MAKASSAR, BKM — Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei baru saja berlalu. Namun, kisah miris kembali datang dari dunia pendidikan di Kota Makassar.
Tiga sekolah yang berada dalam satu kompleks di Jalan Pajjaiang, Kelurahan Sudiang Raya, Kecamatan Biringkanaya tiba-tiba saja disegel, Kamis pagi (4/5). Masing-masing SD Negeri Pajjaiang, SD Inpres I Pajjaiang dan SD Inpres Pajjaiang II.
Penyegelan dilakukan dengan cara menutup pintu gerbang sekolah lalu dikunci menggunakan rantai besi berukuran besar. Ada dua pintu gerbang di kompleks sekolah ini. Masing-masing di sebelah kiri dan kanan.
Di pintu gerbang yang terbuat dari besi itu kemudian dipasangi spanduk berukuran besar pula. Salah satunya yang terbuat dari tripleks ditulis warna merah; Sekolah ini ditutup. Akan dibuka setelah ada ganti rugi lahan.
Sedangkan di pintu gerbang satunya lagi, spanduk kain berwarna kuning bertuliskan merah pula. Bunyinya; Pemberitahuan. Untuk sementara proses belajar di dalam sekolah SD dinonaktifkan, berhubung lahan yang ditempati pembangunan sekolah belum ada ganti rugi dari pihak pemerintah. Di bawah kanan spanduk besar berwarna kuning itu tertera; Ahli Waris H Badjida.
Akibat penyegelan ini, sedikitnya 1.500-an murid SD telantar. Mereka yang mengenakan seragam batik dan pakaian olahraga telah datang sejak pagi hari untuk menimba ilmu. Namun apa daya, tujuan untuk belajar akhirnya kandas pagi itu.
Banyak yang kaget atas situsasi ini. Ada diantaranya yang menangis. Utamanya murid perempuan. Sebagian lagi mencoba menggugah perasaan dengan kalimat-kalimatnya.
”Buka pagar sekolah. Kami mau masuk sekolah,” kata beberapa murid dengan suara lirih, hampir bersamaan.
Ibu dan bapak guru kemudian mencoba menenangkan anak didiknya. Ketika matahari sudah mulai meninggi, murid-murid itu lalu duduk-duduk di pinggir jalan depan sekolahnya.
Tidak lama berselang, sejumlah personel kepolisian dari Polsek Biringkanaya tiba di lokasi. Bersama pihak sekolah, polisi mencoba mencari solusi masalah ini.
Kira-kira pukul 10.00 Wita, disepakati untuk dilakukan pertemuan dengan pihak yang mengklaim sebagai ahli waris. Pertemuan berlangsung di rumah Burhanuddin, salah seorang putra almarhum H Badjida. Lokasinya masih di Jalan Pajjaiang, tak jauh dari sekolah yang disegel. Hadir pihak sekolah, kelurahan serta kepolisian.
Kepala SD Inpres I Pajjaiang Bustam yang ditemui usai pertemuan, mengatakan murid-muridnya tak bisa mengikuti proses belajar mengajar di dalam kelas, karena sekolah disegel oleh pihak yang mengklaim sebagai ahli waris.
”Hari ini (kemarin), anak-anak kita beri pelajaran di luar sekolah. Tapi tidak lama. Karena banyak yang berteriak-teriak mau sekolah. Mau masuk ke dalam kelas,” ujar Bustam.
Bustam menjelaskan hasil pertemuan. Burhanuddin selaku perwakilan ahli waris, mengatakan bahwa pihaknya sudah dua tahun terakhir menyampaikan persoalan ini ke Pemkot Makassar. Hanya saja tak pernah digubris.
”Dia mengaku sudah pernah melarang untuk menggunakan sekolah tersebut. Namun, penyegelan baru dilakukan pada Rabu malam (3/5) pukul 21.00 Wita. Alasannya, meski lokasi tersebut diklaim sudah diwakafkan, tapi tidak ada hitam di atas putih,” terang Bustam.
Aksi penyegelan ini membuat resah Bustam dan guru lainnya. Karena dua minggu lagi murid-muridnya akan melaksanakaan ujian nasional.
”Ini yang kita cemaskan, karena anak-anak mau ujian. Jangan sampai persoalannya berlarut-larut. UPTD sudah usahakan agar ada solusi yang didapatkan. Kalau tidak, kita terpaksa cari tempat yang lain untuk anak-anak ujian,” tandasnya.
Kepala SD Negeri Pajjaiang Hj Intan, mengatakan seharusnya jika memang ada persoalan terkait lokasi sekolah, janganlah murid yang dikorbankan. ”Kasihan kan. Apalagi diantara murid di sekolah ini, ada juga anaknya (ahli waris H Badjida). Masa’ sampai disegel begini,” cetusnya.
Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto sangat menyayangkan penyegelan oleh pihak yang mengklaim sebagai ahli waris untuk meminta pembayaran ganti rugi. Mestinya, kata dia, pihak yang mengaku sebagai ahli waris menyelesaikan masalah secara hukum. Yakni melakukan gugatan yang ditujukan ke Pemerintah Kota Makassar.
”Kita sayangkan itu. Karena seharusnya masalah ini diselesaikan secara hukum. Kalau mengaku itu lahannya dan punya bukti, gugat kami. Saya sudah minta ke camat dan Dinas Pertanahan untuk menyelesaikan itu,” kata Danny, kemarin.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanahan Kota Makassar Manai Sophian menegaskan, pemkot tidak akan melakukan pembayaran ganti rugi lahan kompleks SD Inpres Pajjaiang. Sebab lokasi tersebut telah lama terdaftar aset pemkot.
Sehingga, untuk memastikan itu benar-benar lahan milik warga, harus dibuktikan dengan melakukan gugatan dan diputuskan di pengadilan.
“Itu tanah pemerintah kota yang sudah lama dibanguni sekolah. Tiba-tiba ada orang yang mengaku sebagai tanahnya. Yang jelas, untuk membuktikan itu benar tanahnya, harus gugat pemerintah kota,” tandasnya.
Melakukan penyegelan dan meminta pembayaran ganti rugi lahan tanpa melakukan gugatan, menurut Manai, merupakan sebuah tindakan penyerobotan lahan yang sudah jelas melanggar. Karena itu, agar masalah ini dapat segera diselesaikan, pemerintah kota dalam waktu dekat akan melaporkan ke pihak berwajib. Sebab tindakan penyegelan itu dinilai telah mengganggu, serta upaya penyerobotan lahan milik Pemerintah Kota Makassar.
“Kami tidak bakal bayar kalau bukan melalui pengadilan. Gugat kami. Ini saya tinggal tunggu petunjuk dari Pak Wali. Saya mau laporkan, karena itu sudah mengganggu. Nanti saya mau laporkan upaya penyerobotan. Kasihan negara kalau begini modelnya. Sedikit-sedikit ada orang yang mengklain lahannya,” tegasnya.
Terpisah, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Makassar Muh Hasbi, berjanji akan mencarikan tempat pemampungan sementara untuk murid kompleks SD Inpres Pajjaiang. Agar mereka bisa melakukan proses belajar seperti biasa, sembari menunggu hasil dialog yang akan dilakukan bersama pihak terkait.
“Kita tunggu saja, karena ini masih mau mediasi. Kita usahakan mencari tempat penampungan sementara di sekitar sekolah,” terang Hasbi, kemarin. (ita-arf/rus)
Headline
Halaman Utama | Berita Kota Makassar
TANGGAL 2 Mei setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Ada banyak asa di tiap kali peringatan yang juga merupakan hari ulang tahun Ki Hajar Dewantara ini. Pendidikan murah dan berkualitas menjadi salah satunya.
Namun, rupanya harapan yang ditambatkan, terutama oleh kaum lemah dan miskin itu masih jauh panggang dari api. Di Sulawesi Selatan secara umum, dan Kota Makassar khususnya, masih banyak duka yang melingkupi dunia pendidikan.
Di sebuah rumah panggung yang dindingnya terbuat dari gabungan seng dan tripleks. Terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan 11.
Disinilah Harniati tinggal. Ia bukanlah siapa-siapa. Melainkan murid kelas 5 Sekolah Dasar Inpres (SDI) Pannara, Jalan Antang Raya, Kecamatan Manggala, Kota Makassar.
Kesehariannya dalam menimba ilmu, menjadi salah satu potret miris kehidupan salah satu sudut Kota Makassar. Duka begitu dominan.
Setiap hati, Hasniati yang biasa disapa Ulli ini harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk sampai di sekolahnya. Kira-kira 12 kilometer.
Sebelum di SDI Pannara, sebenarnya Hasniati bersekolah di SD Panaikang. Meski lokasinya tak terlalu dekat dari tempat tinggalnya, namun ongkos yang mesti dikeluarkan tidaklah banyak. Namun karena sekolah tersebut digusur, mau tidak mau dia pun harus pindah ke Antang.
Ulli harus berjuang sendiri untuk bisa bertahan hidup dan bersekolah. Kedua orangtuanya telah berpisah. Ayahnya Asri Muin (47) telah menikah lagi dan hidup bersama istri keduanya. Begitu pula dengan ibundanya Anna (38). Juga telah memutuskan menikah lagi dan kini menetap di Jeneponto bersama suaminya.
Sejak ditinggal kedua orangtuanya, Ulli dirawat kakeknya Bandi (62) dan neneknya Sia (58). Bandi berprofesi sebagai buruh bangunan di Kabupaten Bone. Sementara Sia biasa mencari nafkah dengan apa saja yang bisa dikerjakannya.
Sebagai pelajar dari keluarga miskin, Ulli mendapatkan bantuan siswa miskin (BSM) dari pemerintah. Besarannya Rp50 ribu per bulan.
Namun, jumlah itu jauh dari mencukupi. Ulli tak mampu membiayai kebutuhan sekolahnya. Jangankan untuk membeli buku, ongkos berangkat dan pulang sekolah saja tidak terpenuhi.
”Dulu juga jauh sekolahku. Tapi satu kaliji naik petepete. Sekarang sudah pindahmi. Harus dua kali naik petepete sama adikku. Biasa saya bayar pergi dan pulang Rp20 ribu,” tutur Ulli yang ditemui di rumahnya, Senin (1/5).
Ditanya kenapa tidak pindah saja ke sekolah yang lebih dekat? Ulli menjawab dengan polos. ”Kakekku tidak punya uang untuk pindahkan saya,” ujarnya.
Karena persoalan biaya transportasi dan sekolah, Ulli sering membolos. Apalagi, kakeknya harus membiayai sekolah cucunya yang lain.
Bukan hanya Ulli yang kini dipelihara oleh Bandi dan Sia. Ada cucu lainnya tinggal serumah dengan mereka. Ulli ada lima bersaudara. Sementara sepupunya yang lain berjumlah empat orang. Semuanya tinggal di rumah panggung yang didirikan Bandi.
”Bukan cuma saya nabiayai nenekku. Ada juga adikku dan sepupuku. Orangtuaku tidak ada di sini,” tuturnya.
Ulli lalu mengungkap sesuatu yang sebenarnya cukup berisiko dilakukan oleh seorang pelajar perempuan. Sesekali, jika uangnya tidak cukup untuk pulang, ia meminta tumpangan kepada pengendara motor yang lewat. Harapannya satu, bisa dibonceng pulang dan tiba dengan selamat di rumah. Tak ada rasa takut yang melingkupinya kala itu.
Sia, nenek Ulli menceritakan tentang pahit getirnya merawat dan menyekolahkan sang cucu. ”Setelah bapaknya menikah lagi, dia tidak pernah muncul lihat anaknya. Kalau ibunya, biasa nakunjungi anaknya dua bulan sekali dan memberikan biaya seadanya,” kata Sia.
Biasanya, tambah sang nenek, bila kakeknya tak punya uang, ia meminta Ulli untuk tidak pergi sekolah. ”Jadi tidak sekolah dulu dia kasihan kalau tidak ada uang. Karena untuk makan saja kita susah. Nanti ada lagi yang pemberian dari omnya, baru saya kasih uang untuk sekolah. Apalagi bukan cuma Ulli yang saya biaya. Tapi banyakki,” cetus Sia.
Karena keterbatasan biaya, Sia mengakui, ada beberapa cucunya yang terpaksa putus sekolah. Meski begitu, ia tetap berusaha sebiasa mungkin guna menyekolahkan cucunya yang lain setinggi kemampuannya.
”Kadang itu kodong, setelah pulang sekolah cucuku pergi membantu menjual lauk. Atau biasa bantu cuci piring atau bersihkan warung. Setelah itu baru saya kasih uang jajan,” bebernya.
Nenek Sia berharap, suatu saat nanti ada perhatian dan bantuan pemerintah untuk cucu-cucunya yang kini tengah menempuh pendidikan. Minimal, biaya sekolah hingga mereka lulus sekolah menengah atas (SMA).
Kisah yang jauh beda dilakoni Sitti Hijayanti. Ia kini duduk di bangku kelas VIII SMP Negeri 21 Makassar.
Siswi kelahiran 11 November 2003 ini dulunya hampir tidak dapat melanjutkan pendidikan selepas lulus dari SD Inpres Gunung Sari Baru. Apalagi kalau bukan karena karena keterbatasan biaya orangtuanya yang berprofesi sebagai pemulung.
“Sempat sedih pas lulus SD. Karena ikut tes takut tidak lulus di sekolah negeri. Kalau tidak lulus sekolah negeri, tidak bisa sekolah karena tidak ada biaya,” ungkap Ija, sapaan akrabnya.
Untuk ke sekolah, Ija mesti menempuh jarak dari rumah dengan sekolah kurang lebih lima sampai enam kilometer. Artinya, 12 km perjalanan harus ia tempuh setiap hari untuk bersekolah. Namun, Ija tak pernah merasa lelahnya berjalan kaki demi menimba ilmu.
“Rumah di Bangkala. Kalau mau ke sekolah, jalan pintas lewat tanggul berjalan kaki ke Jalan Karunrung kompleks Minasa Upa. Kalau ada becak motor yang dikenal, biasa minta tolong menumpang sampai jalur yang sama dengan mengarah pangkalan bentornya. Berangkat jam enam pagi. Saya usahakan harus ada disekolah jam 07.15. Jarak tempuh kurang lebih satu jam dengan berjalan kaki,” ujarnya.
Tak beda dengan Ulli, Ija mendapat bantuan biaya pendidikan melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP). Ija termasuk siswa yang berprestasi dibadingkan dengan teman kelasnya yang memiliki fasiltas.
“Satu kelas 38 siswa. Saya masuk rangking 10 besar. Dapat biaya sekolah melalui KIP Rp750 ribu per semester. Diterima di Bank BRI. Biasanya dipakai untuk beli perlengkapan sekolah. Biasa saya diberi juga uang jajan Rp 2.000 atau Rp3.000, tapi jarang saya belanjakan. Karena sebelum sekolah saya sarapan,” jelas Ija
Sebagai siswa Ija sering mendapat tugas kelompok yang harus dikerjakan bersama teman-temannya, bila dirinya mendapat tugas kelompok, Ija harus berpikir dulu untuk mengikuti tugas kelompok yang dikerjakan di rumah temannya. Karena dia harus membantu
orang tuanya membersihkan dan memilah hasil memulung.
“Bantu-bantu orang tua. Kalau libur biasa ikut memulung,” kata Ija.
(ita-jun/rus)

