LUTIM, BKM — Hari masih pagi-pagi buta. Kira-kira pukul 05.30 Wita, Jumat (12/5). Kepanikan melanda warga Dusun Ujung Batu, Desa Maliwowo, Kecamatan Angkona, Kabupaten Luwu Timur. Berjarak 30 km sebelum Malili jika dari arah Makassar.
Tanah bercampur air dari gunung Maliwowo bergerak begitu cepat. Meluluhlantakkan apa saja yang dilewatinya. Bencana longsor telah mengacaukan suasana pagi di kampung yang terletak di pinggir jalan poros trans Sulawesi tersebut.
Kejadian pilu ini ini berlangsung setelah terjadi hujan deras pada Kamis malam (11/5) hingga Jumat subuh (12/5). Material longsor menimbun 14 rumah warga. Tujuh orang meninggal dunia dalam peristiwa ini. Empat diantaranya berasal dari satu keluarga.
Mereka adalah pasangan suami istri Darwis dan Erna, Sri (ibunda Erna) dan Sul, seorang balita usia 4 tahun yang merupakan cucu dari Sri. Sementara tiga korban tewas lainnya masing-masing Oga, Nanni dan Haerul. Nama korban terakhir merupakan bayi yang masih berusia dua minggu.
Selain korban meninggal dunia, ada pula tujuh warga yang mengalami luka-luka. Yakni Sandi, Sindi, M Sandi, Ical, Emi, Gummang dan M Candra. Para korban, baik yang meninggal maupun luka dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) I La Galigo.
Pantauan di lokasi bencana, kemarin, akses jalan yang menghubungkan Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara ini tidak dapat dilalui kendaraan. Material longsoran telah menutup badan jalan.
Kendaraan dari arah Kota Palopo tujuan Malili terpaksa memutar balik melewati kecamatan Mangkutana menuju Desa Watampanua, Kecamatan Angkona. Begitu pula sebaliknya.
Sejumlah alat berat seperti eskavator dan loader dikerahkan untuk membersihkan pembersihan jalan yang tertimbun tanah sepanjang kurang lebih 150 meter. Sementara pihak Tagana, Satpol PP, PMI, pecinta alam, kepolisian dan TNI serta petugas medis disibukkan melakukan evakuasi korban hingga ke RS.
Sukardi, warga setempat menuturkan, hujan deras turun sejak Kamis malam hingga Jumat subuh. Tanah longsor terjadi sekitar pukul 05.30 Wita.
”Awalnya saya merasa ada getaran cukup kerasa. Saya langsung bergegas keluar rumah. Jalan poros sudah tertutup longsoran tanah,” ujarnya, kemarin pagi. Beruntung, rumahnya lolos dari timbunan tanah longsor.
Sukardi kemudian mencari tahu kondisi tetangganya. Dia mendatangi rumah Nanni yang tak jauh dari kediamannya. Ternyata, separuh rumah Nanni telah tertutup dengan tanah.
Sukardi lebih kaget lagi saat mendekati rumah Nanni. Di situ tergeletak tiga sosok manusia. Masing-masing Nanni, Sandi dan Sindi. Proses evakuasi pun langsung dilakukan bersama warga lainnya.
”Kejadiannya setengah enam, Pak. Kami sempat mengevakuasi tiga orang korban, yakni Nanni, Sandi dan Sindi. Nanni sudah meninggal. Sementara Sandi dan Sindi berhasil diselamatkan,” ungkap Sukardi di lokasi bencana.
Tidak jauh dari rumah Nanni, petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Luwu Timur yang turun ke lokasi sesaat setelah kejadian, melakukan evakuasi terhadap korban lainnya. Masing-masing Erna, Sri dan seorang balita bernama Sul. Proses evakuasi berlangsung cukup lama. Sebab, tubuh ketiga korban berada di bawah mobil dum truk dengan tertutupi tumpukan kayu dan tanah.
Pihak BPBD pun mengarahkan satu alat berat eskavator untuk memindahkan kayu dan menggali tumpukan tanah. Sesekali eskavator tersebut mengangkat dum truk untuk memudahkan ditariknya korban yang berada di bawahnya. Dua korban, Sri dan Sul berhasil ditarik keluar oleh warga dan langsung dimasukkan ke dalam kantong mayat.
Sementara korban lainnya, Erna masih berada dalam tumpukan tanah. Hingga berita ini dibuat, proses evakuasi terhadap korban Erna masih terus berlangsung.
Kepala BPBD Lutim, Sabur mengatakan, pihaknya terus melakukan evakuasi di lokasi bencana dengan mengarahkan sejumlah alat berat. “Korban yang meninggal dunia tujuh orang. Satu orang lainnya, yakni Erna masih dalam tahap evakuasi karena tertimbun tanah,” terangnya.
Menurutnya, jalan poros trans Sulawesi di Ujung Batu belum bisa dilalui kendaraan, kemarin. Sebab material longsoran masih terus mengalir menutupi badan jalan.
“Hari ini (kemarin) jalan poros tran Sulawesi ini belum dapat gunakan. Karena tanah bercampur lumpur masih terus menutupi jalan. Kita mengerahkan alat berat untuk membersihkan longsoran,” jelas Sabur.
Bupati Luwu Timur, HM Thorig Husler dan beberapa pejabat pemkab lainnya berada di lokasi bencana. Orang nomor satu di Lutim tersebut memimpin langsung jalannya evakuasi korban. Thorig juga tempak mengarahkan kendaraan yang akan melintasi jalan poros.
“Kami atas nama pemerintah memohon maaf atas ketidaknyamanan pengendara yang akan melintasi jalan ini. Sejumlah alat berat sudah kami turunkan untuk melakukan pembersihan jalan akibat tertimbun tanah longsor. Kami juga mempersilahkan pengendara untuk melalui jalur alternatif yang telah disediakan,” terang Husler.
Menurutnya, pemerintah daerah melalui Dinas Sosial dan BPBD serta pihak terkait juga telah diminta untuk turun membantu. Tenda-tenda tenda pengungsian telah disiapkan untuk korban. Begitu juga dengan pihak medis. (alp/rus/a)
Headline
MAKASSAR, BKM — Apel di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Gunung Sari di Jalan Sultan Alauddin, Makassar baru saja usai, Minggu pagi (7/5). Seperti biasa, pegawai lapas kemudian melakukan pengecekan terhadap tahanan di selnya masing-masing.
Awalnya, pemeriksaan berjalan lancar. Tak ada yang mencurigakan. Semua tahanan berada di dalam bilik jeruji besinya.
Namun, sesampainya di Blok A1 kamar 10 petugas kaget. Karena dari hasil pengecekan, ternyata ada tiga penghuni ruangan yang tak berada di tempat.
Pemeriksaan secara detail pun langsung dilakukan di dalam sel. Didapati serbuk dan potongan terali besi. Kuat dugaan, ketiganya kabur setelah berhasil menjebol sel tahanan dengan menggergaji jeruji besinya.
Penelusuran lebih jauh dilakukan. Akhirnya diketahui, setelah keluar dari dalam sel, ketiga tahanan tersebut menuju ke selokan dan menyusurinya. Sesampainya di ujung selokan, kemudian naik ke atas pos yang kala itu tidak ada penjaganya.
Kepala Bidang Keamanan dan Ketertiban (Kabid Kamtib) Lapas Makassar Tatang Suharman mengkonfirmasi kaburnya ketiga tahanan tersebut, kemarin. Diperkirakan, mereka melarikan diri pada Minggu dinihari (7/5) antara pukul 00.30 Wita hingga pukul 04.00 Wita.
”Mereka meloloskan diri setelah berhasil menggergaji terali besi. Selanjutnya melewati selokan mengarah ke pos. Selanjutnya naik ke atas pos yang saat itu tidak dijaga. Kita memang mengalami keterbatasan personel,” ujar Suharman.
Dari tiga tahanan kabur tersebut, satu diantaranya adalah terpidana mati. Yakni Iqbal alias Bala alias Kolor Ijo (34), warga Jalan Dusun Kampung Baru, Desa Sido Agung, Kecamatan Kalanea, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Ia terjerat dalam pencabulan, pemerkosaan serta pembunuhan berencana terhadap para korbannya yang merupakan wanita.
Sementara dua narapidana lainnya dijatuhi hukuman seumur hidup dalam kasus pembunuhan. Yaitu Rizal Budiman alias Ical (22), warga Jalan Apo Bengkel, dekat gudang Wijaya Jayapura Utara Kota. Muh Tajrul Kilbaren bin Kalbaren alias Arun (31), warga Jalan Raden Ajeng Kartini (Bengkel Pani Motor), Kelurahan Rufei Distrik Sorong Wijaya, Distrik Jayapura Utara Kota.
Menyusul kaburnya tiga tahanan tersebut, pihak lapas kemudian berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk melakukan pengejaran.
Kepala Lapas Marsidin Siregar yang dihubungi terpisah, menjelaskan bahwa dari laporan yang diterimanya, pada pukul 24.00 Wita petugas lapas masih melihat ketiganya di dalam sel. ”Kita baru tahu ketiganya kabur saat dilakukan pengecekan tahanan usai kami apel pagi,” ujarnya.
Pihak lapas telah mengambil keterangan dua napi yang ruang selnya bertetangga dengan kamar ketiga tahanan kabur itu. Mereka adalah Supirman Dg Siajang dan Muh Juritno yang mengisi sel blok B kamar A1 (kamar 14 dan 15). Keduanya mengaku sempat bertemu napi tersebut sebelum kabur.
”Kata Supirman, ia masih bertemu dengan Tajrul. Saat itu Supirman membawakan Tajrul rokok yang ada di kamar 10. Kira-kira pukul 00.00 Wita. Sementara dua yang lainnya tidak ketemu,” jelas Marsidin mengutip pengakuan saksi.
Saksi lain, Muh Juritno yang juga merupakan terpidana kasus pembunuhan, mengaku bertemu dengan Ikbal dan Tajrul. ”Saksi Juritno masih bertemu dengan keduanya sekitar pukul 23.00 Wita. Tajrul meminta rokok ke Juritno di kamar 14. Tapi Juritno mengaku tidak punya rokok,” terang Marsidin.
Kepala Kantor Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Kemenkum HAM) Sulawesi Selatan Sahabuddin Kilkoda yang dihubungi, kemarin tengah berada di Jakarta. Setelah mendapat laporan kaburnya tiga tahanan Lapas Makassar, dia berjanji segera kembali.
”Laporan yang masuk ke saya, ada tiga warga binaan Lapas Makassar yang kabur. Mereka berada dalam satu kamar. Dua napi kiriman dari Sorong, Papua dengan hukuman seumur hidup. Satunya lagi napi dengan hukuman mati,” terang Sahabuddin melalui telepon selular.
Dari laporan kalapas ke Sahabuddin, dijelaskan jika ketiga napi kabur usai menggergaji jeruji besi. ”Lalu masuk ke gorong-gorong antarblok. Selanjutnya memanjat pakai kain seprei dan kainnya. Lalu turun melalui pos dua,” jelasnya.
Pada tengah malah, tambah Sahabuddin, petugas lapas melakukan patroli. Saat itu jumlah tahanan masih utuh di dalam selnya. Setelah apel pagi hari, dilakukan pengecekan kamar. Ternyata ada tiga tahanan yang meninggalkan kamar selnya.
”Di dalam kamarnya ada bekas gergaji. Jeruji besi tahanan itu memang bisa dipotong menggunakan gerganji. Bisa dilakukan oleh orang yang sudah biasa,” ujar Sahabuddin.
Soal dari mana napi mendapatkan peralatan berupa gergaji, Sahabuddin mengatakan pihaknya masih mencari tahu. ”Kita masih menunggu hasil penyelidikan. Pegawai yang bertugas masih diperiksa. Jika memang ada yang terlibat akan diberi sanksi tegas,” tandasnya.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani yang dihubungi, Minggu (7/5) mengaku telah menerima laporan kaburnya tiga tahanan Lapas Makassar. Bersama aparat Polsek Rappocini, Dicky datang langsung ke lapas. Selanjutnya dilakukan penyelidikan dan mengambil keterangan dari saksi serta petugas lapas.
”Saya turun langsung ke lokasi melakukan pengecekan bersama anggota dari Polsek Rappoocini. Kita sudah menginstruksikan kepada personel kepolisian di area terminal dan pelabuhan untuk mendeteksi keberadaan ketiga tahanan kabur itu. Namun, dari laporan yang kami terima, ketiganya diduga sudah keluar dari Makassar,” jelas Dicky.
Setelah melakukan koordinasi, lanjut perwira tiga bunga melati di pundaknya itu, pihaknya langsung membentuk tim khusus yang kini berkeliaran itu. ”Kita sudah membentuk tim khusus mengejar ketiganya. Kami juga telah menyampaikan ke seluruh polres dan polsek se-Sulsel untuk bergerak melakukan pengejaran,” terangnya. (ish-jun/rus/b)
MAKASSAR, BKM — Hari masih pagi, Jumat (5/5). Matahari belumlah terlalu terik. Kira-kira pukul 09.15 Wita.
Pada sebuah toko pakaian di Jalan Perintis Kemerdekaan, tepatnya di RT 05 RW 01 Kompleks Hartaco Permai, Kelurahan Tamalanrea Jaya, Kecamatan Tamalanrea, Makassar. Beberapa karyawan toko sudah melakukan aktivitasnya.
Tiba-tiba terdengar suara histeris dari sebuah toko yang berada di seberang jalan depan kampus Universitas Islam Makassar (UIM). Mendengar teriakan itu, warga sekitar dan pengendara yang lewat langsung menoleh ke atas. Asap hitam membumbung tinggi. Jilatan api sesekali terlihat di udara.
Situasi pun menjadi gaduh. Karyawan toko berusaha memadamkan api. Namun mereka kesulitan mendapatkan air. Upaya pemadaman kemudian dilakukan dengan menggunakan air selokan.
Beberapa karyawan yang telah menyelamatkan diri langsung teringat dengan pemilik toko. Namanya H Muhammad Ryan. Usianya 47 tahun. Ia masih berada di dalam toko ketika api tengah berkobar hebat.
Mereka berusaha menyelamatkan Ryan. Namun tak berbuah hasil. Tak ada yang mampu menerobos api dan pekatnya asap.
Armada pemadam kebakaran tiba beberapa waktu kemudian. Warga bersama personel pemadam berjibaku memadamkan api. Pukul 10.40 Wita si jago merah berhasil dikuasai. Namun api sudah meluluhlantakkan lima unit toko. Petugas dari Polsek Tamalanrea juga datang ke lokasi kejadian.
Penyisiran lalu dilakukan di dalam toko yang terbakar. Alangkah kagetnya petugas kepolisian dan pemadam kala menemukan sesosok tubuh manusia dalam keadaan gosong. Tubuhnya terbujur kaku dalam posisi tertelungkup di dalam sebuah ruangan.
Petugas Polsek Tamalanrea kemudian menghubungi Tim Inafis Mapolrestabes Makassar. Jasad korban kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara. Juga dilakukan olah tempat kejadian perkara.
Dipastikan, korban tewas adalah H Ryan. Ketika ditemukan, kakinya terbelenggu rantai sepanjang dua meter.
Informasi yang diperoleh di lokasi kejadian, korban diduga mengalami gangguan jiwa. Sudah lima tahun ia dipasung dengan kaki dirantai.
Ia nekat mengakhiri hidupnya dengan cara membakar kasur tempat tidurnya, setelah terlebih dahulu menyiramnya menggunakan besin. Dalam waktu sekejap api membesar hingga membakar plafon.
Menurut pengakuan tetangga dan kerabat, sebelum membakar dirinya, pada malam harinya korban sempat mengamuk dan marah-marah kepada keluarganya. Pemicunya, rencana pernikahan untuk ketiga kalinya akan ditunda oleh pihak keluarga.
H Ryan diketahui sudah dua kali membangun mahligai rumah tangga. Namun semuanya kandas di tengah jalan. Duda inipun berencana untuk berkeluarga kembali.
Ketua RT 05 Kompleks Hartaco Permai, Akbar Milo membenarkan rencana korban yang hendak menikah lagi. ”Beberapa hari lalu korban meminta kepada saya untuk mengurus surat pengantar nikah di kelurahan,” ujarnya.
H Ryan akan melangsungkan pernikahan di Kabupaten Bone. Namun Tuhan berkehendak lain. Ia menemui ajal sebelum niatnya itu terlaksana.
Akbar mengaku sangat kaget setelah mengetahui kabar bila korban tewas terbakar dalam kamarnya. “Saya sangat prihatin dengan kejadian ini,” pungkasnya.
Yang lebih memiriskan, untuk mendapatkan bensin guna membakar kasur dan dirinya, korban menyuruh anak laki-lakinya bernama Muh Saldi alias Aldi. Ryan beralasan, bahan bakar yang mudah terbakar itu hendak digunakannya untuk membersihkan sesuatu.
Tanpa pikir panjang dan tak menduga jika ayahnya akan berbuat nekat di pagi hari kemarin, Aldi lalu bergegas membeli bensin satu liter di SPBU yang ada di seberang jalan.
Aldi yang ditemui BKM masih terlihat syok pascakejadian tersebut. “Kalau saya tahu bapak pakai itu bensin untuk bakar dirinya, pasti saya tidak akan belikanki,” ujar Aldi lemah. Air matanya masih terus berurai.
Sedihnya lagi, kata dia, saat terlihat dan tercium bau asap dari dalam kamar korban, ayahnya justru tidak berteriak minta tolong. Malahan kamar itu terkunci dari dalam.
Aldi mengakui, setelah api mulai membakar isi dalam kamar, neneknya Syamsiah sempat berusaha menggedor pintu. Namun korban tak jua membukanya.
Hingga akhirnya api menjalar begitu cepat ke arah atap. Korban pun menemui ajal tewas terpanggang dalam kamar.
Ibu korban, Syamsiah hanya bisa menangis dengan kejadian yang menimpa anaknya. Sesekali dari mulutnya ia berujar, ”Kenapako nak bisa begitu.”
Kapolsek Tamalanrea Kompol Aisyah Saleh yang berada di lokasi kejadian, mengatakan pihaknya masih melakukan proses penyelidikan. Informasi awal yang diterimanya, kebakaran bermula dari toko milik korban.
“Kalau dari hasil penyelidikan, api beradal dari bagian belakang rumah korban. Seketika itu api membesar. Korban yang berada di dalam toko berusaha memadamkan api. Ketika terperangkap ia tak bisa lagi keluar, hingga akhirnya masuk ke dalam kamar mandi. Kemungkinannya, saat didalam kamar mandi korban membasahi tubuhnya. Namun karena kepungan api, korban meninggal di dalam kamar mandi,” jelas Aisyah
Korban, menurut Aisyah, berstatus duda. Ia telah dua kali menikah. ”Kabarnya akan menikah lagi,” terang Aisyah.
Dalam kebakaran ini, lima unit toko dilalap api. Tiga diantaranya hangus terbakar pada bagian dalam. Sementara dua lainnya terbakar pada bagian belakang.
Lima unit toko yang terbakar itu masing-masing Bintang Cemerlang milik Ratu. Satu unit ruko Fashionable milik Ikhsan. Dua unit ruko Farhan milik H Haedar. Satu ruko lainnya milik almarhum H Ryan. (mat-ish/rus)
MAKASSAR, BKM — Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei baru saja berlalu. Namun, kisah miris kembali datang dari dunia pendidikan di Kota Makassar.
Tiga sekolah yang berada dalam satu kompleks di Jalan Pajjaiang, Kelurahan Sudiang Raya, Kecamatan Biringkanaya tiba-tiba saja disegel, Kamis pagi (4/5). Masing-masing SD Negeri Pajjaiang, SD Inpres I Pajjaiang dan SD Inpres Pajjaiang II.
Penyegelan dilakukan dengan cara menutup pintu gerbang sekolah lalu dikunci menggunakan rantai besi berukuran besar. Ada dua pintu gerbang di kompleks sekolah ini. Masing-masing di sebelah kiri dan kanan.
Di pintu gerbang yang terbuat dari besi itu kemudian dipasangi spanduk berukuran besar pula. Salah satunya yang terbuat dari tripleks ditulis warna merah; Sekolah ini ditutup. Akan dibuka setelah ada ganti rugi lahan.
Sedangkan di pintu gerbang satunya lagi, spanduk kain berwarna kuning bertuliskan merah pula. Bunyinya; Pemberitahuan. Untuk sementara proses belajar di dalam sekolah SD dinonaktifkan, berhubung lahan yang ditempati pembangunan sekolah belum ada ganti rugi dari pihak pemerintah. Di bawah kanan spanduk besar berwarna kuning itu tertera; Ahli Waris H Badjida.
Akibat penyegelan ini, sedikitnya 1.500-an murid SD telantar. Mereka yang mengenakan seragam batik dan pakaian olahraga telah datang sejak pagi hari untuk menimba ilmu. Namun apa daya, tujuan untuk belajar akhirnya kandas pagi itu.
Banyak yang kaget atas situsasi ini. Ada diantaranya yang menangis. Utamanya murid perempuan. Sebagian lagi mencoba menggugah perasaan dengan kalimat-kalimatnya.
”Buka pagar sekolah. Kami mau masuk sekolah,” kata beberapa murid dengan suara lirih, hampir bersamaan.
Ibu dan bapak guru kemudian mencoba menenangkan anak didiknya. Ketika matahari sudah mulai meninggi, murid-murid itu lalu duduk-duduk di pinggir jalan depan sekolahnya.
Tidak lama berselang, sejumlah personel kepolisian dari Polsek Biringkanaya tiba di lokasi. Bersama pihak sekolah, polisi mencoba mencari solusi masalah ini.
Kira-kira pukul 10.00 Wita, disepakati untuk dilakukan pertemuan dengan pihak yang mengklaim sebagai ahli waris. Pertemuan berlangsung di rumah Burhanuddin, salah seorang putra almarhum H Badjida. Lokasinya masih di Jalan Pajjaiang, tak jauh dari sekolah yang disegel. Hadir pihak sekolah, kelurahan serta kepolisian.
Kepala SD Inpres I Pajjaiang Bustam yang ditemui usai pertemuan, mengatakan murid-muridnya tak bisa mengikuti proses belajar mengajar di dalam kelas, karena sekolah disegel oleh pihak yang mengklaim sebagai ahli waris.
”Hari ini (kemarin), anak-anak kita beri pelajaran di luar sekolah. Tapi tidak lama. Karena banyak yang berteriak-teriak mau sekolah. Mau masuk ke dalam kelas,” ujar Bustam.
Bustam menjelaskan hasil pertemuan. Burhanuddin selaku perwakilan ahli waris, mengatakan bahwa pihaknya sudah dua tahun terakhir menyampaikan persoalan ini ke Pemkot Makassar. Hanya saja tak pernah digubris.
”Dia mengaku sudah pernah melarang untuk menggunakan sekolah tersebut. Namun, penyegelan baru dilakukan pada Rabu malam (3/5) pukul 21.00 Wita. Alasannya, meski lokasi tersebut diklaim sudah diwakafkan, tapi tidak ada hitam di atas putih,” terang Bustam.
Aksi penyegelan ini membuat resah Bustam dan guru lainnya. Karena dua minggu lagi murid-muridnya akan melaksanakaan ujian nasional.
”Ini yang kita cemaskan, karena anak-anak mau ujian. Jangan sampai persoalannya berlarut-larut. UPTD sudah usahakan agar ada solusi yang didapatkan. Kalau tidak, kita terpaksa cari tempat yang lain untuk anak-anak ujian,” tandasnya.
Kepala SD Negeri Pajjaiang Hj Intan, mengatakan seharusnya jika memang ada persoalan terkait lokasi sekolah, janganlah murid yang dikorbankan. ”Kasihan kan. Apalagi diantara murid di sekolah ini, ada juga anaknya (ahli waris H Badjida). Masa’ sampai disegel begini,” cetusnya.
Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto sangat menyayangkan penyegelan oleh pihak yang mengklaim sebagai ahli waris untuk meminta pembayaran ganti rugi. Mestinya, kata dia, pihak yang mengaku sebagai ahli waris menyelesaikan masalah secara hukum. Yakni melakukan gugatan yang ditujukan ke Pemerintah Kota Makassar.
”Kita sayangkan itu. Karena seharusnya masalah ini diselesaikan secara hukum. Kalau mengaku itu lahannya dan punya bukti, gugat kami. Saya sudah minta ke camat dan Dinas Pertanahan untuk menyelesaikan itu,” kata Danny, kemarin.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanahan Kota Makassar Manai Sophian menegaskan, pemkot tidak akan melakukan pembayaran ganti rugi lahan kompleks SD Inpres Pajjaiang. Sebab lokasi tersebut telah lama terdaftar aset pemkot.
Sehingga, untuk memastikan itu benar-benar lahan milik warga, harus dibuktikan dengan melakukan gugatan dan diputuskan di pengadilan.
“Itu tanah pemerintah kota yang sudah lama dibanguni sekolah. Tiba-tiba ada orang yang mengaku sebagai tanahnya. Yang jelas, untuk membuktikan itu benar tanahnya, harus gugat pemerintah kota,” tandasnya.
Melakukan penyegelan dan meminta pembayaran ganti rugi lahan tanpa melakukan gugatan, menurut Manai, merupakan sebuah tindakan penyerobotan lahan yang sudah jelas melanggar. Karena itu, agar masalah ini dapat segera diselesaikan, pemerintah kota dalam waktu dekat akan melaporkan ke pihak berwajib. Sebab tindakan penyegelan itu dinilai telah mengganggu, serta upaya penyerobotan lahan milik Pemerintah Kota Makassar.
“Kami tidak bakal bayar kalau bukan melalui pengadilan. Gugat kami. Ini saya tinggal tunggu petunjuk dari Pak Wali. Saya mau laporkan, karena itu sudah mengganggu. Nanti saya mau laporkan upaya penyerobotan. Kasihan negara kalau begini modelnya. Sedikit-sedikit ada orang yang mengklain lahannya,” tegasnya.
Terpisah, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Makassar Muh Hasbi, berjanji akan mencarikan tempat pemampungan sementara untuk murid kompleks SD Inpres Pajjaiang. Agar mereka bisa melakukan proses belajar seperti biasa, sembari menunggu hasil dialog yang akan dilakukan bersama pihak terkait.
“Kita tunggu saja, karena ini masih mau mediasi. Kita usahakan mencari tempat penampungan sementara di sekitar sekolah,” terang Hasbi, kemarin. (ita-arf/rus)
TANGGAL 2 Mei setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Ada banyak asa di tiap kali peringatan yang juga merupakan hari ulang tahun Ki Hajar Dewantara ini. Pendidikan murah dan berkualitas menjadi salah satunya.
Namun, rupanya harapan yang ditambatkan, terutama oleh kaum lemah dan miskin itu masih jauh panggang dari api. Di Sulawesi Selatan secara umum, dan Kota Makassar khususnya, masih banyak duka yang melingkupi dunia pendidikan.
Di sebuah rumah panggung yang dindingnya terbuat dari gabungan seng dan tripleks. Terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan 11.
Disinilah Harniati tinggal. Ia bukanlah siapa-siapa. Melainkan murid kelas 5 Sekolah Dasar Inpres (SDI) Pannara, Jalan Antang Raya, Kecamatan Manggala, Kota Makassar.
Kesehariannya dalam menimba ilmu, menjadi salah satu potret miris kehidupan salah satu sudut Kota Makassar. Duka begitu dominan.
Setiap hati, Hasniati yang biasa disapa Ulli ini harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk sampai di sekolahnya. Kira-kira 12 kilometer.
Sebelum di SDI Pannara, sebenarnya Hasniati bersekolah di SD Panaikang. Meski lokasinya tak terlalu dekat dari tempat tinggalnya, namun ongkos yang mesti dikeluarkan tidaklah banyak. Namun karena sekolah tersebut digusur, mau tidak mau dia pun harus pindah ke Antang.
Ulli harus berjuang sendiri untuk bisa bertahan hidup dan bersekolah. Kedua orangtuanya telah berpisah. Ayahnya Asri Muin (47) telah menikah lagi dan hidup bersama istri keduanya. Begitu pula dengan ibundanya Anna (38). Juga telah memutuskan menikah lagi dan kini menetap di Jeneponto bersama suaminya.
Sejak ditinggal kedua orangtuanya, Ulli dirawat kakeknya Bandi (62) dan neneknya Sia (58). Bandi berprofesi sebagai buruh bangunan di Kabupaten Bone. Sementara Sia biasa mencari nafkah dengan apa saja yang bisa dikerjakannya.
Sebagai pelajar dari keluarga miskin, Ulli mendapatkan bantuan siswa miskin (BSM) dari pemerintah. Besarannya Rp50 ribu per bulan.
Namun, jumlah itu jauh dari mencukupi. Ulli tak mampu membiayai kebutuhan sekolahnya. Jangankan untuk membeli buku, ongkos berangkat dan pulang sekolah saja tidak terpenuhi.
”Dulu juga jauh sekolahku. Tapi satu kaliji naik petepete. Sekarang sudah pindahmi. Harus dua kali naik petepete sama adikku. Biasa saya bayar pergi dan pulang Rp20 ribu,” tutur Ulli yang ditemui di rumahnya, Senin (1/5).
Ditanya kenapa tidak pindah saja ke sekolah yang lebih dekat? Ulli menjawab dengan polos. ”Kakekku tidak punya uang untuk pindahkan saya,” ujarnya.
Karena persoalan biaya transportasi dan sekolah, Ulli sering membolos. Apalagi, kakeknya harus membiayai sekolah cucunya yang lain.
Bukan hanya Ulli yang kini dipelihara oleh Bandi dan Sia. Ada cucu lainnya tinggal serumah dengan mereka. Ulli ada lima bersaudara. Sementara sepupunya yang lain berjumlah empat orang. Semuanya tinggal di rumah panggung yang didirikan Bandi.
”Bukan cuma saya nabiayai nenekku. Ada juga adikku dan sepupuku. Orangtuaku tidak ada di sini,” tuturnya.
Ulli lalu mengungkap sesuatu yang sebenarnya cukup berisiko dilakukan oleh seorang pelajar perempuan. Sesekali, jika uangnya tidak cukup untuk pulang, ia meminta tumpangan kepada pengendara motor yang lewat. Harapannya satu, bisa dibonceng pulang dan tiba dengan selamat di rumah. Tak ada rasa takut yang melingkupinya kala itu.
Sia, nenek Ulli menceritakan tentang pahit getirnya merawat dan menyekolahkan sang cucu. ”Setelah bapaknya menikah lagi, dia tidak pernah muncul lihat anaknya. Kalau ibunya, biasa nakunjungi anaknya dua bulan sekali dan memberikan biaya seadanya,” kata Sia.
Biasanya, tambah sang nenek, bila kakeknya tak punya uang, ia meminta Ulli untuk tidak pergi sekolah. ”Jadi tidak sekolah dulu dia kasihan kalau tidak ada uang. Karena untuk makan saja kita susah. Nanti ada lagi yang pemberian dari omnya, baru saya kasih uang untuk sekolah. Apalagi bukan cuma Ulli yang saya biaya. Tapi banyakki,” cetus Sia.
Karena keterbatasan biaya, Sia mengakui, ada beberapa cucunya yang terpaksa putus sekolah. Meski begitu, ia tetap berusaha sebiasa mungkin guna menyekolahkan cucunya yang lain setinggi kemampuannya.
”Kadang itu kodong, setelah pulang sekolah cucuku pergi membantu menjual lauk. Atau biasa bantu cuci piring atau bersihkan warung. Setelah itu baru saya kasih uang jajan,” bebernya.
Nenek Sia berharap, suatu saat nanti ada perhatian dan bantuan pemerintah untuk cucu-cucunya yang kini tengah menempuh pendidikan. Minimal, biaya sekolah hingga mereka lulus sekolah menengah atas (SMA).
Kisah yang jauh beda dilakoni Sitti Hijayanti. Ia kini duduk di bangku kelas VIII SMP Negeri 21 Makassar.
Siswi kelahiran 11 November 2003 ini dulunya hampir tidak dapat melanjutkan pendidikan selepas lulus dari SD Inpres Gunung Sari Baru. Apalagi kalau bukan karena karena keterbatasan biaya orangtuanya yang berprofesi sebagai pemulung.
“Sempat sedih pas lulus SD. Karena ikut tes takut tidak lulus di sekolah negeri. Kalau tidak lulus sekolah negeri, tidak bisa sekolah karena tidak ada biaya,” ungkap Ija, sapaan akrabnya.
Untuk ke sekolah, Ija mesti menempuh jarak dari rumah dengan sekolah kurang lebih lima sampai enam kilometer. Artinya, 12 km perjalanan harus ia tempuh setiap hari untuk bersekolah. Namun, Ija tak pernah merasa lelahnya berjalan kaki demi menimba ilmu.
“Rumah di Bangkala. Kalau mau ke sekolah, jalan pintas lewat tanggul berjalan kaki ke Jalan Karunrung kompleks Minasa Upa. Kalau ada becak motor yang dikenal, biasa minta tolong menumpang sampai jalur yang sama dengan mengarah pangkalan bentornya. Berangkat jam enam pagi. Saya usahakan harus ada disekolah jam 07.15. Jarak tempuh kurang lebih satu jam dengan berjalan kaki,” ujarnya.
Tak beda dengan Ulli, Ija mendapat bantuan biaya pendidikan melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP). Ija termasuk siswa yang berprestasi dibadingkan dengan teman kelasnya yang memiliki fasiltas.
“Satu kelas 38 siswa. Saya masuk rangking 10 besar. Dapat biaya sekolah melalui KIP Rp750 ribu per semester. Diterima di Bank BRI. Biasanya dipakai untuk beli perlengkapan sekolah. Biasa saya diberi juga uang jajan Rp 2.000 atau Rp3.000, tapi jarang saya belanjakan. Karena sebelum sekolah saya sarapan,” jelas Ija
Sebagai siswa Ija sering mendapat tugas kelompok yang harus dikerjakan bersama teman-temannya, bila dirinya mendapat tugas kelompok, Ija harus berpikir dulu untuk mengikuti tugas kelompok yang dikerjakan di rumah temannya. Karena dia harus membantu
orang tuanya membersihkan dan memilah hasil memulung.
“Bantu-bantu orang tua. Kalau libur biasa ikut memulung,” kata Ija.
(ita-jun/rus)
Penghargaan dan Sertifikat:
Copyright © 2026 Berita Kota Makassar. All Rights Reserved.

