SATU lagi bukti bahwa pandemi covid-19 mampu melahirkan inovasi agar sebuah usaha bisa bertahan. Selama 20 tahun berkiprah melayani tamu, Hotel Grand Palace Makassar mampu eksis hingga sekarang. Salah satunya dengan menciptakan kreasi baru.
EKSISTENSI GP –singkatan nama Grand Palace– di masa pandemi tak lepas dari tangan dingin seorang General Manager Andi Aridesa Pakki. Pria berdarah Bugis ini sudah tiga tahun menduduki posisi tersebut.
Menjadi tamu dalam siniar (podcast) untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, pria yang akrab disapa Ari ini bertutur tentang kondisi yang terjadi di awal pandemi melanda. ”Kami sangat-sangat merasakan kondisi saat itu. Tidak ada orang yang datang ke Makassar. Tidak ada bepergian. Tidak ada yang menginap,” ujarnya.
Agar bisa tetap beroperasi dan karyawan dapat bekerja, manajemen hotel melahirkan program dengan menjual makanan frozen. Juga aneka bumbu serta sambal. Untuk pengantarannya dilakukan sendiri tanpa menggunakan jasa transportasi daring.
”Itu kami lakukan karena hotel ini sudah lama ada dan memiliki database tamu yang cukup banyak. Akhirnya kami mencari informasi lewat WA, email, dan semua ada. Mereka yang membeli produk kami,” ungkap Ari.
Program tersebut dilakukan selama empat bulan pertama kala pandemi melanda. Karena ketika itu orang-orang tidak berani keluar rumah. Apalagi ada sejumlah pembatasan-pembatasan kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah.
”Di saat seperti itu, ibu-ibu yang ada di rumah butuh bumbu dasar untuk memasak. Kami menawarkan kepada mereka, dan ibu-ibu tidak perlu lagi ke pasar. Karena bumbu yang kami tawarkan sudah jadi. Langsung bisa dipakai,” imbuhnya.
Setelah empat bulan pandemi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan (Sulsel) menghadirkan program wisata covid. Mereka yang terpapar covid-19 dengan status OTG (Orang Tanpa Gejala) yang tidak disarankan diinapkan di rumah sakit, kemudian dicarikan hotel yang siap menerima untuk dijadikan sebagai tempat isolasi.
”Kami menyambut program itu dan pasien yang OTG masuk hotel. Dari situ kami belajar menangani tamu yang terpapar covid. Kita juga ditraining oleh Dinas Kesehatan Provinsi. Akhirnya program ini berjalan dan hotel tetap beroperasi, karyawan dapat gaji, kita juga beramal karena pasien yang OTG bisa kembali sehat tanpa harus ke rumah sakit,” jelas Ari.
Diakui Ari, waktu itu tidak seperti sekarang. Di awal penanganan pasien covid dengan status OTG, tiap hari kamar hotel penuh. Bukan hanya dari Makassar, tapi juga dari kabupaten lain yang dikirim untuk mendapatkan perawatan.
”Mereka (peserta wisata covid) ditangani dengan baik. Diajak menonton film yang lucu-lucu. Awalnya mungkin beropikir akan dikurung dalam kamar, tapi setelah masuk hotel ternyata tidak seperti itu. Mereka dijamin makanannya dari pagi, siang, dan malam. Bahkan ada coffee break. Nonton bersama-sama untuk membangun imunitas tubuh. Senam pagi. Mereka benar-benar dibuat senang. Sampai sakhirnya malah ada yang tidak mau pulang, karena semuanya gratis,” ungkap Ari.
Dua tahun kini telah berlalu. Walau status pandemi belum dicabut, namun berbagai pelonggaran dalam beraktivitas telah diberikan oleh pemerintah. Termasuk kepada pengelola jasa perhotelan. Ari bersyukur, karena selama pandemi pihaknya mampu melakukan sesuatu untuk tidak membebani pemilik, khususnya dalam membayar gaji karyawan.
”Selama dua tahun pandemi kami tetap semangat. Kalau tidak melakukan sesuatu, bisa apa kita,” ujarnya.
Di kekinian, Hotel MP kembali ramai dikunjungi tamu. Di bulan Juni ini, terutama dengan melihat kondisi masyarakat Makassar yang banyak menggelar hajatan pernikahan, pihak MP fokus pada wedding package. Salah satunya dengan menawarkan tarif Rp10 jutaan. Itu sudah termasuk ruangan, dekorasi standar, serta makan untuk 150 orang.
Ada pula room package dengan tarif Rp299 ribu per malam untuk superior, ditambah sarapan pagi bagi dua orang. ”Kami tidak punya banyak program setiap bulannya, supaya fokusnya pada dua kal. Bagaimana peningkatan penjualan kamar dan memberikan fasilitas kepada tamu yang ingin menggelar acara,” terangnya.
Hotel MP juga menawarkan pizza. Bahkan ini menjadi best sellar. Dalam satu bulan bisa laku terjual sebanyak 500 porsi. Bukan hanya bagi tamu yang menginap, tapi juga bisa dipesan dari luar. Harga yang ditawarkan Rp85 ribu per porsi. Namun jika membeli dua, cukup membayar Rp150 ribu. Lebih hemat dan murah. (*/rus)

