM angkatan 2013. Sambil duduk santai di lantai pelataran, cewek berparas manis yang oleh teman-temannya biasa disapa Rahma ini berbagi cerita tentang apa yang telah diraihnya.
Ternyata, Rahma adalah seorang pemakalah pada level internasional. Ia pernah tampil pada ajang; International Society for Engineering Research and Development. Sebuah konferensi internasional yang berlangsung di Singapura 2-4 Maret 2017. Pesertanya adalah perwakilan setiap negara di dunia.
Tidak banyak orang yang bisa melakukannya. Karena harus melalui beberapa tes yang sulit. Bahkan makalah yang dibuat Rahma sempat ditolak berkali-kali.
Namun, ia kemudian mampu membuktikan jika perjuangan yang dilakukan secara bersungguh-sungguh dan pantang menyerah pasti akan membuahkan hasil. Hasilnya akan sungguh luar biasa.
Bermula dari kegiatan Rahmayani di kampusnya yang tak lepas dari hafalan nama-nama latin tumbuhan dan hewan. Ia lalu berpikir, mengapa tidak diaplikasikan juga kepada anak-anak.
Rahma sendiri merasa telah terlambat saat mempelajari hal tersebut di bangku kuliah. Menurut dia, seharusnya pelajaran ini telah diajarkan sejak SMP.
Karena merasa anak-anak tertarik dengan game, ia pun memutuskan untuk membuat game yang berhubungan dengan menghafal nama-nama latin tumbuhan dan hewan. Maka dibuatlah Onet Latin, yang kemudian dituangkan dalam karya tulis.
“Saya buat game Onet. Saya modifikasi gambarnya. Misalnya menghubungkan gambar jagung dengan jagung. Terus, nanti muncul pertanyaan tentang apa nama latinnya. Terus itumi yang saya tulis di karya tulis itu,” terang Rahmayani.
Kesempatan untuk mengembangkan diri hingga level internasional pun menghampiri Rahma. Ia mengetahui jika ada event yang cocok dengan karya tulisnya tersebut kala itu. Akhirnya, dia meminta izin kepada pihak UNM untuk mengikutkan karyanya di event tersebut karena ia merasa sejalan.
Gayung bersambut. Pihak kampus pun sepakat dan turut mendukungnya dengan mengatasnamakan kampus dan Indonesia jika lolos.
Proses seleksinya tidaklah mudah. Selain bersaing dengan beberapa peserta dari beberapa negara, Rahma juga harus melewati proses yang ditentukan oleh pihak penyelenggara.
Seleksi untuk mengikuti konferensi ini sendiri berada di Thailand. Jadi untuk peserta yang berada di luar Thailand, maka dilakukan seleksi secara online. Tak terkecuali Rahmayani yang mengikuti seleksi secara online dengan proses yang cukup panjang.
Karya tulis yang ia kirim harus ia urus berbulan-bulan. Tepatnya tiga bulan. Mulai dari penyiapan paper sampai proses keberangkatan. “Jujur saja saya urus sampai tiga bulan. Sudah ditolak beberapa kali. Setiap saya kirim ada lagi yang perlu direvisi, dan itu terjadi beberapa kali. Harus dikoreksi bagian ini itulah. Sampai harus mengurus pasport yang sangat ribet. Pokoknya lumayan capek lah saat itu pengurusannya,” kenang Rahma.
Namun, ia tetap tak mau menyerah. Ia terus maju, sampai pada akhirnya ia berhasil mewakili Indonesia di ajang tersebut. Rahma mampu menyisihkan beberapa pesaingnya dari Indonesia maupun dari berbagai negara di dunia.
Ada 10 peserta di ajang tersebut yang datang dari sejumlah negara. Masing-masing mewakili negaranya, walaupun ada juga dua peserta dari satu negara. Sedangkan Rahmayani sendiri satu-satunya yang mewakili Indonesia. Sungguh sebuah kebanggaan tersendiri baginya.
“Ada dari Tiongkok, Korea, Jepang, India, Indonesia. Yang lain saya lupa dari mana, he..he..he,” ucap Rahma mencoba mengingat kembali sewaktu di sana.
Rahma merasa senang sekali saat itu. Karena berkat game onet latin ciptaannya dan dituangkan dalam bentuk karya tulis, apa yang ia impikan untuk bisa ke luar negeri bisa tercapai. Bukan untuk jalan-jalan semata, namun mewakili Indonesia.
Baginya, siapapun sebenarnya bisa seperti dirinya. Yang membedakan dirinya dengan orang lain hanyalah tak berhenti mencoba.
“Banyak orang yang mau ikut event, namun jika karyanya dikoreksi sedikit biasanya orang-orang tersebut langsung menyerah dan memilih untuk mencari event lainnya. Nah, baiknya tidak seperti itu. Terus coba dan coba untuk memperbaikinya, Insya Allah mimpi kita akan tercapai,” seru Rahma. (*/rus/b)

