SEBUAH tindakan yang dimulai dari keprihatinan pasti akan memiliki dampak yang besar. Entah dalam waktu itu juga, ataupun di masa yang akan datang. Karena hakikatnya, sebuah kondisi yang memprihatinkan tak akan menjadi baik jika tidak dimulai dari sebuah tindakan, sekecil apapun.
Laporang: Nugroho Nafika Kassa
TINDAKAN yang baik biasanya akan muncul dari orang baik pula. Orang baik akan resah pada kenyataan yang ada sehingga ingin memperbaikiya.
Mitha pun awalnya juga seperti itu. Ia hanya hanya membaca sebuah artikel, hingga kemudian merasa bahwa ia harus memperbaiki kondisi sesuai dengan artikel tersebut dengan tulisan motivasi.
Mitha merasa bahwa yang mampu memotivasi para difabel itu adalah dari kalangan mereka juga. Karena itulah muncul ide untuk membuat tulisan buku motivasi dari anak-anak penyandang disabiitas untuk para penyandang disabilitas lain.
Bersama dengan teman-temannya di Komunitas Writing of Inspiration, Mitha mengawali proses edukasi dengan memberikan materi bagi anak-anak penyandang disabilitas terkait penulisan. Tahap pertama dikhususkan bagi anak tuna rungu.
Tentu saja hal ini tidaklah mudah, karena anak-anak tuna rungu tak bisa mendengar. Untuk itu, Mitha pun terlebih dahulu harus mempelajari dasar-dasar komunikasi bahasa isyarat.
Selain itu, komunitas milik Mitha juga bekerja sama dengan salah satu guru di SLB (Sekolah Luar Biasa) Negeri Pembina Makassar untuk membantu mentransferkan ilmu dari pemateri ke para anak. “Jadi teknisnya ada yang bawa materi, dan guru ini yang ada disampingnya sambil menerjemahkan menggunakan bahasa isyarat ke anak-anak,” kata Mitha.
Setelah diberikan materi dan dianggap mengerti, maka dilakukanlah pre-test dan post-test kepada anak-anak tersebut. Hal ini bertujuan untuk memetakan bagian mana yang masih belum dipahami oleh anak-anak. Setelah itu barulah dilakukan pendampingan selama sebulan.
Pendampingan ini dilakukan secara langsung oleh Mitha dan kawan-kawannya, tentu atas bantuan juga dari para guru. Umumnya mereka biasa melakukan pendampingan setiap akhir pekan selama dua hari, Sabtu dan Minggu.
Disini, Mitha dan kawan-kawannya melatih sembari memberikan contoh seperti apa itu cerpen dan seperti apa itu menulis. Setelah semuanya dimengerti oleh anak-anak, maka Mitha kembali mendampingi mereka selama proses menulis.
“Cukup susah ya proses yang ini, karena biasanya kami harus menulis dulu baru mereka baca dan kemudian dipahami,” ucap Mitha.
Di awal memulai melatih anak-anak ini, diksi (pilihan kata) yang dimengerti dalam menulis sangatlah kurang diketahui. Namun setelah terus menulis, akhirnya banyak diksi yang mereka tahu. Kosakata dalam penulisan cerita pun semakin berkembang.
Mitha juga mengatakan, hal terunik dari pengalamannya selama ini adalah betapa kompaknya anak-anak disabilitas ini. Jika salah satu dari mereka tidak ikut dalam penelitian, maka yang lain juga tak mau ikut. Tentu saja hal ini tak pelak menjadi kesulitan tersendiri bagi Mitha dalam menangani anak-anak.
Namun bukan memberikan dampak positif namanya jika hanya sampai di situ lalu ia ingin menyerah. Mitha pun bertekad untuk terus melatih anak-anak penyandang disabilitas, supaya mereka bisa menyebar virus-virus positif dan motivasi dalam menginspirasi banyak orang.
Ia pun berharap, suatu saat nanti akan semakin banyak lagi orang yang terdorong melakukan aksi seperti dirinya. Anak-anak yang dilatihnya pun ia harapkan nantinya bisa memberikan kontribusi untuk negeri di balik keterbatasan yang dimilikinya.
Mitha juga berpesan kepada masyarakat umum agar mereka selalu memandang anak-anak disabilitas ini seperti halnya anak-anak normal. Jangan memberikan asumsi yang negatif akan keberadaannya. Sebab Mitha yakin, suatu saat keberadaan para penyandang disabilitas akan sangat dibutuhkan.
“Mereka juga ingin dikenal. Mereka juga ingin berada di masyarakat. Ayo bantu mereka,” begitu ajakan Mitha.
Dalam jangka waktu dekat, Komunitas Writing of Inspiration juga berencana menggelar pelatihan di berbagai tempat para penyandang disabilitas. Salah satu yang telah mereka rencanakan adalah di Panti Sosial Bina Daksa Jalan AP Petta Rani, Makassar. (*/rus/b)

