MAKASSAR, BKM — Personel Detasemen Khusus (Densus) 88 mendatangi ruang kerja Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Selasa (16/1). Kehadiran beberapa anggota Densus ini itu untuk melengkapi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) terkait kasus bom pilgub yang terjadi 2012 salam, saat Syahrul menggelar kampanye pemilihan gubernur (pilgub).
Personel keamanan elit yang berjumlah sekitar enam orang tersebut meminta keterangan Syahrul terkait peristiwa peledakan bom itu.
Gubernur mengaku dirinya ditanya seputar apa yang dilakukannya saat ada aksi teror.
“Saya jelaskan waktu itu saya sedang berpidato di depan sekitar 200 ribu orang,” ungkap Syahrul di kantor Gubernur Sulsel, kemarin.
Setelah diketahui ada bom yang berusaha diledakkan di tengah kerumunan orang, Syahrul tidak panik. Malah meminta warga yang ada di sekitar lokasi untuk membaca Al Fatihah.
“Dan bom itu termasuk high explossif. Sebelum sampai di tanah, meledak di udara. Jadi saya jelaskan ke pihak Densus apa yang saya ketahui saat itu,” jelasnya.
Sementara itu, salah seorang perwakilan Densus 88 yang enggan disebut namanya, memberi penjelasan kepada wartawan. Kata dia, saat ini ada satu pelaku pelemparan bom saat pilgub bernama Bakri alias Buroncong yang tertangkap. Ia berperan sebagai perakit bom yang digunakan Awaluddin dan Judin.
Dijelaskan oleh Densus, hasil dari puslabfor menyebutkan, jika bom tersebut meledak di lokasi saat itu, akan mengakibatkan kerusakan benda yang ada di sekitarnya.
Syahrul memang menjadi target kelompok-kelompok radikal yang memanfaatkan situasi untuk mencapai tujuan yang mereka impikan.
Dia menambahkan, selama ini, Densus dianggap jadi penghalang para pelaku teror untuk melakukan aksinya. Mereka menganggap bahwa Densus adalah musuh paling terbesar. Padahal, Densus bekerja bukan pesanan orang. Melainkan untuk menjaga keamanan dan ketertiban wilayah di seluruh Indonesia.
Kepada masyarakat, diminta untuk mewaspadai terjadinya aksi-aksi terorisme yang bisa saja muncul di tengah proses perhelatan politik alias pilkada. Seluruh aparat penegak hukum hendaknya bersatu padu dalam mengamankan pilkada di satu tempat, khususnya di Makassar.
Menurutnya, Sulsel menjadi titik tolak bagi para kaum radikal karena bibitnya tumbuh di daerah ini. Jadi, Sulsel masuk zona yang butuh perhatian khusus. Sebab banyak tokoh radikal yang menjadikan Sulsel sebagai wilayah untuk rekruitmen. Termasuk sebagai tempat latihan militer.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulsel Asmanto Baso Lewa, menjelaskan Sulsel adalah salah satu barometer situasi keamanan secara nasional. Selain Jakarta dan Bali, daerah ini yang harus diperhatikan.
“Bahkan terakhir, di Polsek Bontoala menjadi sinyal bagi kita bahwa persoalan radikalisme di Indonesia, khususnya di Sulsel harus mendapat perhatian serius oleh kita,” ungkapnya.
Meskipun Sulsel menjadi salah satu dari lima provinsi di Indonesia yang masuk zona merah pilkada, namun dia berharap tahun 2018 mendatang, bisa berubah menjadi zona hijau.
“Kita mampu mengubah itu. Kita adalah satu-satunya penyelenggra pemilu yang mendapat prestasi nasional. Dan itu yang ingin kita capai lagi di 2018,” pungkasnya. (rhm/)
Waspada, Tokoh Radikal Jadikan Sulsel Tempat Rekruitmen
×

