MAKASSAR, BKM — Tak semua wanita di Kota Makassar bisa memperingati Hari Kartini dengan suasana hati yang tenteram dan damai. Sebaliknya, nestapa tengah menyelimutinya.
Seperti yang dialami Febrianty. Hingga Jumat (21/4), ibu rumah tangga ini terpaksa menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Ibnu Sina. Pada Kamis malam (20/4) pukul 22.00 Wita, warga Jalan Dirgantara Lorong 8 Nomor 8, Kelurahan Paropo, Kecamatan Panakkukang ini nekat menenggak racun. Beruntung, nyawanya masih bisa tertolong.
Adalah Brigpol Siratang yang mendapat penyampaian dari ketua RT setempat. Bhayangkara Pembinan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Kelurahan Paropo itupun bergegas ke lokasi.
Kesigapannya berbuah hasil. Aksi nekat Febriyanti yang hendak menghabisi nyawanya, bisa digagalkan. Meski begitu, kondisi korban sudah lemas karena cairan beracun sudah masuk ke dalam tubuhnya walau dalam porsi yang kecil.
Sindy (18) adalah orang yang pertama mengetahui korban menenggak racun. Adik ipar Febriyanti ini mendengar suara sang kakak meminta tolong.
”Tidak ada yang melihatnya meminum racun. Saya baru tahu setelah dia berteriak minta tolong. Saat itu kakak saya berada di dapur. Saya juga mendengar ada gelas yang terjatuh. Saya langsung ke dapur. Di situ saya lihat mulut kakak saya sudah berbusa, diduga karena keracunan,” terang Sindy, kemarin.
Melihat kondisi Febriyanti, Sindy pun berteriak histeris. Selanjutnya meminta bantuan ke tetangga untuk membawa korban ke rumah sakit terdekat.
Tak berselang lama, aparat Polsek Panakkukang yang dipimpin Kepala SPK Aiptu Rustam bersama Bhabinkamtibmas tiba di rumah korban. Selanjutnya dilakukan olah tempat kejadian perkara.
Hasilnya, petugas menemukan barang bukti sebungkus racun tikus yang diduga dikonsumsi korban. Polisi kemudian menghubungi suami korban, dan selanjutnya meminta keterangannya.
Pengakuan sang suami, ia tak tahu menahu kenapa istrinya sampai berbuat nekat meminum racun tikus. Namun, dia mengaku kerap pulang ke rumah karena fitnes. Hal inilah yang diduga sebagai pemicu.
Kapolsek Panakkukang Kompol Dodik, mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait kasus ini. ”Kita sudah mengambil keterangan suami korban. Diduga korban nekat melakukan percobaan bunuh diri karena suaminya kerap terlambat pulang dengan alasan fitnes,” ujar Dodik, kemarin.
Polisi belum meminta keterangan dari korban, karena masih menjalani perawatan di RS. ”Korban belum sadar. Kalau kondisinya sudah membaik, kita akan minta keterangannya untuk mengetahui motif pasti dia minum racun,” tandas Dodik. (ish/rus)
Headline
SUAMINYA sakit-sakitan hingga sudah tak bisa lagi bekerja. Tiga orang anaknya harus ia cukupi kebutuhannya. Uang halal, satu-satu alasan dirinya menjadi pengemudi becak motor (bentor).
Namanya Bariah. Kulitnya agak hitam karena seringnya terpapar sinar matahari. Selalu mengenakan sarung tangan dan pakaiannya agak lusuh, namun tetap terlihat sangat ‘bercahaya’. Karena tidaklah mudah mendapati seorang wanita melakoni pekerjaan ini.
Dia seorang istri, ibu, bahkan bisa dikatakan kepala keluarga. Bagaimana tidak, sehari-harinya ia harus melayani suaminya. Menghidangkan makanan bagi anak-anaknya, sampai mencari nafkah. Suaminya sudah dua tahun ini sakit-sakitan hingga tidak bisa bekerja. Anaknya tiga. Yang pertama seorang wanita usia 20 tahun, Yang kedua umur 7 tahun. Dan ketiga berumur 6 tahun.
Bariah berujar, selama ini ia harus mencari nafkah sendiri karena suaminya mengalami komplikasi penyakit. Ia tidak tahu jelas penyakit apa yang diderita suaminya, karena tidak punya cukup biaya untuk berobat secara rutin.
Anak pertama Bariah sebenarnya telah menikah. Namun, suami anaknya itu belum memiliki pekerjaan tetap sehingga masih ditanggung oleh dirinya.
“Pernahji berobat suamiku. Macam-macam penyakitnya. Ndak tau apa semua. Suaminya anakku ndak tetappi kerjanya. Jadi masih sayaji yang biayai itu anakku yang pertama,” tutur Bariah saat ditemui di kawasan Pasar Toddopuli, Makassar, kemarin.
Wanita 45 tahun ini, dari pagi hingga sore hari mengendarai bentornya dengan penuh keyakinan mencari nafkah. Tak kenal lelah, dan terkadang harus menanggung malu. Niatnya mulia. Tak ingin ia, suami dan anak-anaknya mendapatkan uang dari cara yang salah.
Kerap kali tetangga Bariah mengatakan pekerjaannya saat ini memalukan. Apalagi Bariah seorang wanita. Namun apa boleh buat, Bariah mengatakan jika inilah pekerjaan terbaik yang bisa dilakukan oleh orang yang bahkan tidak lulus SD seperti dirinya.
“Kadang nabilangika tetanggaku, ndak malu-maluko itu. Tapi maumi diapa. Daripada saya minta-minta, mencuri, atau jual diri, lebih baik begini,” cetusnya.
Subuh hari Bariah harus bangun untuk memasak makanan bagi anak dan suaminya. Setelah masakan dihidangkan, ia melanjutkan aktifitasnya sebagai istri dengan menyapu, sampai mencuci baju dan perabot rumah tangga. Tak jarang Bariah merasa sedih kala melihat keluarganya makan dengan makanan yang seadanya.
Pagi sekitar pukul 7, ia harus berangkat dari rumahnya di Jalan Meranti 2 untuk mengantar dua anaknya yang masih sekolah. Ia menggunakan bentor miliknya sampai di sekolah anaknya, di SD Panyikokang.
Dari sekolahan anaknya, ia langsung berangkat menuju Pasar Toddopuli. Di pasar inilah sehari-harinya Bariah mamangkalkan bentornya untuk mengais rezeki.
Saat menjadi sopir bentor, Bariah sebenarnya merasa senang. Sebab sebelum menjadi sopir bentor, dirinya dulu adalah seorang pemulung. Ia kerap memulung di sekitar Jalan Pengayoman dan Adhyaksa sejak tahun 1995. Barulah dalam tiga tahun terakhir ia menjadi sopir bentor. “Saya senangji seperti ini. Daripada kayak dulu jadi pemulung,” katanya.
Meski begitu, ada banyak kejadian yang tidak mengenakkan hatinya selama menjadi sopir bentor. Saling rebut penumpang menjadi hal yang sangat biasa baginya. Bahkan biasa ia mendapatkan pukulan dari sesama sopir bentor yang notabene pria.
“Biasami saya kalau selalu dituduh rebut penumpang. Sering sekali juga biasa mau dipukul. Tapi saya selalu kasih tahu sama semua pabentor disini. Kalau di rumah saya permpuan, tapi disini saya laki-laki. Jadi jangan anggap remeh walaupun saya perempuan,” serunya.
Selain itu, Bariah juga pernah ditipu oleh penumpangnya. Pernah suatu hari ia mengantar penumpang wanita dari Pasar Toddopuli sampai Pasar Butung. Sampai di lokasi yang dituju, si penumpang wanita tersebut beralasan mau mengambil barang di dalam pasar, dan akan segera kembali.
Penumpang wanita tersebut lantas meminjam uang Bariah terlebih dulu karena mengatakan tidak memiliki uang kecil. Dengan rasa percaya yang tinggi kepada si penumpang, Bariah meminjamkannya.
Setelah ditunggu cukup lama, penumpang wanita tersebut tidak kunjung datang. Bahkan Bariah sempat tertidur di bentornya. Bariahpun menanyakan kepada satpam yang bertugas di Pasar tersebut mengenai ciri-ciri penumpangnya. Namun satpam itu justru menyarankan Bariah untuk pulang karena menganggap Bariah telah ditipu. Dengan perasaan yang sangat sedih ketika itu, Bariah pun meninggalkan Pasar Butung.
Atas kejadian itu, Bariah berharap tidak lagi mengalaminya. Ia belajar banyak dari hal yang sangat merugikan dirinya tersebut.
Sebelum adzan Maghrib terdengar, Bariah harus kembali ke rumahnya. Tugas seorang ibu telah menantinya. Dengan membeli bahan makanan dari Pasar Toddopuli, ia kembali harus memasak dan menghidangkan makanan untuk suami serta anak-anaknya.
Dari hasil manarik bentor, tidak banyak yang ia dapat. Jika lagi musim ramai seperti hari libur, ia sangat bersyukur bisa mendapatkan uang Rp100 ribu. Namun jika hari biasa, ia hanya mendapat Rp40 ribu per hari.
“Biasa Rp40 ribuji. Tapi ndak apa-apaji. Yang penting ada untuk beli beras,” ujarnya.
Dengan pekerjaannya saat ini, banyak harapan yang digantungkan oleh Bariah. Salah satunya adalah ingin melihat anak-anaknya bisa kuliah dan kelak bisa menjadi orang sukses.
Harapan terbesarnya adalah Bariah ingin sekali melakukan ibadah haji. “Kalau ada uang, saya mau anakku bisa sarjana kayak orang lain. Saya juga mau sekali kodong ke tanah suci,” tuturnya penuh harap. (nug/rus/b)
MAKASSAR, BKM — Siang pukul 12.30 Wita di Warung Kopi (Warkop) Dottoro, Jalan Satando, Selasa (18/4). Para pengunjung tengah menikmati makanan dan minuman kesukaannya masing-masing. Mereka sambil bercengkerama satu sama lain.
Tiba-tiba datang beberapa orang anggota Polisi Militer TNI Angkatan Laut (POM AL). Kira-kira berjumlah 10 orang. Mereka menggunakan mobil. Berpakaian seragam lengkap. Ada juga yang mengenakan songkok haji warna putih.
Ketika turun dari kendaraannya, mereka langsung beraksi. Melarang para pengunjung warkop untuk memarkir kendaraan di sepanjang Jalan Satando depan Warkop Dottoro. Bahkan mengancam akan mengempeskan ban mobil jika tak segera dipindahkan dari tempatnya.
Melihat kedatangan oknum POM AL dan mendengar ancamannya, pengunjung warkop kemudian bergegas keluar. Termasuk diantaranya Salim Mamma, Wakil Ketua PWI Sulsel yang juga mantan Direktur Utama Harian Ujungpandang Ekspres.
Ada pula Muhammad Said dan istrinya. Pasangan suami istri ini adalah orang tua dari anggota DPRD Kota Makassar Saharuddin Said.
Mereka menuju ke mobilnya masing-masing untuk segera memindahkannya. Namun, ada diantara oknum POM AL yang terlihat hendak mengempeskan ban mobilnya. Salim kemudian meminta agar ban mobilnya tak dikempeskan, karena hendak dipindahkan.
Tapi, tiba-tiba ada oknum POM AL yang marah-marah. Adu mulut pun tak terhindarkan.
Perang kata-kata meluncur dari kedua belah kubu. Salim yang mengenakan baju kain lengan panjang warna putih, tampak sendiri menghadapi para pria berbadan besar itu.
Salim yang telah terpicu emosinya akibat kalimat pernyataan oknum POM AL, berusaha ditenangkan oleh salah seorang anggota POM AL lainnya. Ada pula seorang polisi berpakaian lengkap memintanya untuk tenang.
Mengenakan kacamata hitam dan sepatu warna senada, Salim beradu argumen dengan personel POM AL. Tiba-tiba ia diserang dan dikeroyok.
“Waktu saya keluar, ban mobilku mau dikempeskan. Saya langsung bilang, jangan dikempeskan karena saya baru mau pindahkan mobilku. Tapi ada diantara mereka yang marah-marah. Setelah sempat adu mulut, saya kemudian dikeroyok dan dipukuli,” ujar Salim yang ditemui di Rumah Sakit Akademis. Sesaat setelah kejadian, ia langsung dilarikan ke RS tersebut untuk mendapatkan perawatan medis. Ketika ditemui, Salim masih dirawat di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan luka lebam di sekitar wajah. Baju yang dikenakannya juga robek.
Dia menyebut, oknum POM AL yang melakukan pengeroyokan terhadap dirinya tidak hanya dua atau tiga orang. Tapi lebih dari itu.
Saat kejadian, Salim Mamma sempat menyampaikan bahwa dirinya seorang wartawan. Namun pengakuan itu dijawab oleh oknum POM AL; ”Itu lebih bagus.”
Salim yang merupakan adik mantan Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulsel Syahrul Mamma ini, juga mengaku sebagai keluarga jenderal. Tapi lagi-lagi penyerang mengabaikannya dengan melontarkan kalimat; ”Panggilko…panggilko…”
Bukan hanya Salim yang jadi sasaran amuk oknum POM AL. Tapi juga H Muhammad Said.
Bersama istrinya, orang tua legislator Partai Golkar Saharuddin Said itu bermaksud hendak melerai Salim yang tengah dikeroyok oknum POM AL. Namun nahas bagi Said. Ia juga jadi sasaran pemukulan. Selanjutnya dilarikan ke Rumah Sakit Siloam. Ia mengalami luka di bagian wajah. Perutanya juga keram akibat terkena pukulan.
Menyikapi tindakan beringas terhadap bapaknya, Saharuddin Said langsung bereaksi. Dia mengecam keras perlakuan oknum POM AL.
”Saya sebagai anak tidak terima tindakan pengeroyokan yang dilakukan aparat POM AL. Ini tindakan pidana,” kata Saharuddin Said, kemarin.
Ia kemudian menjelaskan kronologis kejadian yang menimpa bapaknya. ”Menurut ayah saya, sebenarnya beliau sudah meninggalkan lokasi saat Pak Salim usai dikeroyok. Dia mengantar Pak Salim ke rumah sakit dan hendak ke Polsek Ujung Tanah untuk melaporkan kejadian itu. Ayah saya kemudian kembali ke lokasi untuk mengambil mobilnya. Tapi ada dari POM AL yang berteriak dan bilang ayah saya teman Pak Salim. Akhirnya dia juga dipukul,” terang Saharuddin.
Diapun berjanji akan mengadukan kejadian ini ke POM AL. Juga menemui pangdam serta gubernur. Jalur hukum akan ditempuh pula.
”Masa’ hanya persoalan parkiran langsung main pukul. Sementara lahan parkir bukan di depan kantor mereka. Tidak bikin macet. Entah apa masalahnya,” cetusnya.
Saharuddin kemudian menceritakan, ketika masih kecil ia suka bermain di Warkop Dottoro Jalan Satando. Sejak saat itu tidak ada masalah dengan parkiran.
”Kalaupun soal parkir, kan bisa diberi pengarahan. Jangan main pukul. Beri penjelasan. Saya akan menghadap ke gubernur dan panglima. Jabatan orang yang memukul itu ada masanya. Ingat itu,” cetusnya.
Dihubungi terpisah, Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh menyayangkan peristiwa ini. Diapun menyerahkan ke Salim dan orang lain yang merasa jadi korban, untuk menempuh jalur hukum.
”Kalau seandainya saudara Salim sementara melaksanakan tugas jurnalisitiknya dan dihalang-halangi, bahkan malah dipukuli, itu sudah pelanggaran undang-undang. Lain kalau masalah pribadi,” kata Zugito, sapaan akrab Zulkifli. (ita-jun-mat/rus)
GOWA, BKM — Di sebuah rumah Desa Taeng, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Senin (17/4). Suasana duka melingkupi penghuni rumah dan warga sekitar. Pelayat tampak sesak.
Lamat-lamat terdengar suara tangisan perempuan dari dalam rumah. Di hadapannya terbujur sesosok jasad yang sudah tak bernyawa. Sesekali wanita paruh baya itu mengeluarkan suaranya yang sudah sedikit agak parau.
”Iccang… Iccang… bangun nak. Janganko pergi tinggalkanka,” ujarnya sambil air mata terus membasahi pipi.
Perempuan ini bernama Sadaeng Dg Ratang. Ia tak henti-hentinya meratapi kepergian putra kesayangannya itu.
Namanya Muh Iksan. Usianya 20 tahun. Remaja ini menemui ajal di tangan rekannya sendiri bernama Aryanto (22).
Antara keduanya masih tinggal bertetangga. Bahkan, Aryanto pernah menjadi bos Iksan saat bekerja sebagai penjaga counter HP milik Aryanto.
Peristiwa berdarah yang melibatkan keduanya berlangsung Minggu (16/4) malam. Belum ada yang mengetahui secara pasti penyebab pertikaian. Sebab hubungan keduanya selama ini berjalan nyaris tanpa ada masalah. Korban juga diketahui sudah tidak bekerja lagi di counter milik pelaku.
Hal itu dibenarkan Ani (16), adik korban. Ani mengaku belum mengetahui jelas permasalahan antara kakaknya dengan Aryanto. “Tidak terlalu jelas juga. Tapi saya dengar, karena ada yang mau bongkar itu counternya Anto (Aryanto). Tapi Anto malah menuduh Iksan, lalu memukulnya,” tutur Ani, yang matanya masih memerah pertanda baru saja menangis.
Iksan adalah anak keenam dari sembilan bersaudara. Ia tewas ditangan temannya setelah ditikam empat kali tusukan badik. Dua kali di bagian perut sebelah kiri dan kanan, serta dua kali tikaman pada bagian punggung.
Dua tusukan di bagian belakang badan Iksan baru diketahui setelah subuh, ketika jasadnya sudah disemayamkan di rumah korban. “Iye, dua tusukan di bagian belakangnya baru ditahu tadi (kemarin) subuh. Di rumahpi,” tambah Ani.
Diperoleh informasi, Aryanto merupakan pendatang di Desa Taeng. Hal itu dibenarkan Kepala Dusun Taeng Hamzah Mulia Dg Lewa.
Kata Hamzah, tersangka mengontrak sebuah rumah yang tidak jauh dari rumah korban. Jaraknya hanya sekitar 200 meter. Anto disebutkan masih tercatat sebagai mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Makassar.
Tidak lama setelah kejadian, tersangka berhasil diamankan. Kini Anto ditahan di dalam sel Polres Gowa.
Kasat Reskrim Polres Gowa AKP Darwis Akib, mengkonfirmasi jika kasus pembunuhan ini masih dalam tahap penyelidikan. ”Kita kenakan pasal 351. Tapi karena meninggal dalam perjalanan, kita sementara lidik ayat dan hukumannya,” kata Darwis.
Dijelaskan AKP Darwis, usai menikam korban, Aryanto langsung kabur melarikan diri karena dikejar warga. Dia berhasil lolos dari kejaran dengan naik perahu menyeberang sungai Jeneberang.
Sesampainya di seberang, tersangka langsung kabur ke arah markas Koramil Tamalate Makassar di Jalan Mallengkeri. Tepatnya di perbatasan Gowa-Makassar.
“Dalam pelariannya, tersangka memberikan badiknya kepada pemilik perahu. Namun oleh pemilik perahu, badiknya disimpan saja di pinggir sungai sampai akhirnya kami amankan. Badik itu sudah disita dan dijadikan barang bukti,” jelas Darwis. (sar/rus)
MAKASSAR, BKM — Dugaan korupsi menyeruak dari Kantor Satuan Kerja (Satker) Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR). Nilainya diperkirakan mencapai Rp3,7 miliar.
Penyidik dari Sub Direktorat Tindak Pidana Korupsi Reserse dan Kriminal Khusus (Subdit Tipikor Reskrimsus) Polda Sulsel melakukan penggeledahan di kantor yang terletak di Jalan Penjernihan, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar itu, Kamis (6/4).
Penggeledahan yang dilakukan dalam rangka pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket) terkait indikasi kasus korupsi dana pengelolaan dan pengembangan air minum. Khususnya pada pengadaan/pemasangan pipa PVC tahun anggaran 2016 senilai Rp3,7 miliar.
Sedikitnya ada lima personel dari Subdit Tipikor Reskrimsus Polda Sulsel mengenakan rompi berwarna krem dalaman kemeja putih datang ke kantor ini. Bersama personel lainnya, mereka menggunakan tiga mobil.
Penggeledahan dilakukan sekitar 1,5 jam. Mulai pukul 14.00 Wita hingga 15.30 Wita. Hampir seluruh ruangan di kantor tersebut digeledah.
Pegawai yang ada terlihat kaget melihat kehadiran aparat. Mereka hanya bisa menyaksikan polisi melakukan penggeledahan, yang dipimpin langsung Kasubdit III Ditreskrimsus Polda Sulsel AKBP Leonardo Panji Wahyudi.
Usai melakukan penggeledahan, aparat menyita sejumlah barang bukti dan membawanya keluar. Diantaranya komputer CPU, layar serta dokumen yang dimasukkan ke dalam kardus.
Barang tersebut kemudian dimasukkan ke dalam sebuah mobil Pajero Sport warna putih bernomor polisi DD 144 UL. Ada pula satu unit mobil Kijang Innova warna silver yang digunakan tim tipikor Polda Sulsel.
Lima penyidik terdiri dari dua orang polwan dan tiga polisi pria. Ada pula personel berseragam lengkap menenteng senjata. Menggunakan mobil patroli jenis sedan warna silver, mereka mengawal barang bukti yang disita.
Usai melakukan penggeledahan, aparat kepolisian langsung naik ke mobil tanpa memberi keterangan sedikitpun. Demikian pula dengan pegawai di kantor tersebut, semua memilih bungkam.
Informasi yang diperoleh BKM, penggeledahan dilakukan sekaitan dengan proyek peningkatan pengelolaan pengembangan air minum (pengadaan dan pemasangan pipa PVC). Proyek itu menggunakan dana APBN sebesar Rp3,7 M dengan 21 paket pekerjaan. Namun ternyata proyek tersebut tidak pernah dikerjakan (fiktif).
BKM mencoba untuk melakukan konfirmasi ke Kepala Satker Pengembangan Sumber Daya Air Minum Kementerian PU-PR. Namun tidak diperkenankan.
”Bisa ketemu kepala Satker?” kata BKM. Seorang security berujar; ”Tidak bisa, Pak. Ini perintah atasan saya. Soal kedatangan polisi, saya tidak tahu apa tujuannya.”
Salah seorang penyidik tipikor yang coba dimintai konfirmasinya, hanya berucap; ”silakan hubungi pimpinan.”
Terpisah, Direktur Direktorat Kriminal Khusus Polda Sulsel Kombes Pol Yudhiawan, membenarkan adanya penggeledahan yang dilakukan personelnya di kantor tersebut.
”Tim Tipikor Polda Sulsel melakukan penggeledahan terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi dana pengelolaan dan pengembangan air minum berupa pengadaan pemasangan pipa PVC tahun 2016 silam. Pihak KPA dan PPTK melaksanakan pekerjaan menggunakan dana APBN sebesar Rp 3,7 miliar dengan 21 paket pekerjaan. Namun pekerjaannya tidak pernah dilaksanakan,” ungkap Yudhiawan. (rhm-ish/rus)
MAKASSAR, BKM — Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) di Jalan Rajawali, Kelurahan Lette, Kecamatan Mariso, Kota Makassar sejatinya diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Tapi faktanya, ada indikasi dan aroma penyimpangan di tempat ini.
BKM datang ke rusunawa, Selasa (4/4). Pemandangannya cukup mencengangkan. Ada banyak mobil yang sengaja ditutup oleh pemiliknya. Kendaraan roda empat tersebut terparkir rapi di tempar parkir khusus yang telah diatapi. Sementara motor tak terhitung jumlahnya.
Sejatinya pula, rusunawa menjadi tanggung jawab Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Kota Makassar. Namun dalam pengelolaannya, organisasi perangkat daerah (OPD) ini justru membentuk tim tersendiri. Terdiri dari tenaga keamanan, teknisi, kebersihan, dan administrasi. Mereka inilah yang mengelola secara keseluruhan rusunawa. Termasuk semua retribusi maupun biaya sewa kamar.
Pengelola rusunawa, Susan menyebutkan, di tempat ini terdapat 288 kamar. Semuanya telah terisi dengan 288 kepala keluarga. Setiap kamar memiliki ukuran yang sama.
Biaya sewanya dibedakan berdasarkan tempat di tiap lantainya setiap bulannya. Lantai satu Rp150 ribu. Lantai dua Rp125 ribu. Lantai tiga Rp100 ribu. Lantai empat Rp75 ribu.
Selain biaya sewa kamar, para penghuni juga diwajibkan membayar iuran listrik, air, sampah, dan lampu jalan. Setiap 1 KWH listrik para penghuni membayar Rp1.500. Untuk air, setiap 1 kubiknya sebesar Rp4.000. Sementara sampah sebesar Rp5.000 tiap bulannya. Iuran tersebut dihitung untuk setiap kamarnya.
Susan menambahkan, rata-rata pemakaian listrik setiap kamar dalam perbulannya sekitar 100 KWH. Namun untuk air, ia mengaku tidak tahu pasti. “Perbulannya tidak menentu. Tergantung pemakaian. Tapi biasanya rata-rata setiap kamar itu 100 KWH,” jelas Susan, kemarin.
Jika dikalkulasikan, maka pembayaran iuran listrik saja untuk setiap kamar berkisar Rp150 ribu.
Benarkah hanya sebesar itu? Tadah (61), salah seorang penghuni mengatakan, selama ini para penghuni membayar iuran listrik per bulannya sebesar Rp300 ribu. Bahkan pernah sampai Rp600 ribu.
Wanita yang telah tinggal selama 10 tahun di rusunawa inipun masih mengeluhkan listrik yang terkadang masih sering padam. Hal itu dipicu oleh kapasitas listrik yang ada tidak mencukupi untuk pemakaian seluruh penghuni.
“Kalau banyakmi kita nyalakan alat listrik, biasanya matimi. Kecilki memang dayanya. Baru mahal sekali biasa kita bayar. Kayak ndak masuk akal,” keluh Radah, kemarin.
Hal yang sama dikatakan penghuni lainnya Fitri (24). Ia mengeluhkan mahalnya iuran listrik. Bahkan tidak sebanding dengan fasilitas yang diterima. Padahal, di dalam kamarnya hanya ada beberapa barang elektronik. Seperti televisi, rice cooker dan kipas angin.
“Saya biasa tinggi kubayar. Kalau bukan Rp400 ribu, ya Rp500 ribu kubayar tiap bulan. Baru begitumi, seringki mati-mati listriknya,” cetus Fitri.
Untuk air, Radah dan Fitri biasanya membayar kisaran Rp100 ribusampai Rp200 ribu per bulan. Distribusi air di rusunawa ini juga memiliki beberapa kendala. Dalam sehari biasanya air hanya mengalir dua kali.
Bahkan dikatakan Radah, kerap tidak mengalir seharian. Kondisi ini membuatnya harus berhemat air, walaupun tiap bulan ia membayar iuran.
Kondisi ini membuat para penghuni seperti Radah dan Fitri membayar iuran hampir Rp1 juta tiap bulannya. Biaya yang dirasa cukup besar, memngingat Radah dan Fitri hanya berprofesi sebagai pedagang. Radah sebagai pedagang kerajinan, dan Fitri kerap berjualan di Pantai Losari.
Saat ini pengelolaan sampah di sana sudah baik. Setiap harinya mobil sampah milik pemerintah kota masuk ke rusunawa untuk mengambil sampah. Hal ini dikarenakan para penghuni di sana juga telah membayar iuran sampah perbulannya.
Radah pun membenarkan jika setiap harinya memang ada mobil yang terparkir. Kendaraan roda empat itu milik penghuni rumah. “Saya juga heran, katanya ini rumah untuk orang kurang mampu, tapi banyak penghuninya punya mobil. Apalagi kalau malam, penuhmi ini mobil di sini,” beber Radah.
Nur Samsiah atau yang akrab disapa Dg Nurung mengaku, beberapa tahun terakhir dirinya harus mempersiapkan dana sebesar Rp800 ribu setiap bulan. Dana tersebut digunakan untuk membayar listrik dan air yang sering naik secara mendadak.
“Di dalam rumah cuma TV, kulkas dan dua bohlam lampu yang berapa wattji. Harga kamarku saya di lantai satu Rp150 ribu. Biaya kebersihan setiap bulan untuk tahun ini naik Rp5.000. Ini listrik dan air biasa naik tiba-tiba, padahal jarangji saya pakai semua. Kalau khusus air biasa saya bayar Rp120 ribu. Tapi biasa naik Rp150.000 dan listrik kadang naik Rp300.000 sampai Rp400.000. Ini kita herankan, padahal saya jarang pakai. Paling malampi,” ujar Dg Nurung yang bersama keluarganya sudah lima tahun tinggal di rusunawa.
Bagi Nurung dan penghuni lainnya, biaya hidup di rusunawa sangatlah mencekik. Apalagi mereka yang tinggal di tempat ini mayoritas tidak memiliki pekerjaan jelas.
”Kita harapkan pegawai UPTD benar-benar memperhatikan baik-baik pemakaianya. Catatki baik-baik. Masa’ kamar yang jarang ditinggali tidur dicatat banyak pemakaian listrik dan airnya. Sedangkan kamar yang setiap hari menyala lampu dan airnya kurang biayanya. Kita tinggal disini karena murah, tapi ternyata lama-lama mahalji,” cetusnya.
Sebenarnya, kata dia, tidak adaji mungkin masalah kenaikan listrik tiba-tiba jika meteran listrik yang elektrik diaktifkan. ”Jadi kita tinggal beli pulsa dan kita sendirimi yang atur pemakaian listrikta. Tapi ini namatikanki meteran elektrik. Kita harus membayar listrik dan air di kantor UPTD. Biar kita sedikit pemakaianta, tetap dikasih mahalji, ” katanya.
Selain Dg Nurung, penghuni lainnya bernama Mer juga mengharapkan agar meteran listrik elektrik yang telah terpasang di masing-masing depan kamar diaktifkan. Sehingga pemakaian listrik dapat diatur pemilik kamar sesuai dengan kebutuhannya.
Sebab saat ini pembayaran listrik ke PLN dan air bersih ke PDAM Makassar masih induk, bersatu dengan nama industri.
“Jadi yang terhitung di PLN dan PDAM Makasaar itu berapa banyak pemakaian warga yang ada di dalam rusunawa. Bukan dengan hitungan berapa banyak pemakaian masing-masing warga. Karena kita bayar di UPTD, bukan langsung ke PLN dan PDAM,” jelasnya.
Dalam sebulan, Mer bersama satu anaknya menggunakan paling banyak 12 kubik air bersih. Satu kubik air bersih seharga Rp4.000. Berarti dia harus menyediakan iuaran sebesar Rp48.000 setiap bulan khusus untuk pembayaran air bersih. Karena tinggal di lantai satu, harga kamar yang disewa sebesar Rp150 ribu.
“Kalau air jarangji naik tiba-tiba. Yang sering itu listrik naik dari yang biasa kita bayar. Dulu saya pernah diminta Rp380.000 khusus listrik. Padahal sebelumnya itu cuma Rp120.000 ji saya bayar. Padahal tidak adaji perabotan tambahanku. Yang ada hanya TV, kulkas dan lampu. Kalau tidak dibayarki didendaki 30 persen dari total pembayaran keseluruhanta,” sebutnya. (nug-arf/rus/b)
Penghargaan dan Sertifikat:
Copyright © 2026 Berita Kota Makassar. All Rights Reserved.

