KELEMAHAN banyak orang terkadang karena takut mencoba sesuatu. Padahal dengan melakukannya, bisa diketahui dimana letak kekuatan yang dimiliki. Begitupun dengan sebuah prestasi.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
HAKIKATNYA setiap manusia memiliki kelebihan. Namun kelebihan itu tak akan nampak jika tak pernah diasah. Kelebihan juga tak akan dihargai jika tidak ada orang yang melihatnya.
Mar’atun Mardhiyah, Duta Bahasa Provinsi Sulwesi Selatan tahun 2016, berprestasi karena tak takut mencoba. Ia percaya diri menampilkan segala kelebihannya.
Mar’atun lahir di Makassar, 15 Juni 1994. Ayahnya bernama Hamiruddin, dan ibunya Rukayah. Saat ini ia tinggal di BTN Citra Borongloe. Tengah menempuh pendidikan S1 di Jurusan Pendidikan Agama Islam STAI Al-Furqan, sekaligus S2 di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Makassar (UNM). Itu karena ia juga merupakan alumni S1 di Jurusan Sastra Inggris UIN Alauddin.
BKM menemuinya di Balai Bahasa siang itu. Di cuaca yang mendung dan gerimis, dengan cerianya Dyah, sapaan Mar’atun Mardhiyah menceritakan pengalamannya saat menjadi Duta Bahasa Provinsi Sulsel 2016. Suaranya yang lembut dan sikapnya yang ramah membuat suasana wawancara saat itu terasa lebih santai.
“Menjadi seorang duta bahasa, artinya siap menjadi seorang pemuda yang bangga berbahasa Indonesia, mau melestarikan bahasa daerah, dan tahu berbahasa asing. Tapi tentu saja bukan bagi diri sendiri, melainkan untuk orang-orang di sekitarnya,” begitu ungkapan pertama Dyah saat disinggung mengenai Duta Bahasa yang kini disandangnya.
Ternyata, tidak mudah untuk menjadi seorang duta bahasa. Dyah harus mengikuti seleksi yang cukup panjang dan bersaing dengan ratusan orang. Ketika mengikuti seleksi, ada kurang lebih 100 orang dari Sulsel dan Sulbar yang menjadi saingannya.
Proses pemilihan Dyah untuk menjadi duta bahasa saat itu dibagi menjadi lima tahap. Yakni seleksi administrasi, tes fisik, Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), uji bakat dan minat, dan yang terakhir sesi tanya jawab.
Dari 100 orang yang mengikuti seleksi administrasi dan tes fisik, sudah harus tersaring dan hanya menyisakan sebanyak 50 orang. Selanjutnya, 50 orang itu menjalani seleksi UKBI. Kemudian dihasilkan 25 besar. Hasil dari UKBI ini berhak melaju ke seleksi selanjutnya.
“Ini untuk yang belum tahu UKBI. Jadi UKBI itu TOEFLnya bahasa Indonesia. Ada mendengar (listening), membaca (reading), dan sebagainya. Semuanya dalam bahasa Indonesia. Kadang saya juga agak miris ketika banyak yang tahu tentang TOEFL, namun tak tahu UKBI,” kata Dyah sambil menyunggingnya senyuman.
Setelah melalui seleksi UKBI, peserta yang lolos akan diuji lagi melalui uji bakat dan minat. Ada yang menampilkan kesenian, ada juga yang berpidato. Dyah sendiri saat itu memanfaatkan kemampuannya menjadi pewara, atau biasa yang kita kenal sebagai pembawa acara alias MC.
Duah akhirnya lolos dan berhak melangkah ke final. Di tahapan ini berlangsung proses tanya jawab antara juri dan peserta untuk menguji wawasan calon duta bahasa.
Secara tidak mengejutkan, Dyah pun terpilih menjadi Duta Bahasa Provinsi Sulselbar kala itu. Ia sama sekali tidak menyangka bisa terpilih menjadi duta diantara semua saingannya. Baginya ini adalah sebuah anugerah yang ia dapatkan dari kerja keras, serta doanya selama ini.
Tantangan terbesarnya adalah saingan yang saat itu dirasa Dyah memiliki kualitas yang sangat bagus. Selain itu, ia merasa bahwa pengetahuannya mengenai berbagai kosakata bahasa Indonesia masih sangat kurang.
“Disitu juga saya baru sadar, ternyata pengetahuan saya mengenai sinonim, padanan kata atau kata-kata serapan Bahasa Indonesia masih sangat kurang. Kita terlalu bangga dengan bahasa asing, sedangkan Indonesia sendiri kaya akan kata-kata itu,” ujarnya. (*/rus/b)

