pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Menanti Kiprah SYL di Kancah DPP Golkar

MAKASSAR, BKM — Bintang politik mantan Ketua DPD Golkar Sulsel Syahrul Yasin Limpo (SYL) belum dapat dipastikan pudar. Salah satu indikasinya, ia kembali aktif sebagai kader Partai Golkar di acara Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) yang digelar di Jakarta, Selasa (19/12) malam.
Menyusul kiprahnya ini, gubernur Sulsel dua periode itupun digadang-gadang masuk dalam jajaran pengurus inti di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar di bawah kendali Ketua Umum Airlangga Hartarto.
Peluang SYL cukup terbuka. Apalagi jika Airlangga ditetapkan sebagai formatur tunggal untuk menyusun komposisi kepengurusan di DPP.
Kalaupun forum munaslub menetapkan tim formatur ganjil, maka peluang SYL yang juga ketua Asosiasi Pemerintah Provionsi Seluruh Indonesia ini juga tetap terbuka. Mengingat hampir semua ketua DPD I Golkar di Indonesia mengenal dengan baik prestasi SYL. Baik ketika menjabat ketua Golkar, maupun jabatan lainnya, seperti ketua Kosgoro Sulsel.
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Golkar Gowa Hoist Bactiar yang dimintai tanggapannya, mengaku peluang SYL tetap ada. Namun tentu akan bersaing dengan para tokoh Golkar yang selama ini beraktifitas di Jakarta.
“Jika Ketua Umum Terpilih Airlanggga Hartarto menjadi formatur tunggal, bisa jadi langkah Pak SYL masuk pengurus inti agar berat,” ujar Hoist, yang juga legislator Golkar Sulsel empat periode.
Tak hanya SYL yang berpeluang menempati posisi strategis di DPP Golkar. Anggota DPR RI Ibnu Munzir juga sangat berpeluang menjadi sekretaris jenderal (sekjen) menggantikan Idrus Marham.
Para peserta munaslub juga banyak yang memperkirakan jika Emon –panggilan akrab Ibnu Munzir– sangat tepat menduduki posisi orang kedua di DPP Golkar.
Emon yang dimintai tanggapannya mengaku menyerahkan sepenuhnya kepada forum munaslub. “Kita silakan saja. Kita ikuti aturan dan mekanismenya, bahwa nanti apabila formatur memberikan kepecayaan kepada ketua umum yang terpilih di munaslub untuk menyusun struktur kepengurusan di DPP,” ujar Emon, Selasa (19/12).
Emon kembali duduk di DPR RI setelah melalui proses PAW dari Enny Anggraeni Anwar yang mundur dari Senayan, karena maju di pilgub Sulbar 2015 lalu.
Sekjen DPP Golkar Idrus Marham yang dimintai tanggpannya soal peluang SYL dan Emon masuk dalam struktur inti di DPP Golkar, mengaku tidak mengetahuinya. “Kalau soal itu, saya tidak tahu,” ujar Idrus.
Idrus juga tidak tahu apa posisi yang pas buat SYL. “Saya juga tak tahu soal itu dinda,” ucapnya.
Terkait peluang SYL masuk dalam struktur inti pengurus DPP Golkar, ditanggapi dosen politik Unibos Dr Arief Wicaksono. “Saya melihat kans Pak SYL untuk masuk pengurus DPP cukup besar. Cuma memang, Airlangga sendiri juga masih harus mengamankan dirinya dulu, karena masih ada faksi Priyo Budi Santoso dan Titiek Soeharto yang nampaknya menunjukkan tanda-tanda bermanuver,” ujar Arief, Selasa (19/12).
Dosen politik UIN Alauddin Dr Firdaus Muhammad juga memprediksi jika peluang SYL tetap terbuka. “SYL memiliki peluang besar masuk DPP. Apalagi memiliki kedekatan dengan Airlangga dan kontribusinya mebesarkan Golkar di Sulsel selama ini,” jelas Firdaus.
Hal berbeda dilontarkan dosen politik Unismuh Makassar Dr Luhur A Prianto. Menurutnya, Golkar sekarang mengalami situasi transisi kepemimpinan baru. Pemimpin baru perlu energi yang kuat untuk mengembalikan citra institusi Golkar.
Secara politis, Ketum Airlangga hartarto yang anggota kabinet, tetap bawahan Jokowi. Rivalitas internal juga tetap sengit.
Terpilihnya Airlangga Hartarto, membuat faksi-faksi internal saling berebut pengaruh. Ada beberapa tokoh besar di “panggung belakang” pertarungan itu.
“Posisi SYL sendiri, meskipun secara personal memiliki kedekatan dengan Ketum Airlangga Hartarto. Tetapi untuk dapat posisi strategis di DPP, SYL harus diendorse oleh faksi dan tokoh yang tepat,” ujar Luhur.
Soal kompetensi, tambahnya, tentu tidak ada lagi yang ragukan SYL. Tapi politik kadang-kadang juga permainan kelompok, dan sering berlaku prinsip “the winner takes all”.
“Justru kalau terlalu mengandalkan ketokohan pribadi atau personal mastery, bisa tertolak di ruang politik yang abu-abu,” pungkasnya. (rif)




×


Menanti Kiprah SYL di Kancah DPP Golkar

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar