MAKASSAR, BKM — Aneka rupa kegiatan mewarnai Hari Kartini yang diperingati, Jumat (21/4). Manajemen hotel yang ada di Makassar menandainya dengan ramai-ramai menggelar promo.
Sementara di instansi pemerintah, para pegawai mengenakan batik serta kebaya. Ada pula yang melaksanakan sosialisasi antikorupsi sambil nonton Film Kartini.
Swiss Belhotel yang berlokasi di Jalan Ujung Pandang menawarkan paket Sunset Berbacue di The Terrace (Lobby Level). ”Diskon 50 persen diberikan kepada pengunjung yang menggunakan batik, dari pukul 18.00 hingga 23.00 Wita, Jumat (21/4),” kata Tita, Public Relation Swiss Belhotel, kemarin.
Pesonna Hotel juga tampil beda dari hari biasanya. Mulai dari staf dan karyawan yang mengenakan kebaya serta batik. Juga memberikan potongan harga kamar dan diskon untuk makan minum di Pesonna Coffe Shop.
Hal yang tak jauh berbeda tampak di Aston Hotel. Para staf memakai kebaya khusus. Para tamu perempuan mendapat perlakuan khusus.
Promo spesial diskon 50 persen juga dihadirkan. Program ini diperuntukkan bagi perempuan yang menginap di kamar Executive Suite selama bulan April. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati promo diskon 21 persen untuk setiap konsumsi food di Aston Makassar.
“Berbagai promo spesial ini sengaja dihadirkan khusus untuk mengapresiasi perempuan, agar di hari special ini setiap perempuan di Kota Makassar dapat mengapresiasi diri mereka,” ungkap Astuti, PR Aston Hotel.
Selain hotel, diler kendaraan roda dua juga menggelar promo untuk pelanggan wanita. Gratis servis dan softdrink berlaku hari ini, Sabtu (22/4).
Dosen perempuan Kopertis IX Sulawesi yang tergabung dalam Unit Pengembangan dan Pemberdayaan Perempuan Kopertis IX (UP3K) Sulawesi, juga bersepakat berbuasana kebaya di Hari Kartini.
Para dosen yang berkarier di perguruan tinggi swasta di Sulsel dan Sulbar ini, melakukan pertemuan pada salah satu rumah makan. Selain menggelar arisan bulanan, juga sekaligus membicarakan beberapa program kerja yang akan direalisasikan di masa mendatang.
Komunitas para dosen perempuan Kopertis IX, selain secara rutin menjalin silaturrahmi juga membagi informasi dan pengetahuan terkait dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi di kampus tempat mengabdi.
Di Hari Kartini pula, Solidaritas Perempuan Anti Korupsi (SPAK) mengadakan sosialisasi pencegahan antikorupsi. Kegiatan ini berlangsung di Studio XXI Mall Panakukang, Jumat (21/4).
Ada tiga sub tema sebagaia rangkaian acara. Pertama dimulai dengan melakukan permainan bersama anak-anak dan para remaja perempuan. Permainannya terbagi menjadi dua.
Majo junior dikhususkan untuk para pelajar SMP dan SMA. Sedangkan Semai dikhususkan bagi murid SD.
Untuk semai, permainannya bukan pada mangajarkan tentang pencegahan korupsi. Namun lebih kepada nilai-nilai integritas yang meliputi kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab.
Koordinator SPAK Indonesia Timur, Ema Husain mengatakan setelah melakukan permainan, diadakan nonton bersama film Kartini oleh 171 orang. Peserta dari organisasi masyarakat sipil. Tokoh perempuan partai politik. Agen SPAK dari Parepare, Maros, Enrekang, Sidrap dan Gowa.
”Setelah nonton bersama, barulah akan dilakukan diskusi bersama membahas tidakan pencegahan kotupsi. Kita situasikan saja nanti diskusinya, apakah langsung setelah nonton, atau kita lanjutkan di tempat lain,” kata Ema.
Kadis Pemuda dan Olahraga Sulsel Sri Endang Sukarsih yang juga hadir, mengapresiasi kegiatan ini. ”Ini akan menjadi kegiatan yang sangat positif untuk pencegahan korupsi bagi perempuan,” kata Sri Endang. (jun-nug/rus/c)
SUAMINYA sakit-sakitan hingga sudah tak bisa lagi bekerja. Tiga orang anaknya harus ia cukupi kebutuhannya. Uang halal, satu-satu alasan dirinya menjadi pengemudi becak motor (bentor).
Namanya Bariah. Kulitnya agak hitam karena seringnya terpapar sinar matahari. Selalu mengenakan sarung tangan dan pakaiannya agak lusuh, namun tetap terlihat sangat ‘bercahaya’. Karena tidaklah mudah mendapati seorang wanita melakoni pekerjaan ini.
Dia seorang istri, ibu, bahkan bisa dikatakan kepala keluarga. Bagaimana tidak, sehari-harinya ia harus melayani suaminya. Menghidangkan makanan bagi anak-anaknya, sampai mencari nafkah. Suaminya sudah dua tahun ini sakit-sakitan hingga tidak bisa bekerja. Anaknya tiga. Yang pertama seorang wanita usia 20 tahun, Yang kedua umur 7 tahun. Dan ketiga berumur 6 tahun.
Bariah berujar, selama ini ia harus mencari nafkah sendiri karena suaminya mengalami komplikasi penyakit. Ia tidak tahu jelas penyakit apa yang diderita suaminya, karena tidak punya cukup biaya untuk berobat secara rutin.
Anak pertama Bariah sebenarnya telah menikah. Namun, suami anaknya itu belum memiliki pekerjaan tetap sehingga masih ditanggung oleh dirinya.
“Pernahji berobat suamiku. Macam-macam penyakitnya. Ndak tau apa semua. Suaminya anakku ndak tetappi kerjanya. Jadi masih sayaji yang biayai itu anakku yang pertama,” tutur Bariah saat ditemui di kawasan Pasar Toddopuli, Makassar, kemarin.
Wanita 45 tahun ini, dari pagi hingga sore hari mengendarai bentornya dengan penuh keyakinan mencari nafkah. Tak kenal lelah, dan terkadang harus menanggung malu. Niatnya mulia. Tak ingin ia, suami dan anak-anaknya mendapatkan uang dari cara yang salah.
Kerap kali tetangga Bariah mengatakan pekerjaannya saat ini memalukan. Apalagi Bariah seorang wanita. Namun apa boleh buat, Bariah mengatakan jika inilah pekerjaan terbaik yang bisa dilakukan oleh orang yang bahkan tidak lulus SD seperti dirinya.
“Kadang nabilangika tetanggaku, ndak malu-maluko itu. Tapi maumi diapa. Daripada saya minta-minta, mencuri, atau jual diri, lebih baik begini,” cetusnya.
Subuh hari Bariah harus bangun untuk memasak makanan bagi anak dan suaminya. Setelah masakan dihidangkan, ia melanjutkan aktifitasnya sebagai istri dengan menyapu, sampai mencuci baju dan perabot rumah tangga. Tak jarang Bariah merasa sedih kala melihat keluarganya makan dengan makanan yang seadanya.
Pagi sekitar pukul 7, ia harus berangkat dari rumahnya di Jalan Meranti 2 untuk mengantar dua anaknya yang masih sekolah. Ia menggunakan bentor miliknya sampai di sekolah anaknya, di SD Panyikokang.
Dari sekolahan anaknya, ia langsung berangkat menuju Pasar Toddopuli. Di pasar inilah sehari-harinya Bariah mamangkalkan bentornya untuk mengais rezeki.
Saat menjadi sopir bentor, Bariah sebenarnya merasa senang. Sebab sebelum menjadi sopir bentor, dirinya dulu adalah seorang pemulung. Ia kerap memulung di sekitar Jalan Pengayoman dan Adhyaksa sejak tahun 1995. Barulah dalam tiga tahun terakhir ia menjadi sopir bentor. “Saya senangji seperti ini. Daripada kayak dulu jadi pemulung,” katanya.
Meski begitu, ada banyak kejadian yang tidak mengenakkan hatinya selama menjadi sopir bentor. Saling rebut penumpang menjadi hal yang sangat biasa baginya. Bahkan biasa ia mendapatkan pukulan dari sesama sopir bentor yang notabene pria.
“Biasami saya kalau selalu dituduh rebut penumpang. Sering sekali juga biasa mau dipukul. Tapi saya selalu kasih tahu sama semua pabentor disini. Kalau di rumah saya permpuan, tapi disini saya laki-laki. Jadi jangan anggap remeh walaupun saya perempuan,” serunya.
Selain itu, Bariah juga pernah ditipu oleh penumpangnya. Pernah suatu hari ia mengantar penumpang wanita dari Pasar Toddopuli sampai Pasar Butung. Sampai di lokasi yang dituju, si penumpang wanita tersebut beralasan mau mengambil barang di dalam pasar, dan akan segera kembali.
Penumpang wanita tersebut lantas meminjam uang Bariah terlebih dulu karena mengatakan tidak memiliki uang kecil. Dengan rasa percaya yang tinggi kepada si penumpang, Bariah meminjamkannya.
Setelah ditunggu cukup lama, penumpang wanita tersebut tidak kunjung datang. Bahkan Bariah sempat tertidur di bentornya. Bariahpun menanyakan kepada satpam yang bertugas di Pasar tersebut mengenai ciri-ciri penumpangnya. Namun satpam itu justru menyarankan Bariah untuk pulang karena menganggap Bariah telah ditipu. Dengan perasaan yang sangat sedih ketika itu, Bariah pun meninggalkan Pasar Butung.
Atas kejadian itu, Bariah berharap tidak lagi mengalaminya. Ia belajar banyak dari hal yang sangat merugikan dirinya tersebut.
Sebelum adzan Maghrib terdengar, Bariah harus kembali ke rumahnya. Tugas seorang ibu telah menantinya. Dengan membeli bahan makanan dari Pasar Toddopuli, ia kembali harus memasak dan menghidangkan makanan untuk suami serta anak-anaknya.
Dari hasil manarik bentor, tidak banyak yang ia dapat. Jika lagi musim ramai seperti hari libur, ia sangat bersyukur bisa mendapatkan uang Rp100 ribu. Namun jika hari biasa, ia hanya mendapat Rp40 ribu per hari.
“Biasa Rp40 ribuji. Tapi ndak apa-apaji. Yang penting ada untuk beli beras,” ujarnya.
Dengan pekerjaannya saat ini, banyak harapan yang digantungkan oleh Bariah. Salah satunya adalah ingin melihat anak-anaknya bisa kuliah dan kelak bisa menjadi orang sukses.
Harapan terbesarnya adalah Bariah ingin sekali melakukan ibadah haji. “Kalau ada uang, saya mau anakku bisa sarjana kayak orang lain. Saya juga mau sekali kodong ke tanah suci,” tuturnya penuh harap. (nug/rus/b)
LAIN profesi lain pula risikonya. Jauh dari keluarga merupakan konsewensi tersendiri yang harus diterima Harnanensi,SH,MH. Profesinya saat ini adalah sipir sekaligus Kepala Peraturan Penjagaan Lembaga Pemasyarakatan (Ka PPLP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wanita Kelas IIA Bollangi, Kabupaten Gowa.
Ibu tiga orang anak ini sebenarnya bertempat tinggal di Makassar. Tepatnya di belakang rutan. Suaminya bekerja Lapas Makassar.
Namun, sejak mendapatkan tugas dan amanah di lapas wanita Bollangi, iapun harus tinggal di perumahan lapas yang telah disediakan. Berkumpul bersama suami dan anak-anaknya menjadi hal yang jarang dilakukan Harnanensi. Diapun harus pandai-pandai mengatur waktu untuk bertemu.
”Kerja di lapas itu tidak mengenal waktu. Apalagi dengan tanggung jawab sebagai sipir sekaligus PPLP. Harus bekerja secara profesioal,” tuturnya ketika ditemui di tempat kerjanya, kemarin.
Tinggal di lingkungan lapas, menjadikan urusannya sebagai ibu rumah tangga harus terbagi. ”Untuk bertemu keluarga saya bisa-bisakan saja. Harus pandai-pandai lihat situasi. Kalau dianggap aman dan situasi kondusif, saya minta izin ke pimpinan untuk keluar sebentar,” ujarnya.
Saat tiba di kediamannya di Makassar, Harnanensi fokus dengan urusan rumah. “Urusan rumah betul-betul rumah. Begitu juga juga sebaliknya. Pekerjaan tidak saya bawa ke rumah. Memang untuk keluarga,” terangnya.
Sebagai seorang istri, Harnanensi berusaha mengimbangi kepentingan keluarga dan karir. Waktu untuk anak-anak tidak pernah terlupakan. Ketika mereka membutuhkan kehadiran sosok ibu, sang anak dibawa ikut ke kantor. Dia tak pernah menggunakan jasa asisten rumah tangga hingga anak terakhir.
Sebagai seorang ibu, ia merasa terbantu dengan alat komunikasi handphone. Dengan HP, Harnanensi bisa berhubungan dan mengetahui kabar sanak keluarga.
Hanya saja, dia mengakui jika waktu untuk keluarga banyak yang dikorbankan. ”Contohnya, saya ada arisan keluarga besar Soppeng. Selama terbentuk, saya baru dua kali hadir sampai arisan sudah mau berakhir,” jelasnya.
Untuk bisa keluar dari lingkungan lapas, menurut Harnanensi, harus ada urusan kantor. Termasuk pertemuan organisasi. Karena suaminya juga bekerja di Lapas Makassar. Serta pertemuan dengan ibu-ibu pengurus Dharma Wanita Lapas. Dalam kepengurusan ini, Harnanensi diberi amanah sebagai bendahara.
”Kalau tidak bisa dilaksanakan semua, saya komunikasi dengan ibu ketua (Dharma Wanita). Setiap ada kegiatan saya selalu koordinasi. Disini saya diwajibkan untuk terus ada. Ketika anak-anak dan suami ingin bertemu saya, siapa yang sempat itu yang mengunjungi,” terangnya.
Sebagai kepala PPLP, tanggung jawab pembinaan juga melekat pada diri Harnanensi. Bersama 22 petugas lapas lainnya, ia harus memberi perhatian kepada kurang lebih 200 warga binaan. Pendekatan khusus pun dilakukannya.
”Penghuni lapas ini kan orang yang bermasalah dengan hukum. Punya bermacam-macam karakter. Kerap berkelahi dengan satu kamarnya. Untuk pembinaannya, saya mengupayakan tidak menggunakan kekerasan. Saya selalu menerapkan bagaimana ada saling menghargai diantara mereka,” jelasnya.
Jika ada yang bermasalah saat dalam proses pembinaan, tambah Harnanensi, biasanya dibawa ke masjid. Selanjutnya diberi siraman rohani. Mereka juga diikutkan dalam kegiatan olahraga, mengaji, menjahit dan membuat berbagai kerajinan tangan. ”Memang dibutuhkan kesabaran untuk menghadapinya,” ujarnya. (jun/rus/b)
GOWA, BKM — Aparat Polda Sulsel berhasil mengungkap kasus pengoplosan dan pemalsuan pupuk di Kabupaten Gowa. Pupuk yang dihasilkan dari tempat ini telah beredar di Sulsel.
Pascapengungkapan kasus itu, penyidik polda melanjutkan dengan menyegel sebuah pabrik pupuk oplosan yang berada di Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa tersebut. Rabu (19/4), tim polda melakukan penggeledahan sekaligus penyelidikan terkait keberadaan pabrik yang menyimpan ratusan ton pupuk oplosan jenis Popro dan Super Kompos itu.
Polisi juga akan menyidik pemilik agen penyalur UD Harapan Tani, yakni, Sampara Dg Lalang yang mengaku memperoleh pupuk tersebut dari produsen bernama Muhammad Basri.
“Polisi telah menyegel pabrik tersebut untuk kepentingan penyelidikan dan pengembangan,” kata Wakapolda Sulsel Brigjen Pol Gatot Eddy Pramono dalam keterangan persnya di Mapolres Gowa, kemarin.
Saat ini kata dia, pihak kepolisian sementara melakukan pemeriksaan terhadap pupuk oplosan atau palsu itu di laboratorium pertanian Provinsi Sulawesi Selatan. “Kita lewati dulu prosedur. Masih proses penyelidikan, lanjut penyidikan baru kita tetapkan pelaku itu sebagai tersangka,” kata Wakapolda.
Dugaan pembuatan pupuk dan pengoplosan tersebut, katanya, akan dikenakan Pasal 60 ayat (1) huruf (F) jo Pasal 37 ayat (1) UU RI No 12 Tahun 1992. “Ini juga merupakan pelanggaran perlindungan konsumen. Pelaku terancam kurungan lima tahun penjara, dengan denda Rp5 miliar,” katanya lagi.
Pupuk oplosan ini dikemas dalam bungkusan plastik dengan berat setiap kemasan 1 kg. Kemudian dijual seharga Rp2.700 per kg. Sementara merek Super Kompos dijual Rp1.600 per kg.
“Kedua jenis pupuk oplosan ini sangat merugikan petani, karena kandungan mineralnya tidak sesuai dengan komposisi ataupun mutunya,” tegas Wakapolda.
Kepala Seksi Pupuk dan Pestisida Dinas Ketahanan Pangan dan Holtikultura Provinsi Sulsel Uvan Shagir, mengatakan pupuk palsu ini sama sekali tidak memberi manfaat apa-apa bagi tanaman. Bahkan cenderung menurunkan produksi panen, baik padi maupun jagung.
Uvan menambahkan pemilik tokoh selaku agen penyalur maupun pengeplos tidak pernah melaporkan perpanjangan izin usahanya. Padahal seharusnya harus dilaporkan satu kali dalam lima tahun. “Ini sudah 11 tahun tidak dilaporkan,” ujarnya. (sar/rus)
MAKASSAR, BKM — Siang pukul 12.30 Wita di Warung Kopi (Warkop) Dottoro, Jalan Satando, Selasa (18/4). Para pengunjung tengah menikmati makanan dan minuman kesukaannya masing-masing. Mereka sambil bercengkerama satu sama lain.
Tiba-tiba datang beberapa orang anggota Polisi Militer TNI Angkatan Laut (POM AL). Kira-kira berjumlah 10 orang. Mereka menggunakan mobil. Berpakaian seragam lengkap. Ada juga yang mengenakan songkok haji warna putih.
Ketika turun dari kendaraannya, mereka langsung beraksi. Melarang para pengunjung warkop untuk memarkir kendaraan di sepanjang Jalan Satando depan Warkop Dottoro. Bahkan mengancam akan mengempeskan ban mobil jika tak segera dipindahkan dari tempatnya.
Melihat kedatangan oknum POM AL dan mendengar ancamannya, pengunjung warkop kemudian bergegas keluar. Termasuk diantaranya Salim Mamma, Wakil Ketua PWI Sulsel yang juga mantan Direktur Utama Harian Ujungpandang Ekspres.
Ada pula Muhammad Said dan istrinya. Pasangan suami istri ini adalah orang tua dari anggota DPRD Kota Makassar Saharuddin Said.
Mereka menuju ke mobilnya masing-masing untuk segera memindahkannya. Namun, ada diantara oknum POM AL yang terlihat hendak mengempeskan ban mobilnya. Salim kemudian meminta agar ban mobilnya tak dikempeskan, karena hendak dipindahkan.
Tapi, tiba-tiba ada oknum POM AL yang marah-marah. Adu mulut pun tak terhindarkan.
Perang kata-kata meluncur dari kedua belah kubu. Salim yang mengenakan baju kain lengan panjang warna putih, tampak sendiri menghadapi para pria berbadan besar itu.
Salim yang telah terpicu emosinya akibat kalimat pernyataan oknum POM AL, berusaha ditenangkan oleh salah seorang anggota POM AL lainnya. Ada pula seorang polisi berpakaian lengkap memintanya untuk tenang.
Mengenakan kacamata hitam dan sepatu warna senada, Salim beradu argumen dengan personel POM AL. Tiba-tiba ia diserang dan dikeroyok.
“Waktu saya keluar, ban mobilku mau dikempeskan. Saya langsung bilang, jangan dikempeskan karena saya baru mau pindahkan mobilku. Tapi ada diantara mereka yang marah-marah. Setelah sempat adu mulut, saya kemudian dikeroyok dan dipukuli,” ujar Salim yang ditemui di Rumah Sakit Akademis. Sesaat setelah kejadian, ia langsung dilarikan ke RS tersebut untuk mendapatkan perawatan medis. Ketika ditemui, Salim masih dirawat di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan luka lebam di sekitar wajah. Baju yang dikenakannya juga robek.
Dia menyebut, oknum POM AL yang melakukan pengeroyokan terhadap dirinya tidak hanya dua atau tiga orang. Tapi lebih dari itu.
Saat kejadian, Salim Mamma sempat menyampaikan bahwa dirinya seorang wartawan. Namun pengakuan itu dijawab oleh oknum POM AL; ”Itu lebih bagus.”
Salim yang merupakan adik mantan Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulsel Syahrul Mamma ini, juga mengaku sebagai keluarga jenderal. Tapi lagi-lagi penyerang mengabaikannya dengan melontarkan kalimat; ”Panggilko…panggilko…”
Bukan hanya Salim yang jadi sasaran amuk oknum POM AL. Tapi juga H Muhammad Said.
Bersama istrinya, orang tua legislator Partai Golkar Saharuddin Said itu bermaksud hendak melerai Salim yang tengah dikeroyok oknum POM AL. Namun nahas bagi Said. Ia juga jadi sasaran pemukulan. Selanjutnya dilarikan ke Rumah Sakit Siloam. Ia mengalami luka di bagian wajah. Perutanya juga keram akibat terkena pukulan.
Menyikapi tindakan beringas terhadap bapaknya, Saharuddin Said langsung bereaksi. Dia mengecam keras perlakuan oknum POM AL.
”Saya sebagai anak tidak terima tindakan pengeroyokan yang dilakukan aparat POM AL. Ini tindakan pidana,” kata Saharuddin Said, kemarin.
Ia kemudian menjelaskan kronologis kejadian yang menimpa bapaknya. ”Menurut ayah saya, sebenarnya beliau sudah meninggalkan lokasi saat Pak Salim usai dikeroyok. Dia mengantar Pak Salim ke rumah sakit dan hendak ke Polsek Ujung Tanah untuk melaporkan kejadian itu. Ayah saya kemudian kembali ke lokasi untuk mengambil mobilnya. Tapi ada dari POM AL yang berteriak dan bilang ayah saya teman Pak Salim. Akhirnya dia juga dipukul,” terang Saharuddin.
Diapun berjanji akan mengadukan kejadian ini ke POM AL. Juga menemui pangdam serta gubernur. Jalur hukum akan ditempuh pula.
”Masa’ hanya persoalan parkiran langsung main pukul. Sementara lahan parkir bukan di depan kantor mereka. Tidak bikin macet. Entah apa masalahnya,” cetusnya.
Saharuddin kemudian menceritakan, ketika masih kecil ia suka bermain di Warkop Dottoro Jalan Satando. Sejak saat itu tidak ada masalah dengan parkiran.
”Kalaupun soal parkir, kan bisa diberi pengarahan. Jangan main pukul. Beri penjelasan. Saya akan menghadap ke gubernur dan panglima. Jabatan orang yang memukul itu ada masanya. Ingat itu,” cetusnya.
Dihubungi terpisah, Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh menyayangkan peristiwa ini. Diapun menyerahkan ke Salim dan orang lain yang merasa jadi korban, untuk menempuh jalur hukum.
”Kalau seandainya saudara Salim sementara melaksanakan tugas jurnalisitiknya dan dihalang-halangi, bahkan malah dipukuli, itu sudah pelanggaran undang-undang. Lain kalau masalah pribadi,” kata Zugito, sapaan akrab Zulkifli. (ita-jun-mat/rus)
GOWA, BKM — Di sebuah rumah Desa Taeng, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Senin (17/4). Suasana duka melingkupi penghuni rumah dan warga sekitar. Pelayat tampak sesak.
Lamat-lamat terdengar suara tangisan perempuan dari dalam rumah. Di hadapannya terbujur sesosok jasad yang sudah tak bernyawa. Sesekali wanita paruh baya itu mengeluarkan suaranya yang sudah sedikit agak parau.
”Iccang… Iccang… bangun nak. Janganko pergi tinggalkanka,” ujarnya sambil air mata terus membasahi pipi.
Perempuan ini bernama Sadaeng Dg Ratang. Ia tak henti-hentinya meratapi kepergian putra kesayangannya itu.
Namanya Muh Iksan. Usianya 20 tahun. Remaja ini menemui ajal di tangan rekannya sendiri bernama Aryanto (22).
Antara keduanya masih tinggal bertetangga. Bahkan, Aryanto pernah menjadi bos Iksan saat bekerja sebagai penjaga counter HP milik Aryanto.
Peristiwa berdarah yang melibatkan keduanya berlangsung Minggu (16/4) malam. Belum ada yang mengetahui secara pasti penyebab pertikaian. Sebab hubungan keduanya selama ini berjalan nyaris tanpa ada masalah. Korban juga diketahui sudah tidak bekerja lagi di counter milik pelaku.
Hal itu dibenarkan Ani (16), adik korban. Ani mengaku belum mengetahui jelas permasalahan antara kakaknya dengan Aryanto. “Tidak terlalu jelas juga. Tapi saya dengar, karena ada yang mau bongkar itu counternya Anto (Aryanto). Tapi Anto malah menuduh Iksan, lalu memukulnya,” tutur Ani, yang matanya masih memerah pertanda baru saja menangis.
Iksan adalah anak keenam dari sembilan bersaudara. Ia tewas ditangan temannya setelah ditikam empat kali tusukan badik. Dua kali di bagian perut sebelah kiri dan kanan, serta dua kali tikaman pada bagian punggung.
Dua tusukan di bagian belakang badan Iksan baru diketahui setelah subuh, ketika jasadnya sudah disemayamkan di rumah korban. “Iye, dua tusukan di bagian belakangnya baru ditahu tadi (kemarin) subuh. Di rumahpi,” tambah Ani.
Diperoleh informasi, Aryanto merupakan pendatang di Desa Taeng. Hal itu dibenarkan Kepala Dusun Taeng Hamzah Mulia Dg Lewa.
Kata Hamzah, tersangka mengontrak sebuah rumah yang tidak jauh dari rumah korban. Jaraknya hanya sekitar 200 meter. Anto disebutkan masih tercatat sebagai mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Makassar.
Tidak lama setelah kejadian, tersangka berhasil diamankan. Kini Anto ditahan di dalam sel Polres Gowa.
Kasat Reskrim Polres Gowa AKP Darwis Akib, mengkonfirmasi jika kasus pembunuhan ini masih dalam tahap penyelidikan. ”Kita kenakan pasal 351. Tapi karena meninggal dalam perjalanan, kita sementara lidik ayat dan hukumannya,” kata Darwis.
Dijelaskan AKP Darwis, usai menikam korban, Aryanto langsung kabur melarikan diri karena dikejar warga. Dia berhasil lolos dari kejaran dengan naik perahu menyeberang sungai Jeneberang.
Sesampainya di seberang, tersangka langsung kabur ke arah markas Koramil Tamalate Makassar di Jalan Mallengkeri. Tepatnya di perbatasan Gowa-Makassar.
“Dalam pelariannya, tersangka memberikan badiknya kepada pemilik perahu. Namun oleh pemilik perahu, badiknya disimpan saja di pinggir sungai sampai akhirnya kami amankan. Badik itu sudah disita dan dijadikan barang bukti,” jelas Darwis. (sar/rus)
Penghargaan dan Sertifikat:
Copyright © 2026 Berita Kota Makassar. All Rights Reserved.

