MAKASSAR, BKM — Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo merealisasikan janjinya. Ujicoba pengoperasian underpass simpang lima resmi dilakukan, Minggu (18/6).
Tiba di lokasi, sesaat setelah turun dari kendaraan dinasnya, terlihat mata orang nomor satu di Sulsel itu berkaca-kaca. Ia seolah tak mampu menyembunyikan rasa haru dan bahagia, karena infrastruktur jalan yang ditunggu-tunggu kehadirannya itu sudah bisa difungsikan.
Penggunaan underpass simpang lima Tol-Mandai ditandai dengan penandatanganan prasasti. Mobil gubernur juga melakukan lintasan perdana dan melewati lajur kiri dan kanan sebanyak dua kali.
Underpass simpang lima itu memang sengaja dikebut pengerjaannya, agar bisa dilalui para pemudik pada H-7 hingga H+7 lebaran Idul Fitri.
Kepala Bidang Pembangunan dan Pengujian Balai Besar Jalan Nasional Wilayah XIII Makassar, Budiamin mengatakan, progres jalan bawah tanah yang kemudian diberi nama Underpass Simpang Sayang itu sudah rampung sekitar 96 persen. Ditargetkan keseluruhan pekerjaan bisa selesai 11 Juli 2017 mendatang.
Dia mengatakan, pembukaan sementara untuk mengatasi kemacetan selama periode arus mudik. Artinya, selama 14 hari ke depan, jalan tersebut bisa difungsikan pengguna jalan.
”Selanjutnya akan kembali ditutup untuk merampungkan ornamen-ornamen yang belum sepenuhnya selesai. Juga penyelesaian kolam air mancurnya,” ujar Budiamin.
Undarpass Simpang Sayang ini memiliki panjang mencapai 1,05 km, dengan panjang terowongan 110 meter dan lebar beton 20,6 meter. Untuk pembiayaannya, proyek ini dialokasikan multiyears dengan total dana Rp169,63 miliar.
Sementara Syahrul mengatakan, underpass merupakan rekayasa jalan yang diwujudkan sebagai bentuk komitmen bersama untuk pembangunan bangsa dan negara.
Dia menekankan, underpass Simpang Sayang merupakan terowongan bawah tanah atau tunel pertama yang ada dan dibangun di Kawasan Timur Indonesia.
Syahrul menambahkan, proyek underpass ini sangat penting perannya untuk melayani lalulintas regional maupun keluar masuk bandara yang terjadi lima kurun waktu terakhir.
“Kita semua menjadi saksi sejarah. Menjadi orang pertama yang melintas di underpass pertama di Indonesia Timur ini. Dengan ucapan Bismillahirahmanirahim, saya fungsikan underpass Simpang Lima Sayang ini,” tandasnya.
Tidak lama setelah diresmikan pengoperasiannya, para pengguna jalan langsung meramai-ramai melewati underpass. Bahkan ada diantaranya yang sengaja mengabadikannya dengan berswafoto di pinggir jalan. (rhm/rus)
WAJO, BKM — Aparat Polres Wajo mengungkap kasus penculikan anak yang terjadi di wilayah hukumnya. Seorang ibu rumah tangga (IRT) bernama Indo Tuo alias Amel (34) berhasil ditangkap, Selasa (13/6) pukul 16.00 Wita.
Warga Desa Tellesang, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo itu sebelumnya dilaporkan menculik seorang bocah bernama Cici Ardina. Anak berusia 3 tahun itu beralamat di BTN Firasat Kafling nomor 6.
Peristiwa berawal pada hari Sabtu (10/6) pukul 06.00 Wita. Saat itu pelaku datang ke rumah orang tua korban. Ia meminta izin untuk membawa Cici untuk membeli kerupuk di sebuah warung yang berada di Dusun Anabanuangnge, Kecamatan Keera, Kabupaten Wajo.
Karena warung tersebut milik keluarganya, orang tua korban tak menaruh curiga. Iapun memperbolehkan Amel membawa Cici pergi berbelanja. Saat itulah pelaku membawa korban dan tak kunjung dipulangkan.
Hari itu juga orang tua korban melapor ke Unit Reskrim Polsek Keera. Selanjutnya, pihak polsek melimpahkan berkas laporan tersebut ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Wajo. Laporan korban ke polisi terlampir dengan nomor: LP/486/VI/Sulsel/Res Wajo/Sek Keera, tertanggal 10 Juni 2017.
Unit PPA Polres Wajo bersama Reskrim Polsek Keera kemudian menindaklanjuti kasus tersebut. Setelah tiga hari dikejar, pelaku dibekuk di desa tempat tinggalnya. Selanjutnya, ibu rumah tangga ini digelandang ke Mapolres Wajo untuk menjalani pemeriksaan intensif.
”Di mana itu anak yang kamu culik?” tanya polisi kepada Amel ketika menginterogasinya.
Amel menjawab dengan mengatakan; ”Adaki di Soppeng, Pak. Dia baik-baikji.”
Tak menunggu waktu lama, petugas langsung bergerak ke lokasi yang disebutkan Amel. Selasa (13/6) pukul 22.00 Wita, pada sebuah rumah di Desa Leworeng, Kabupaten Soppeng, Cici Ardina berhasil ditemukan dalam keadaan selamat.
Kepala Bidang Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani mengkonfirmasi kebenaran kasus ini ketika dihubungi, kemarin. Kata dia, seorang perempuan pelaku penculikan anak telah diamankan dan sementara dalam pemeriksaan intensif di Unit PPA Polres Wajo.
Mengutip keterangan orang tua saat melapor, Dicky mengatakan, pelaku dikenali bekerja sebagai pelayan di sebuah warung milik keluarganya. Ia tak pernah mengetahui adanya niat Amel untuk menculik anaknya.
”Orang tua korban mengizinkan pelaku membawa anaknya untuk belanja di warung, karena pemilik warung masih keluarganya. Tak pernah terpikirkan kalau pelaku akan melakukan penculikan, karena dia bekerja sebagai pelayan di warung milik keluarga korban,” ujar Dicky, Rabu (14/6).
Polres Wajo masih memeriksa saksi terkait kasus ini. Sementara korban telah divisum. Korban mendapat pendampingan psikis untuk memulihkan trauma yang dialaminya. (ish/rus)
MAKASSAR, BKM — Masa jabatan Ibrahim Saleh selaku sekretaris kota (sekkot) Makassar tinggal menghitung hari. Ia akan memasuki masa purnabakti pada 1 Juli mendatang.
Menyusul semakin dekatnya tenggat waktu itu, pelaksana tugas (plt) sekkot menjadi perbincangan hangat. Pertanyaannya, siapa yang bakal menduduki jenjang karir tertinggi aparatur sipil negara (ASN) di lingkup Pemkot Makassar itu?
Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto sebenarnya sudah mengantongi satu nama. Bahkan nama tersebut telah diserahkan ke Pemprov Sulsel guna diproses. Dia adalah pejabat senior eselon II di pemkot. Hanya saja, orang nomor satunya Makassar ini belum bersedia menyebutkannya secara rinci.
”Satu nama sudah diserahkan ke pemprov. Pejabat terpilih tentunya yang senior, baik dari segi pangkat maupun golongan. Kalau namanya, nantilah,” kata Danny, sapaan akrab wali kota, Selasa (13/6).
Selain itu, tambah Danny, satu nama tersebut merupakan pejabat yang bebas dari masalah hukum.
Lalu kapan nama plt sekkot diumumkan? Wali kota belum dapat memastikan waktunya. Sebab dirinya juga menunggu proses yang berlangsung di pemprov.
”Tergantung dari pemprov. Kalau sudah ada hasilnya, pasti kita umumkan,” tandasnya.
Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulsel, Abdul Latif membenarkan jika usulan nama plt sekkot sudah ada di Pemprov Sulsel. Seperti halnya Danny, sekprov juga enggan membocorkan nama yang diusulkan.
“Besokpi (hari ini) saya kasih tahu namanya,” ujarnya di kantor gubernur, kemarin sore.
Yang jelas, kata Latif, nama itu merupakan salah satu staf Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto. Nama tersebut akan disampaikan terlebih dahulu ke gubernur untuk mendapat persetujuan.
“Usulannya sudah ada. Pelaksana tugas itu nantinya persiapan 1 Juli bertugas, karena Sekkot Ibrahim Saleh sudah memasuki masa pensiun,” terangnya.
Sementara untuk sekkot definitif, kata Abdul Latif, akan melewati proses seleksi melalui panitia seleksi (pansel).
Ketika ditanyakan ulang sekaitan nama yang diusulkan pemkot untuk menjadi plt sekkot, Abdul Latif melimpahkannya ke kepala BKD (Badan Kepegawaian Negara). “Coba tanyakan ke kepala BKD,” kelitnya.
Namun, ketika BKM menghubungi Kepala BKD Sulsel, Ashari Fakhsirie Radjamilo, ditegaskan jika belum ada usulan dari pemkot. “Belumpi. Belumpi. Mungkin dua atau tiga hari saya informasikan, ” kilahnya. (arf-rhm/rus)
MAKASSAR, BKM — Siang di hari ke 14 bulan ramadan. Umat muslim di Jalan Seroja, Kecamatan Mariso, Makassar baru saja pulang usai menunaikan salat Jumat (9/6). Kira-kira pukul 14.00 Wita.
Seorang pemuda, yang belakangan diketahui bernama Suanad alias Saiful alias Iful (24) terlihat pulang ke rumah di Jalan Seroja Lorong 307, Kelurahan Kampung Buyang. Ia tampak menenteng sebuah jerigen. Isinya ternyata bensin.
Ketika masuk di dalam rumah, Iful mendapati ayahnya, Dg Sattu sementara tidur. Ada pula istrinya Sania bersama anaknya Acce. Sania merupakan ibu tiri Iful. Sedangkan Acce adalah adik tiri Iful, buah pernihakan Dg Sattu dan Sania.
Tanpa basa basi Iful berbuat sadis. Ia menyiramkan bensin yang dibawanya ke atas tempat tidur. Bahan yang mudah terbakar itu kemudian disulutnya dengan menggunakan korek api.
Dalam hitungan detik kasur langsung terbakar. Api pun menyambar tiga sosok tubuh yang berbaring di atasnya. Dg Sattu, Sania dan Acce yang dalam kondisi tertidur tak bisa menghindari api. Sebagian anggota tubuhnya terbakar dan melepuh.
Warga sekitar kejadian yang mencium bau kasur terbakar dari dalam rumah Dg Sattu langsung berdatangan. Mereka berusaha menolong dan mengevakuasi ketiga korban. Sebagian diantaranya mencoba memadamkan api dengan peralatan seadanya. Ketiga korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara menggunakan mobil patroli polisi. Lokasi kejadian memang dekat dari Mapolsek Mariso.
Anak Sania, Gilang (15) yang saat kejadian berada di luar rumah, menuturkan Iful membakar ayah dan ibu tirinya gara-gara motornya rusak. ”Saat distater di lorong, motornya tidak bisa bunyi. Dia marah lalu mengambil jerigen isi lima liter. Jerigen itu kemudian diisi bensin dari dalam tangki motornya menggunakan selang. Bensin itu dipakai menyiram kasur lalu dibakar,” ujar Gilang di lokasi kejadian.
Usai melakukan aksinya, Iful langsung keluar dari kamar dan melarikan diri. Diduga, selain gegara motornya rusak, pelaku nekat berbuat sadis seperti itu karena dia sering mengonsumsi obat-obatan daftar G.
Warga yang khawatir rumahnya ikut terbakar, langsung menelepon Dinas Pemadam Kebakaran. Tidak lama kemudian beberapa unit mobil damkar datang. Hanya saja, mereka tidak bisa masuk ke TKP karena lokasinya berada di lorong yang lebarnya hanya satu meter.
Beruntung, warga bisa cepat menjinakkan api dalam rumah korban hingga tidak menjalar. Padahal, lokasi tersebut merupakan pemukiman padat penduduk.
Kapolsek Mariso, Kompol Wahyu Basuki mengatakan, pelaku sudah diketahui identitasnya. ”Pelakunya masih dalam pencarian anggota di lapangan. Jika sudah tertangkap, baru bisa diketahui pasti motif pembakaran terhadap ayah dan ibu tirinya. Kejadiannya sudah dilaporkan ke Polrestabes Makassar,” terang Kompol Wahyu.
Kepala Dinas Damkar Kota Makassar, Imran Samad mengatakan, pihaknya telah melakukan upaya penanganan secara maksimal kebakaran yang terjadi di sebuah rumah tinggal Jalan Seroja. Dalam kejadian ini, tiga orang menjadi korban dan mengalami luka bakar.
”Dua orang dewan dan satu anak-anak jadi korban. Kita tidak tahu apa pemicunya. Yang jelas, kebakaran sudah teratasi,” ujar Imran.
Tentang pemicu peristiwa ini, Imran mengatakan sementara dalam penyelidikan polisi. ”Informasinya, diduga berawal dari masalah rumah tangga. Pelaku melakukan pembakaran hingga menyebabkan bapak, ibu tirinya serta adik tirinya terluka bakar,” terang Kadis lagi.
Sekretaris Kecamatan Mariso, Juliaman juga turun langsung ke lokasi kejadian. Menurutnya, usai melakukan aksinya, pelaku mengunci pintu dari luar lalu pergi.
Pihak kecamatan memfasilitasi korban untuk dibawa ke rumah sakit. Bekerja sama dengan aparat dilakukan pencarian terhadap pelaku.
Warga sekitar lokasi kejadian, menurutkan Iful bekerja sebagai tukang parkir di depan Toko Agung. Entah kenapa, tiba-tiba ia pulang dan menyiramkan bensin ke atas tempat tidur.
”Orangnya normal. Tidak adaji gangguan jiwa,” ujar Syaharuddin Rasyid Dg Sila, salah seorang warga setempat
”Dari kecil saya lihat dia, karena tetangga saya. Saya sudah 15 tahun jadi ketua RW. Secara kejiwaan dia normal,” jelas Ketua RW 4 Kelurahan Kampung Buyang. (jul-ucu-jun/rus/c)
SINJAI, BKM — Ini kisah miris yang dialami warga Desa Pulau Harapan, Kecamatan Pulau Sembilan, Kabupaten Sinjai. Zainuddin yang sehari-harinya beprofesi sebagai nelayan harus kehilangan putri semata wayangnya, Fitri (25) karena sakit.
Tapi bukan itu penyebabnya Zainuddin menjerit. Melainkan karena anaknya terlambat mendapat pertolongan medis hingga mengembuskan nafas terakhirnya.
Tak sampai disitu. Iapun harus merogoh kantong cukup dalam untuk memulangkan jenazah anaknya ke rumah duka di Desa Pulau Harapan. Uang Rp2 juta mesti dikeluarkannya guna membayar sewa perahu. Sebagai nelayan pesisir yang tergolong miskin, biaya tersebut sangat memberatkannya. Ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Jasad Fitri dipulangkan dengan cara dibaringkan di atas palka perahu berukuran kecil, Rabu (7/6) sore. Dengan menggunakan perahu jenis ini, perjalanan dari Kota Sinjai menuju Desa Pulau Harapan membutuhkan waktu kira-kira setengah jam.
Jauh sebelum terbentuk menjadi Kecamatan Pulau Sembilan, warga setempat sudah terbiasa menanggung biaya transportasi guna menyeberangkan jenazah kerabatnya yang meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sinjai ke masing-masing pulau. Saat ini ada empat desa di empat pulau yang berpenghuni kurang lebih wajib pilih 3.500 jiwa.
Kisah sedih Zainuddin bermula ketika anaknya, Fitri sakit. Ia kemudian dibawa ke Puskesmas Pulau Sembilan guna mendapat perawatan medis.
Beberapa jam Fitri berada di pusat kesehatan masyarakat itu. Hanya saja, ia tak kunjung mendapat penanganan dokter. Akhirnya, Fitri kemudian dibawa ke RSUD Sinjai.
Fitri dirawat di Puskesmas Pulau Sembilan pada Minggu (3/6). Kurang lebih 10 jam berada di tempat tersebut, Fitri tak kunjung ditangani dokter.
”Dokter yang seharusnya mengambil tindakan medis tidak ada di tempat. Hanya ada beberapa perawat honorer yang tidak berani mengambil risiko,” kata Murlan (30), salah seorang kerabat Fitri, kemarin.
Diakui Murlan, apa yang menimpa sepupunya ini sudah sering terjadi di Puskesmas Pulau Sembilan. ”Yang lalu-lalu sudah banyak pasien yang tidak dapat penanganan dokter di puskesmas, terpaksa dilarikan ke RSUD Sinjai. Lucunya, di puskesmas sudah disiapkan rumah dinas dokter dan perawat yang dibangun pemerintah,” terang Murlan.
Sejatinya, Puskesmas Kecamatan Pulau Sembilan memiliki rawat inap 24 jam. Bahkan bangunan dan fasilitasnya tergolong memadai. Mempunyai dua unit speed boat. Termasuk petepete (perahu) yang sehari-harinya diperuntukkan mengantar jemput dokter, bidan dan perawat.
”Setiap tahun bangunan puskesmas selalu dipoles. Mobiler hingga rumah dinas dokter, perawata dan bidan tertata rapi. Namun, kinerja tim medis jauh dari memuaskan. Bahkan sejak adanya petepete (perahu), jam kerjanya seakan berkurang,” beber Murlan.
Ironisnya, tambah dia, ketika delapan kecamatan di Sinjai mendapatkan mobil ambulance dari pemerintah, masyarakat Kecamatan Pulau Sembilan seakan tak dilirik oleh Pemkab Sinjai. Tak ada bantuan mobil ambulance untuk daerah ini.
Warga Pulau Harapan sudah menganggap lumrah jika harus mengeluarkan biaya cukup besar guna memulangkan jenazah dari RSUD Sinjai ke desanya. Mereka yang tak memiliki perahu pribadi, seperti Zainuddin, harus menanggung biaya transportasi penyeberangan jenazah meskipun tergolong kurang mampu.
”Biasanya, kalau ada warga miskin yang berduka, kami saling bantu untuk meringankan beban transportasi jenazah,” jelas Murlan yang merupakan keponakan Zainuddin.
Kepala Puskesmas Pulau Sembilan, Muh Asri mencoba berkelit ketika dihubungi BKM via handphone, kemarin. Khususnya soal bangunan perumahan dinas yang disiapkan untuk dokter, bidan dan perawat puskesmas.
”Sedikit gambaran saya sampaikan, sekarang di Puskesmas Pulau Sembilan memang ada dokter PNS yang bertugas. Tapi tidak tinggal menetap, karena gajinya sama dengan dokter yang bertugas di kota. Tidak ada tunjangan daerah terpencil. Selain itu, kondisi rumah dinas juga tidak layak huni,” terangnya.
Meski begitu, dia mengklaim jika dokter dan petugas media lainnya tetap siap dihubungi jika ada pasien yang hendak ditangani.
”Untuk pasien bernama Fitri, memang harus dirujuk ke RSUD Sinjai. Makanya diberikan rujukan,” ujarnya.
Dia berharap, Puskesmas Pulau Sembilan mendapat perhatian. Terutama pengadaan ambulance rujukan, ambulance mayat serta perumahan dokter, bidan dan perawat yang bertugas.
”Terus terang, Puskesmas Pulau Sembilan tidak diminati karena kondisinya yang tidak layak huni. Untuk itu saya berharap kepada pemerintah kabupaten, dalam hal ini Dinas Kesehatan untuk memperhatikan daerah terpencil seperti Pulau Sembilan,” imbuh Asri.
Terpisah, Kepala Desa Pulau Harapan, Ambo Sakka mengatakan, usulan pengadaan transportasi jenazah sudah seringkali disampaikannya dalam musrenbang (musyawarah perencanaan pembangunan). Mulai dari tingkat desa hingga kecamatan. Namun tak mendapat respons.
”Saya selalu suarakan di musrenbang tingkat desa maupun kecamatan. Transportasi jenazah itu sangat dibutuhkan untuk meringankan beban warga Kecamatan Pulau Sembilan yang sedang berduka. Namun tidak pernah ditanggapi sampai sekarang,” keluhnya.
Pengakuan Asri diamini Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sinjai, Andi Suryanto Asapa. Kata dia, tahun ini Dinkes sudah merencanakan untuk membenahi fasilitas di Puskesmas Pulau Sembilan.
Terkait ambulance jenazah, Suryanto menegaskan bahwa itu bukan kewenangannya. Melainkan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra).
”Kalau dokternya yang bertugas di sana, waktu kejadian dia sedang sakit. Jadi tidak datang bertugas di Pulau Sembilan. Insya Allah, ke depan kami dari Dinas Kesehatan akan memperhatikan fasilitas dan pelayanan di sana agar lebih baik lagi,” tandasnya. (din/rus/b)
GOWA, BKM — Tarawih di malam kesebelas bulan ramadan, Senin (5/6) masih berlangsung. Umat muslim tengah khusyuk dalam ibadah.
Namun, di bulan penuh berkah ini tetap saja ada praktik menyimpang yang menodai kesucian ramadan. Salah satunya perbuatan mesum.
Malam itu, aparat Polres Gowa menggerebek penginapan Sejahtera yang terletak di jalan poros Pallangga, Kecamatan Pallangga. Tiga pasangan bukan suami istri diamankan dari kamar berbeda di lantai satu penginapan.
Mereka adalah perempuan NS (18) dengan lelaki Su (19). Perempuan IP (20) bersama pasangannya TA (21), serta perempuan HA (35) dengan lelaki AN (18).
Selain menemukan barang bukti pakaian masing-masing perempuan, polisi juga mendapati tisu magic bekas pakai oleh ketiga pasangan tersebut.
Kasat Sabhara Polres Gowa, AKP Alhabsi yang memimpin penggerebekan, mengatakan ketiga pasangan tersebut diduga sudah melakukan hubungan layaknya suami istri. Indikasinya, telah ditemukan tisu magic yang sudah dipakai. Ketiga pasangan mesum inipun kemudian digiring ke Mapolres Gowa untuk diproses.
Saat penggerebekan berlangsung, perempuan NU, warga Kecamatan Biringbulu sempat bersembunyi di dalam toilet kamar 103. Sementara pasangan lelakinya, Su awalnya mengaku hanya sendirian dalam kamar. Namun, petugas berhasil membuat Su mengakui kalau teman wanitanya berada dalam kamar kecil.
Saat digeledah, di bawah kasur tempat tidur kamar yang dipakai Su dan NU ditemukan pembungkus tisu magic bekas pakai. Kertas tisu tersebut merupakan alat penambah vitalitas bagi laki-laki.
Sementara di kamar lainnya, di kamar 105 yang digunakan pasangan IP (20), warga Kecamatan Bontoloempangang bersama lelaki TA (20), polisi juga mendapati tissu magic bekas pakai.
Di kamar 205, polisi menggerebek seorang janda beranak 3, HA (35) yang berasal Bajeng dengan kekasihnya AN (18). Ha kemudian mencari-cari alasan agar tak dibawa ke kantor polisi.
“Jangan maki bawaka ke kantor, Pak. Mauja menikah dalam waktu dekat. Saya pacaranji. Saya juga janda. Tiga anakku, Pak. Jadi janganmi dibawa, Pak,” pinta HA lirih kepada petugas.
Pengakuan senada datang dari AN, pacar HA. Warga Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar itu mengaku akan menikah dengan HA dalam waktu dekat.
“Iya, Pak. Betul itu, mauja nikah. Jadi janganmi saya dibawa ke kantor, Pak,” katanya penuh harap.
Meski demikian, pasangan yang berpaut usia cukup jauh ini dibawa ke Mapolres Gowa untuk didata dan dimintai keterangan. “Kita data dulu, selanjutnya kita akan serahkan ke reskrim untuk ditindaklanjuti,” kata AKP Alhabsi.
Berbeda HA dan AN, pengakuan perempuan IP dengan pasangannya TA lain lagi. IP dan TA sama-sama mengaku hanya mampir sementara di penginapan itu untuk istrahat sejenak, sebelum menuju ke sebuah rumah sakit di Makassar.
“Saya tidak berbuat apa-apa, Pak. Saya mau ke RS di Makassar. Saya hanya istrahat, Pak,” kelit TA.
Namun, pengakuan TA dinilai tak wajar oleh petugas. Karena pasangan perempuannya, IP yang diakui sebagai keluarga, ternyata menyimpan bra warna hijau di dalam kamar mandi. Sementara celana dalam TA juga, ada di dalam kamar mandi tersebut bersama dengan handuk dan diletakkan di bawah ember.
Menurut Kasat Sabhara, operasi penyakit masyarakat yang melibatkan personil gabungan intel, lalulintas, sabhara, satnarkoba dan reskrim akan terus dilakukan selama Ramadan. (sar/rus)
MAKASSAR, BKM — Empat tersangka begal diringkus tim Unit Resmob Polda Sulsel di tempat berbeda. Mereka diidentifikasi telah beraksi di 28 lokasi dalam wilayah Makassar dan sekitarnya.
Keempatnya adalah Muh Yusuf (17), warga Glora Pajjaiang Indah Blok A. Gunawan (19), beralamat di Perumahan Permata Sudiang Raya. Andi Syahrir (19), bermukim di Perumahan Permata Sudiang Raya Bolok G nomor 16. Serta M Ammar Mursyid (21), penduduk Nusa Harapan Permai Blok G nomor 2.
Pengungkapan kasus ini berdasarkan laporan korban yang dibegal di Perumahan Permata Sudiang Raya. Juga laporan polisi nomor: LP/1150/XII/2016/SPKT/Gowa tertanggal 18 Desember 2016, serta sejumlah laporan lainnya. Oleh kepolisian setempat, laporan para korban kemudian diserahkan dikoordinasikan ke Tim Unit Resmob Polda Sulsel untuk ditindaklanjuti.
Pada hari Senin (29/5), tim resmob langsung bergerak melakukan pengejaran. Yang pertama dibekuk adalah Muh Yusuf. Ia diketahui tengah berada di kediamannya Glora Pajjaiang Indah Blok A nomor 12 Makassar.
Petugas kemudian mendatangi tempat tersebut dan memblokade area perumahan. Jalannya penangkapan berlangsung dramatis.
Yusuf yang mengetahui kedatangan polisi, mengendap-endap untuk mengintip. Kemudian mencoba kabur dengan melompat jendela. Sempat terjadi aksi kejar-kejaran. Namun, upaya pelariannya tak berbuah hasil. Karena lokasi tersebut telah dikepung petugas.
Sejumlah pria berbadan tegap menenteng senjata mencegatnya. Yusuf pun akhirnya pasrah. Selanjutnya ia digiring ke posko Resmob Polda untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Kepada polisi yang menginterogasinya, Yusuf mengaku telah melakukan aksi begal pada 28 lokasi di Kota Makassar. Tapi ia tak sendirian. Melainkan bersama tiga temannya. Masing-masing Gunawan, Syahrir dan M Ammar Mursyid.
”Betul, Pak saya yang biasa melakukan begal di Jalan Perintis Kemerdekaan. Saya bersama tiga orang teman,” ujarnya.
Setelah mengantongi identitas tiga pelaku lainnya, polisi kemudian membawa Yusuf untuk melakukan pengembangan. Ia diminta menunjukkan lokasi persembunyian tiga rekannya.
Yang pertama didatangi adalah kediaman Gunawan. Tersangka berada di rumahnya. Awalnya, ia berkilah tidak terlibat dalam kasus begal. Namun, kelitan Gunawan langsung mentah ketika petugas memperlihatkan Yusuf. Diapun diringkus dan ikut digelandang untuk mencari dua rekannya yang masih tersisa.
Dihadapan polisi, Gunawan mengakui keterlibatannya dalam aksi kriminal jalanan di Perintis Kemerdekaan. Bahkan dia menyebut ada 10 titik tempatnya membegal bersama kawanannya.
”Kalau saya, Pak ada 10 titik. Lokasinya hanya di sekitaran Jalan Perintis Kemerdekaan,” katanya.
Tak butuh waktu lama bagi petugas untuk meringkus dua tersangka lainnya. Syahrir dan M Ammar diciduk di rumahnya masing-masing.
Dari pengakuan Syahrir, ia melakukan aksi begal di tujuh titik. Sementara M Ammar ikut kawanan ini beraksi di tiga titik.
Pemeriksaan intensif terhadap keempat komplotan ini usai pada Senin malam (29/5) pukul 23.30 Wita. Ternyata, masih ada lagi satu tersangka lain. Dia adalah M Ashak Ari Yahya (18), warga Jalan Permata Sudiang Raya Blok F nomor 11.
Keempatnya lalu dibawa menuju kediaman M Ashak. Sayang, tersangka yang satu ini tak ada.
Pengembangan kasus dilakukan. Yusuf, Gunawan, Syahrir dan M Ammar diminta untuk menunjukkan lokasi menyembunyikan barang hasil rampasannya.
Di tengah perjalanan, tiga dari keempat tersangka berbuat nekat. Mereka mencoba melarikan diri dari kawalan petugas. Tindakan persuasif berupa tembaka peringatan pun diberikan. Namun, ketiganya tak menghiraukan.
Moncong pistol lalu diarahkan ke bagian kaki ketiga tersangka. Enam kali letupan senjata menyarangkan dua butir peluru di kaki mereka masing-masing. Setelah tak berkutik, selanjutnya petugas mengevakuasinya ke RS Bhayangkara guna mendapatkan perawatan medis.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan, tiga tersangka yang mendapat tindakan tegas aparat adalah Gunawan, Amar dan Syahrir. ”Ketiganya ditembak karena mencoba melarikan diri saat dibawa untuk pengembangan kasus,” kata Dicky, Selasa (30/5).
Diakui Dicky, empat komplotan begal yang tertangkap ini dikenal cukup sadis. Mereka tidak segan-segan melukai korbannya saat melancarkan aksinya.
‘”Dari pengakuan keempat tersangka, mereka biasa menggunakan parang dan busur untuk mengancam korbannya. Sedikitnya ada 28 titik aksinya. Pengakuan itu kemudian kami cocokkan dengan laporan korban,” kata Dicky.
Dari penangkapan keempatnya, polisi ikut mengamankan sejumlah barang bukti. Diantaranya dua unit sepeda motor, sebilah parang, dua ketapel, dua buah anak panah, serta dua unit handphone. (ish/rus)
SINJAI, BKM — Banjir di wilayah selatan Sulsel kian meluas. Setelah sebelumnya Kabupaten Bulukumba yang terendam, kini giliran daerah tetangganya, Sinjai mengalami bencana serupa. Bahkan, dampak yang ditimbulkan lebih parah.
Ketinggian air di dalam Kota Sinjai mencapai 70 centimeter. Banjir dipicu hujan deras yang berlangsung dalam dua hari terakhir. Selain itu, juga terjadi longsor di beberapa titik.
Pantauan BKM, kemarin, rumah warga dalam kota Sinjai yang terendam banjir terdapat di Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Bulo-bulo Timur, Jalan Bulu Lohe, Jalan Tondong, Jalan Persatuan Raya dan Jalan Wolter Monginsidi.
Selain itu, di Jalan KH Agus Salim dan Jalan Baso Kalaka, serta ruas ruas jalan seputaran tempat pendaratan ikan di Kelurahan Lappa, Kecamatan Sinjai Utara. Sejumlah kantor milik pemerintah juga terendam.
Guna menghindari kerugian lebih besar, warga yang rumahnya terendam langsung mengevakuasi barang berharga miliknya, seperti motor dan mobil ke lokasi yang lebih tinggi.
Selain menggenangi ruas jalan, banjir juga menyebabkan fasilitas umum rusak parah. Salah satunya Stadion HA Bintang di Jalan Stadion Mini.
Dua sisi pagar stadion jebol akibat terjangan banjir yang terjadi pada Senin pagi (29/5). Kedua sisi tersebut terletak di sebelah utara dan selatan. Saat banjir, stadion kebanggaan masyarakat Sinjai ini berubah seperti danau.
Gedung sekolah di Kecamatan Sinjai Utara juga tak luput dari terjangan banjir. Seperti SD 122 Mangottong, SD 23 Biringere, SD 24 Biringere, dan SD 103 Bontompare.
Sekolah lainnya adalah SD 125 Karampue, SD 102 Larea-rea, SMA 2 Sinjai, SMK 1 Sinjai, SMK 2 Sinjai, serta SD 82 dan SD 149 Tokinjong. Kemudian SD 5 Lappa, SD 89 Lappa, MIN Lappa, serta TK Pembina dan SMP 2 Sinjai.
Di waktu yang sama, banjir juga melanda Kecamatan Sinjai Timur. Jalur yang menghubungkan Desa Panaikang dan Patalassang terputus, akibat derasnya arus air di wilayah tersebut.
Titik terparah berada di depan Mapolsek Sinjai Timur dan jalan poros Pattalassang. Bahkan satu unit minibus hanyut di sungai diterjang air bah. Di Desa Panaikang dan Pattalassang memang terdapat sungai besar, yang jaraknya sangat dekat dengan laut.
Selain banjir yang menggenangi ruas jalan, terjadi pula longsor di Kecamatan Sinjai Tengah. Daerah ini berada di jalan poros Sinjai-Malino, tepatnya di Desa Kanrung dan Talle.Bahkan di Desa Kanrung, terdapat retakan pada badan jalan akibat labilnya kondisi tanah.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sinjai, A Junaedi Mustafa mengkonfirmasi, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, kerugian materil diperkirakan mencapai ratusan juta.
”Kami sudah terjunkan personel ke lokasi yang terendam banjir sejak subuh hari. Khusus di kota Sinjai yang terdampak banjir, kami turunkan perahu karet untuk digunakan dalam proses evakuasi,” ujarnya, kemarin.
Longsor juga terjadi di Sinjai Selatan. Tepatnya di Lancibung, Desa Talle yang merupakan jalan poros Sinjai-Bulukumba.
Juhaefa (47), warga Lancibung mengatakan, longsor yang diperkirakan terjadi subuh hari, memutus akses transportasi yang hendak ke Sinjai kota. Begitupun sebaliknya, yang menuju arah Bulukumba.
”Andaikan tidak adaki besi pagar pengaman jalan, Pak sampaiki longsor di rumah. Ini memang tebing,” terangnya.
Menurut Juhaefa, ia dan warga lainnya hanya bisa melihat-lihat saja material longsoran yang menutup badan jalan karena tidak memiliki peralatan untuk memindahkannya. Mereka tidak bisa menggali dengan hanya menggunakan alat seadanya karena sedang berpuasa. Para pengendara harus bersabar, atau mencari jalan alternatif.
Tak lama kemudian, personel PU Binamarga datang ke lokasi dan menyingkirkan material longsoran. Pengerahan alat berat terkendala genangan air di tengah kota. Sekitar pukul 10.00 Wita, alat berat milik PU baru bisa sampai di lokasi longsor.
”Kami baru bisa melintas di Jalan Persatuan Raya sekitar pukul 09.00 Wita, karena terendam air setinggi 70 cm,” ungkap sopir alat berat PU Binamarga yang membersihkan material longsor.
Senin sore, ketinggian air telah surut. Warga korban banjir yang semula sempat meninggalkan rumahnya, telah kembali. Mereka membersihkan rumahnya dari sisa-sisa banjir. (din/rus/b)
MAKASSAR, BKM — Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan melipatgandakan pengamanan selama bulan puasa. Langkah tersebut diambil menyusul terjadinya teror bom di Kampung Melayu, Jakarta.
”Kita lipatgandakan petugas yang dikerahkan di lapangan untuk memberikan layanan keamanan kepada masyarakat. Sekaligus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan guna mengantisipasi tindak kriminal dan aksi kejahatan selama bulan ramadan,” kata Kapolda Sulsel, Irjen Pol Muktiono, Jumat (26/5).
Dia menyebut beberapa fasilitas umum dan vital yang menjadi titik pengamanan ekstra ketat. Yakni bandara, pelabuhan serta terminal.
”Tempat itu merupakan pintu keluar masuknya orang-orang, baik oleh warga Sulsel maupun dari luar,” ujarnya di sela-sela memimpin personelnya melakukan aksi bersih-bersih di Masjid Al-Markaz Al-Islami.
Orang nomor satu di jajaran Polda Sulsel itu telah menginstruksikan kepada jajarannya untuk bergerak sejak pagi guna melakukan antisipasi dini.
Sebelumnya, pada Kamis malam (25/5), Polda Sulsel menggelar rapat persiapan pengamanan selama ramadan. Untuk mengantisipasi terjadinya teror bom di wilayah hukum Polda Sulsel, sebanyak 4.135 personel dikerahkan.
”Personel ini sudah berada di lapangan sejak awal ramadan. Mereka dikerahkan untuk memberikan rasa aman serta nyaman kepada masyarakat Sulsel pada umumnya, dan Makassar khususnya. Pengamanan ini berlangsung hingga usai lebaran Idul Fitri,” terang Muktiono.
Kepala Bidang Humas Polda Sulsel, Kombe Pol Dicky Sondani merinci, personel yang diturunkan terdiri dari satuan Brimob dan Sabhara. ”Kalau jumlah personel yang dikerahkan jumlah keseluruhannya 4.153. Dari Brimob 2.000 orang, dan Sabhara 2.153 personel,” bebernya.
Para personel ini, tambah Dicky, bergerak untuk mengantisipasi teror serta pengamanan di lokasi yang telah dipetakan cukup rawan. ”Untuk saat ini, yang cukup vital itu bandara dan pelabuhan. Kalau terminal biasanya pada arus mudik,” terang Dicky.
Selain itu, lanjut Dicky, polisi juga ditugaskan berjaga di tempat-tempat ibadah. Seperti masjid hingga selesainya pelaksanaan salat tarwih.
”Tempat ibadah juga jadi prioritas pengamanan. Polisi berjaga sampai salat tarwih selesai. Kita ingin memastikan, dengan sinergitas masyarakat dan polisi, daerah kita aman,” tandasnya.
Terpisah, Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Endi Sutendi menyebut, pihaknya mengerahkan 300 personel untuk mengantisipasi terjadinya tindak kriminal di bulan ramadan. Mereka bertugas di masjid-masjid serta area bital.
”Seminggu sebelum lebaran nanti kami akan menggelar operasi ramadiyah untuk mengantisipasi terjadinya tindak kejahatan,” ujar Endi.
Diakui Endi, pihak kepolisian sektor (polsek) telah mengetahui tugas dan fungsinya setiap bulan suci ramadan. Mereka akan turun melakukan patroli dari lorong ke lorong dalam wilayah hukumnya.
”Setiap tahun, masing-masing polsek melakukan patroli setelah melaksanakan pengamanan salat tarwih. Ini untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat,” terangnya.
Mengenai elekton berjalan menggunakan mobil yang setiap tahunnya marak beroperasi, Endi mengimbau agar tidak mengganggu ketenangan masyarakat. Apalagi mereka biasa berkeliling kota di malam hari.
”Bisa membangunkan masyarakat, tapi jangan sampai mengganggu. Karena itu bisa membuat warga lainnya marah. Kan bisa timbul keributan. Jadi sebaiknya harus saling menjaga keamanan dan kenyamanan,” tandasnya. (ish/rus)
Penghargaan dan Sertifikat:
Copyright © 2026 Berita Kota Makassar. All Rights Reserved.

