PENGALAMAN adalah harta yang amat sangat berharga. Dengannya, orang akan banyak memulai cerita. Sesuatua yang telah dialami namun orang lain belum melaluinya. Hal itu tentu bisa menjadi sebuah kekayaan akan pengetahuan.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
TAK banyak orang yang bersedia mengajar di tempat terpencil. Apalagi jika pengajaran yang dilakoninya bukanlah sebuah pekerjaan. Melainkan sebuah pengabdian. Tentu orang-orang yang memiliki jiwa besar akan kepedulianlah yang bisa menempuhnya.
Sebuah program bernama “Indonesia Mengajar” memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk mengecap pengalaman tak terkira. Mengajar di berbagai pelosok desa merupakan sebuah tantangan yang berbeda. Bukan untuk tujuan pribadi, namun untuk kepentingan anak-anak bangsa yang masih kesulitan dalam mengenyam pendidikan.
Mujahid Zulfadli Aulia Rahman menjadi salah seorang yang terpilih dalam program tersebut. Fadli –begitu ia biasa disapa– bersedia berbagi pengalaman yang didapatkannya.
Orangnya ramah, penuh senyum, dan sangat kritis terhadap isu sosial. Kekritisannya itulah salah satu yang membuatnya berani mengabdi ke pelosok negeri.
Pria dengan rambut agak bergelombang ini lahir di Ujung Pandang, 25 Juni 1989. Ia anak pertama lima bersaudara dari pasangan Ambo Tang Rahman dan Minatang. Saat ini bermukim di Minasa Upa, Makassar.
Kabupaten Fakfak, Papua Barat pernah dijejakinya dengan tujuan mengabdi. Untuk sampai di wilayah perbukitan itu, perjalanan ditempuh selama dua hingga lima jam dari kota dengan menggunakan angkutan kota ataupun truk. Namun, untuk ke lokasi pengabdian Fadli, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Listrik di daerah ini hanya didukung oleh generator dengan jumlah terbatas. Masing-masing keluarga pun hanya bisa menikmatinya pada pukul 19.00 sampai 00.00.
Jaringan telepon tak ada sama sekali. Apalagi internet. Sungguh merupakan kondisi yang amat kontras dengan tempat kelahiran Fadli.
Jika semua itu menjadi beban, pastinya tak ada orang yang mau bersusah payah mengabdi di sana. Namun Fadli berbeda. Tujuannya ke sana sangatlah jelas. Mengabdi dan membagikan sedikit kebahagiaan kepada anak-anak pelosok, menjadi modal awalnya untuk berangkat.
Selama setahun ia mengajar di SD YPK Pikpik, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Tepatnya pada rentang 14 Juni 2014 hingga 1 Juli 2015. Pengalamannya setelah kembali dari tempat itu tentu sangatlah banyak.
Ada satu momen yang membantunya melihat Indonesia dari sudut pandang berbeda. Yaitu ketika dia mengikuti Sekolah Hak Azasi Manusia (SeHAMa) Mahasiswa Angkatan IV Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) pada 2012. Pada tahun 2013 ia juga terpilih mengikuti Sekolah Anti Korupsi (SAKTI) Indonesia Corruption Watch (ICW) angkatan pertama.
Pengalamannya mengikuti berbagai kegiatan sosial dan kegiatan kepemudaan sebelum ke Fakfak ternyata sangat banyak. Terhitung, ia juga turut terlibat dalam kegiatan kepemudaan Global Peace Volunteer (GPV) Global Peace Youth Corps dan Forum Indonesia Muda. Awal Januari 2014, ia pernah menggagas Komunitas Blogger Kampus. Komunitas ini adalah sebuah melting pot bersama yang menggiatkan aktivitas literasi kampus di Makassar. (*/rus/b)

