INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIUN. Kabar duka datang dari Kabupaten Jeneponto. Kepala Biro Harian Berita Kota Makassar (BKM), H Muh Jabbar Tanro berpulang ke rahmatullah. Kepergiannya begitu mendadak.
”PAK Andi, meninggalki H Jabbar Jeneponto tadi malam.” Begitu bunyi pesan singkat yang dikirim Amiruddin, perwakilan BKM di Jeneponto kepada saya pada Rabu (19/7) pagi pukul 08.59 Wita.
Setelah tertegun sejenak seakan tiak percaya, selanjutnya saya menelepon Amiruddin. Tujuannya untuk memastikan apakah informasi yang disampaikannya itu benar adanya.
”Iyye, Pak Andi. Tadi malam meninggal. Tidak sakitji. Tiba-tiba. Sebelum salat zuhur dikebumikan,” kata Amiruddin mencoba meyakinkan. Telepon kemudian dimatikan.
Mendapat kepastian itu, saya lalu menghubungi Fatahuddin Karaeng Kulle, koresponden BKM lainnya di Jeneponto. ”Masih sakitka, Pak Andi. Oleng-olengka ini. Vertigoku kambuh,” kata Karaeng Kulle dari balik telepon.
”Ow…sakitki. Sudah dengan informasinya H Jabbar meninggal dunia?” tanyaku.
”Ha…! Belumpi kudengar itu. Saya langsung ke rumahnya ini sekarang,” ujar Karaeng Kulle menutup pembicaraan lalu bergegas ke rumah duka.
Ya, begitulah ajal. Tak ada satupun manusia di dunia ini yang mengetahui kapan ajal menjemputnya. Termasuk H Jabbar Tanro.
Sebab di hari menjelang kepergiannya untuk selama-lamanya, Jabbar Tanro masih menjalani rutinitas kesehariannya. Di malam hari pukul 23.00 Wita ia mengalami kejang-kejang. Oleh pihak keluarga, Jabbar Tanro kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Lanto Dg Pasewang, Jeneponto.
Namun, hanya berselang 15 menit kemudian, Jabbar Tanro mengembuskan nafasnya yang terakhir. Ia berpulang di usia 62 tahun. Diagnosa medis menyebutkan almarhum meninggal karena sakit jantung. Jenazahnya kemudian disemayamkan di rumah duka Kampung Rannaya, Kelurahan Tolo, Kecamatan Kelara.
Semasa hidupnya, selain tercatat sebagai pegawai negeri sipil, almarhum juga aktif di dunia jurnalis. Ia bergabung di Berita Kota Makassar di awal-awal terbit harian tahun 2007.
Mengantar langsung berita yang sudah diketik di kerta folio, dari Jeneponto ke Makassar kerap dilakoninya. Begitu pula dengan foto yang sudah dicuci, juga dibawa serta untuk diterbitkan. Kala itu internet memang belum ada.
Meski demikian, Jabbar Tanro tak pernah surut. Perjuangannya untuk mengembangkan dan membesarkan Harian BKM di tanah kelahirannya tetap menggebu. Kemampuan dan eksistensi BKM bersaing dengan media lainnya di Jeneponto, salah satunya tidak terlepas dari sentuhan tangan dingin almarhum.
Komisaris Harian BKM, Ny Truitje Musila menyebut Jabbar Tanro sebagai sosok yang loyal dalam melaksanakan tugas. ”Dia bergabung dengan Binabaru di awal terbit harian. Orangnya rajin dan loyal ke perusahaan,” ujarnya.
Jabbar Tanro juga dikenal suka mengoleksi batu permata. Hal itu ia lakoni jauh sebelum demam batu melanda. Di kesehariannya, cincin yang dihiasi berbagai jenis batu permata melingkar di jari jemari tangannya.
Pemandangan ini begitu melekat di ingatan Ibu Ina, karyawati BKM. ”Biasa, kalau ke kantor selalu pakai cincin. Banyak cincinnya,” ujarnya.
Kepergian Jabbar Tanro untuk selama-lamanya mengundang kesedihan yang mendalam. Pelayat silih berganti berdatangan ke rumah duka dan memanjatkan doa.
Prosesi pemakamannya di pekuburan setempat disaksikan banyak orang. Ada Bupati Jeneponto Iksan Iskandar. Wakil Bupati Mulyadi Mustamu. Sekkab Muh Syarif Mustafa.
Hadir pula Ketua DPRD Jeneponto Muh Kasim Makkamula. Wakil Ketua DPRD H Paris Yasir yang disebut-sebut akan berpasangan dengan almarhum Jabbar Tanro di pilbup Jeneponto. Serta Ketua Fraksi PKS Thahal Fasni Bahar.
Almarhum Jabbar Tanro meninggalkan sembilan orang anak. Putra sulungnya, Syamsul Tika Tanro saat ini duduk sebagai anggota DPRD Jeneponto.
Legislator yang akrab disapa Tika ini sangat terpukul dengan kepergian bapaknya yang begitu mendadak. ”Bapak tidak pernah sakit sebelumnya. Tapi semalam sesak nafas akibat serangan jantung. Dibawa ke rumah sakit. 15 menit kemudian bapak sudah tidak ada,” ujarnya sambil menyeka air mata.
Bupati Jeneponto, Iksan Iskandar menyebut almarhum sebagai seorang pekerja keras yang penuh disiplin. Hal itu ditunjukkannya kala dia diberi amanah menduduki jabatan. Seperti di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta pengabdian terakhir selaku kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Sebelum akhirnya Jabbar Tanro memasuki masa purnabakti sekitar setahun lalu.
”Almarhum itu pekerja keras dan ulet. Waktu di BKD selalu rajin datang apel pagi. Pulangnya biasa tengah malam jam 12. Dia patut menjadi panutan,” kata Iksan.
Sebagai pimpinan daerah, Iksan mengaku sangat kehilangan sosok tokoh yang memiliki pemikiran cemerlang. Karena pemikiran itu pula, Jabbar Tanro kemudian membulatkan tekadnya untuk maju dalam bursa pilbup Jeneponto periode 2018-2023.
Sosialisasi sudah intens dilakukannya. HT yang menjadi singkatan namanya mulai dikenal di wilayah Jeneponto. Dukungan telah direngkuhnya. Partai politik juga meliriknya.
Empat partai telah ditempatinya untuk mengambil formulir pendaftaran. Masing-masing PKPI, PDIP dan PBB. Terakhir adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Jabbar Tanro mengambil formulir di PKB di hari terakhir menjelang kepergiannya, yakni Selasa pagi (18/7).
Sekali lagi, Tuhan yang kuasa atas semuanya. Manusia hanya bisa berencana, Dia jualah yang maha menentukan segalanya.
Di tengah-tengah aktivitasnya bersosialisasi dan merintis jalan menuju pilbup Jeneponto, Jabbar Tanro pergi untuk selama-lamanya. Handai taulan, kerabat, sahabat, teman profesi akan selalu mengenangmu. Selamat jalan…. (andi rustan-krk)

