pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Saturia Terpilih Sambut Adipura di Bandara

SEBAGIAN besar orang masih menganggap petugas kebersihan adalah pekerjaan kelas bawah. Namun pada kenyataannya, kota besar seperti Makassar begitu sangat membutuhkan tenaga mereka.
Jangan kira bahwa yang mampu memperindah kota hanya orang-orang perencana tata ruang kota saja. Tanpa petugas kebersihan, Makassar tentu tak akan mendapat Piala Adipura.
Karena itu, sudah sepatutnya jika wali kota memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para petugas kebersihan jika Makassar meraih Adipura. Selayaknya pemerintah yang bertugas mengonsep penataan kota, petugas kebersihan lebih berperan vital di dalamnya. Tanpa mereka, Makassar mungkin menjadi kota dengan lautan sampah.
Sumber dari situs resmi Pemerintah Kota Makassar, makassarkota.go.id menuliskan bahwa saat ini jumlah petugas kebersihan Kota Makassar sebanyak 128 orang. Dari jumlah itu, cukup menarik jika kita menelisik sepasang petugas kebersihan yang berstatus suami istri ini. Sang suami sebagai pengangkut sampah. Sedangkan istrinya bertugas menyapu jalanan.
BKM menemui mereka saat sedang bersama. Selasa pagi (1/8) sekitar pukul 06.30 di Jalan Malengkeri, sang suami sedang mengangkut sampah hasil sapuan istrinya. Walaupun sebagai petugas kebersihan, mereka tampak terlihat bahagia menjalaninya. Harmonis sekali.
Mari kita tengok kehidupan sehari-hari mereka. Sang suami, Zainuddin Dg Sima merupakan penduduk asal Kabupaten Jeneponto. Pria 53 tahun ini hijrah ke Makassar demi mencari kehidupan yang lebih baik.
Awalnya Zainuddin bekerja sebagai sopir truk kontainer. Ini digelutinya selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya beralih profesi menjadi pengangkut sampah lima bulan lalu.
Wajar saja ia pindah. Selama menjadi sopir truk ia hanya digaji sebesar Rp300 ribu per bulan. Jumlah yang begitu kecil, mengingat ia memiliki keluarga yang harus dihidupi.
Bersama istrinya, ia harus menghidupi keempat anaknya. Yang pertama adalah seorang wanita yang saat ini telah menikah. Sampai saat ini belum memiliki pekerjaan. Namun Zainuddin tidak terlalu terbebani olehnya. Karena sang anak telah memiliki suami yang bisa menghidupi, walaupun bekerja sebagai petugas kebersihan.
Anak keduanya adalah seorang pria dan telah menikah pula. Saat ini juga bekerja sebagai petugas kebersihan. Anak ketiga dan keempat masih bersekolah di SMPN 24 Makassar. Anak ketiganya kelas 3 dan yang keempat masih kelas 1.
Tiap pagi pukul 6 sampai pukul 11, Zainuddin yang beralamat di Jalan Dg Tata Lorong 2 ini sudah harus berkeliing mengangkut sampah. Ia memiliki jalur pengangkutan dari Jalan Alauddin sampai Jalan Alauddin II. Setelah selesai, barulah Zainuddin pulang untuk beristirahat sejenak.
Ia akan kembali mengangkut sampah saat sore hari tiba. Jadwalnya jika sore adalah dari pukul 15.00 sampai pukul 17.00 Wita. Hal ini ia lakukan setiap harinya.
Tidak ada kendala dalam menjalani kesehariannya. Ia merasa bahagia saat ini dibanding menjadi sopir truk kontainer, karena gajinya sekarang mencapai Rp1,7 juta per bulan. Satu-satunya kendala bagi Zainuddin adalah penyakitnya saat ini. Walaupun saat ini sudah agak baikan, namun penyakit livernya kadang sangat mengganggu pekerjaannya.
Istri Zainuddin, Saturia Dg. Baji memiliki aktivitas yang hampir sama. Ia adalah seorang penyapu jalanan. Tiap subuh hari setelah salat, ia harus turun ke jalanan untuk menyapu. Ia menyapu dari ujung Jalan Malengkeri sampai di Perumahan Graha Malengkeri. Sore hari ia kembali turun ke jalanan pukul 15.00 Wita. Secara rutin ia lakukan pekerjaan tersebut tiap harinya tanpa kenal lelah.
Pekerjaan ini telah Saturia mulai sejak setahun lalu. Lebih awal dari suaminya. Selama menjalani pekerjaannya, Saturia telah banyak mendapat suka duka. Bagian sukanya mungkin ia kini mendapat gaji yang lumayan besar baginya, yaitu Rp 1,7 juta per bulan. Berbeda ketika dulu yang hanya seorang ibu rumah tangga.
Sementara dukanya, ia kerap kali nyaris ditabrak mobil. “Kalau ditabrak, sampai sekarang belum pernah. Alhamdulillah. Tapi sering sekalima hampir kasiahn,” kata Saturia.
Ditanya soal pekerjaannya, ia merasa senang dengan apa yang ia jalani saat ini. Baginya, pekerjaannya sekarang sudah amat cukup. Diapun belum memiliki niat mencari pekerjaan lain.
“Enakji selama ini. Beginimo saja deh,” kata Saturia sambil tersenyum.
Saturia juga boleh berbangga hati. Karena saat penyerahan Piala Adipura ketiga kalinya, dirinya lah yang diutus oleh wali kota untuk menyambutnya di bandara.
Gaji yang ia dapatkanpun saat ini lancar tiap bulannya. Soal bantuan, ia juga beberapa kali memperolehnya dari pemerintah kota. Walaupun saat ini masih ingin menikmati pekerjaannya sebagai petugas kebersihan, Saturia juga sangat berharap jika di masa yang akan datang dirinya juga bisa sukses.
“Harapanku semoga nanti bisa sukses. He..he..he,” tutup Saturia. (nug/rus/b)



×


Saturia Terpilih Sambut Adipura di Bandara

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar