MAKASSAR, BKM — Ada yang manarik sekaligus unik, ketika Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang (AAN) menghadiri pentas Tari Cari, budaya asli Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) di Lapangan AURI Panaikang, Minggu (24/9).
Agus yang mengenakan baju putih lengan panjang dibalut sarung adat serta peci di kepala, masuk di lokasi pentas Tari Caci. Setiba di lokasi, Agus didaulat oleh panitia untuk turun memukul menggunakan cambuk yang telah diberikan oleh panitia. Wagub diberi kesempatan untuk memukul salah seorang peserta Tari Caci.
Tidak tanggung-tanggung cambuk yang digunakan memukul oleh wagub terbuat dari kulit kerbau. Jika mengenai badan orang yang dipukul, dipastikan akan terluka.
Awalnya, wagub ragu ketika diminta oleh panitia turun memukul. Karena dia yakin pukulannya nanti bila menyebabkan badan orang bisa berdarah. Atau, orang yang dipukul itu merasa sakit.
Tapi anehnya, orang yang mau dipukul tidak merasa takut. Malah justru menantang wagub untuk segera memukulnya.
Wagub diminta ikut memukul dalam pentas budaya ini sebagai bentuk penghormatan sebagai tamu kehormatan yang diundang. Tidak hanya wagub yang diminta melakukannya, tapi juga Ketua Umum KKB-NTT Dr Pius Nalang.
Pius Nalang mengatakan, warga Manggarai di Sulsel sudah mencapai sekitar 70 ribuan orang. Sementara yang menetap di Makassar mencapai puluhan ribu. 60 persen warga Manggarai yang ada di Sulsel berstatus mahasiswa. Selebihnya adalah pekerja dan pegawai.
Pius Nalang dalam momentum ini meminta kepada pemerintah Sulsel, dalam hal ini wagub untuk memberikan perhatian kepada warga NTT yang ada di Sulsel. Pius merasa warga NTT, khususnya warga Manggarai yang tinggal di Sulsel akan ikut serta membantu kemajuan pembangunan di daerah ini.
Dalam kesempatan itu, Pius Nalang menyampaikan kesyukurannya karena Wagub Agus Arifin Nu’mang hadir di acara pentas budaya Manggarai ini.
Di depan warga Manggarai, Agus merespon posisitf pentas budaya, khususnya Tari Caci. Pentas budaya ini, diakui secara fisik keras, tetapi mengandung makna mendalam, yakni keberanian, kemampuan untuk melindungi diri, serta kesabaran.
“Inilah makna yang utama dari budaya Tari Caci asli budaya Manggarai ini sehingga tetap lestari hingga saat ini,” ujar Dr Arda Senaman, salah seorang tokoh Manggarai di Makassar.
Pentas budaya Tari Caci ini digelar dalam rangka memeriahkan acara-acara besar. Diantaranya penutupan Pekan Olahraga Desa (Pordes) Poco Ranaka Cup, Manggarai Timur.
Poco Ranaka Cup Makassar ini sudah tujuh tahun dilaksanakan secara berturut-turut di Lapangan AURI Panaikang. Panitia memberikan hadiah bagi para juara sepakbola. Juara pertama mendapatkan uang pembinaan Rp5 juta, juara II Rp4 juta, juara tiga Rp3,5 juta dan juara IV Rp3 juta. (rls)
AAN Hadiri Pentas Budaya Asli Manggarai
×

