MAKASSAR, BKM — Sempat tertunda beberapa hari, akhirnya ground breaking jalan tol layang Petta Rani dilaksanakan, Kamis (19/10). Acara ini bertepatan dengan peringatan HUT Sulsel ke-348.
Pemancangan perdana tiang pancang dilaksanakan di samping flyover, perempatan Jalan Tol Reformasi-Urip Sumoharjo oleh Menter Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono. Di waktu yang bersamaan, juga dilakukan peresmian secara simbolis underpass simpang Mandai.
Di depan menteri, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo menyampaikan curahan hatinya terkait sarana infrastruktur jalan di Sulawesi Selatan yang masih sangat terbatas. Dia membandingkan dengan infrastruktur yang ada di Sumatera dan Jawa.
“Di Sumatera, jalan tolnya sepanjang 110 km. Di Jawa juga ratusan kilometer. Di Sulsel, yang merupakan pintu gerbang Indonesia Timur, Pak Menteri, masa cuma dapat 5,7 kilometer,” ungkap Syahrul.
Dia mengatakan, daerah ini, khususnya Makassar yang jadi ibukotnya Sulsel, lalulintasnya sudah sangat padat. Data yang ada, sekitar 65 ribu kendaraan mengaspal setiap hari di jalan. Begitu pula di Gowa yang merupakan kabupaten langsung berbatas dengan Makassar, ada sekitar 30 ribu kendaraan.
“Dengan kondisi seperti itu, boleh tidak Pak Menteri, kami minta tambahan lagi. Tolong yah Pak Menteri,” kata Syahrul.
Dia menjelaskan, tol layang Petta Rani masih sangat terbatas yang akan dikerjakan. Dia berharap pemerintah pusat memberi dukungan agar jalan tol layang tersebut dilanjutkan hingga ke Karebosi, Pasar Sentral.
“Kalau perlu, selesai tol layang Petta Rani dibangun, langsung saja dilanjutkan ke Karebosi dan Pasar Sentral. Tidak perlu ditender-tender lagi,” harap Syahrul.
Selain itu, dia juga meminta agar tol Makassar-Maros bisa dibangun secepatnya. Sebab lalulintas antara dua wilayah tersebut juga sangat padat.
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menanggapi curhat Syahrul. Ia mengatakan, untuk usulan gubernur, memang sebaiknya setelah tol layang Petta Rani selesai langsung saja dilanjutkan ke arah Karebosi-Pasar Sentral. Tanpa harus ditender lagi. Perusahaan yang memenangi tender tol layang Petta Rani bisa melanjutkan pekerjaan.
Dia meminta Marga Utama Nusantara melalui anak usahanya PT Bosowa Marga Nusantara sebagai pelaksana konstruksi tol layang Petta Rani, segera melaksanakan pekerjaannya.
“Kalau tidak ada masalah pembebasan lahan, konstruksi harus dilakukan secepatnya. Kalau perlu tanpa henti. Bikin dua shift. Sabtu dan Minggu juga harus kerja. Harus dipercepat, karena sudah sangat dibutuhkan,” tandasnya.
Direktur Utama PT Bosowa Marga Nusantara (BMN) Anwar Toha mengatakan, pelaksanaan ground breaking ini merupakan tanda dimulainya pembangunan jalan, sebagai penambahan lingkup Jalan Tol Seksi 3 yang dibangun di atas lahan nasional.
Jalan tol layang Petta Rani memiliki panjang 4,3 meter, ditambah 800 meter untuk naik dan turun. Sehingga totalnya 5,1 km yang akan dibangun.
“Nilai investasi lebih dari Rp2 triliun. Menggunakan desain kantilever (double decker) yang merupakan teknologi pertama di Indonesia,” jelasnya.
Dia menambahkan, setelah ground breaking, butuh sekitar enam bulan masa persiapan menuju konstruksi yang diperkirakan memakan waktu dua tahun. (rhm/rus)
”Pak Menteri, Boleh tidak Jalan Tol Ditambah Lagi”
×

