pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Edukasi Masyarakat Terbiasa Belajar Jarak Jauh

Rektor Universitas Terbuka Prof Ojat Darojat

UNIVERSITAS TERBUKA atau yang biasa disingkat UT merupakan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ke-45 di Tanah Air. Eksistensinya selama ini dikenal dengan pembelajaran jarak jauh. Ketika pandemi covid-19 melanda negeri ini, model pembelajaran yang diterapkan oleh UT banyak diadopsi oleh perguruan tinggi lain.

REKTOR UT Prof Ojat Darojat,M.Bus.,Ph.D baru saja tiba di Makassar dari Jakarta pada Jumat malam (3/6). Didampingi Direktur UT Makassar Hasanuddin, serta Penanggung Jawab Kerja Sama, Humas, dan Alumni UT Makassar Prof Dr Abdul Rahman Rahin, Prof Ojat menjadi tamu siniar (podcast) di studio satu BKM Lantai III Gedung Graha Pena.

Di tahun 2022, kunjungan Prof Ojat ke Makassar merupakan yang kedua kalinya. Medio Februari lalu ia juga datang dalam rangka meresmikan Sentra Layanan UT (Salut) di sejumlah kabupaten di Sulsel. Dia pun menjelaskan alasannya yang secara massif berkunjung ke Sulsel khususnya, dan Indonesia timur pada umumnya.

‘”Dari data yang kami lihat di UT, angka partisipasi mahasiswa di Indonesia Timur itu masih relatif rendah. Hal itu disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya karena mereka kekurangan informasi tentang UT. Karena itu, menjadi kewajiban saya bersama teman-teman di sini untuk menyampaikan dan menyebarluaskan bahwa UT merupakan satu-satunya perguruan tinggi yang ditunjuk oleh pemerintah untuk memberikan akses kepada masyarakat di mana pun mereka berada dan berdomisili. Dengan intensitas yang lebih tinggi ke Indonesia Timur ini, masyarakat bisa jauh lebih mengenal UT di masa depan. Mudah-mudahan mereka menjadikan dan memilih UT sebagai tempat untuk kuliah,” ujarnya.

Ditanya tentang anggapan masyarakat selama ini bahwa UT hanya tempat kuliah para guru, Prof Ojat menjelaskannya secara lugas. Menurutnya, penilaian itu tidak terlepas dari perjalanan UT selama ini. Karena selama 37 tahun UT telah menjadi instrumen strategis pemerintah untuk meningkatkan kompetensi dan kualifikasi para guru di Tanah Air. Ketika itu ada 2,4 juta guru yang harus ditingkatkan kompetensi dan kualifikasinya. Dari D2 ke S1. Hal tersebut menjadi amanat dari Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005.

”Saat itu tidak ada pilihan bagi guru untuk melanjutkan kuliah. Mereka harus S1, namun pada saat bersamaan tidak boleh meninggalkan anak didiknya. Jadi yang memungkinkan ditempuh adalah belajar jarak jauh. UT pun hadir untuk itu,” jelasnya.

Namun, lanjut Prof Ojat, saat ini UT bukan hanya untuk guru. Karena ada banyak fakultas dan program studi yang bisa dipilih. Mulai dari Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Sosial dan Politik, serta Science dan Technology. Bahkan ada juga Program Pascasarjana (PPs).
Diakui Prof Ojat, selama ini budaya belajar masyarakat kita pada umumnya melalui pembelajaran tatap muka, sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak hingga SMA. Mereka harus berada di ruang kelas. Ada guru di sana. Berada dalam komunitas yang terkontrol pada satu lokasi.
Hal yang berbeda ditemui ketika masuk ke perguruan tinggi seperti UT. Kampus ini merupakan satu-satunya PTN yang mengimplementasikan pembelajaran jarak jauh yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya.

”Ini merupakan kultur yang tidak dimiliki oleh masyarakat kita selama ini. Dengan belajar secara jarak jauh mereka harus mandiri dalam mengelola waktu untuk belajarnya, kapan mereka harus belajar, di mana dan seperti apa caranya. Salah satu tantangan yang dihadapi UT adalah untuk meyakinkan masyarakat untuk membentuk kultur baru supaya terbiasa belajar jarak jauh. Karena itu, ketika masuk UT harus diedukasi tentang bagaimana belajar jarak jauh, bagaimana membedakan interaksi yang biasanya dilakukan di ruang kelas, sekarang di alam maya. Terpisah antara dosen dan mahasiswanya. Berbeda dengan perguruan tinggi konvensional,” terangnya.

Selain itu, banyak sedikitnya angka partisipasi pembelajaran jarak jauh adalah akses poin atau jaringan internet. Menurut Prof Ojat, di Indonesia timur, pada sebagian kabupaten masih kurang bagus. BTS masih terus dibangun oleh perusahaan BUMN di daerah terpencil guna mendukung pembelajaran. Sementara ada banyak learning delivery yang dilakukan UT melalui internet.

”Karena masih banyak mahasiswa UT yang tidak punya jaringan internet, maka dilakukan dengan cara lain. Seperti memberikan materi pembelajaran secara tercetak yang kita sebut modul atau materi pokok, yang didistribusikan ke mahasiswa untuk dipelajari oleh mereka. Ada pula tutorial tatap muka.
Mahasiswa tetap bisa melaksanakan perkulihan secara tatap muka melalui kelompok belajar (pokjar),” jelasnya.
Tidak dipungkiri bahwa penguasaan komputer masih rendah. Hal ini menjadi kewajiban UT untuk mengedukasi mahasiswanya. Dengan begitu, kegiatan layanan pendidikan diarahkan agar mahasiswa semakin mandiri dan tumbuh menjadi pembelajar jarak jauh yang tangguh.

Cara lain yang ditempuh saat ini, khususnya oleh UT Makassar adalah pengembangan Salut. Menurut Prof Ojat, berdasarkan informasi yang diperoleh dari masyarakat, kehadiran fasilitas yang merupakan tangan kanan UT yang dibangun di wilayah kabupaten/kota, telah membawa dampak yang sangat positif bagi calon mahasiswa. Karena ketika ingin mencari informasi tentang UT mereka bisa langsung datang ke Salut.
”Salut ini merupakan upaya dan strategi dalam meningkatkan minat calon mahasiswa masuk ke UT. Di Salut bisa dilakukan registrasi ketika hendak masuk UT. Juga bisa melaksanakan kegiatan pembelajaran tutorial tatap muka. Juga ujian akhir semester. Sudah disiapkan komputer yang tersambung ke jaringan. Bisa melaksanakan ujian secara daring. Hal ini sangat penting untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat. Kita sebut UT present. UT hadir ke tengah-tengah masyarakat untuk memudahkan layanan,” ungkap Prof Ojat.

Ditegaskan pula bahwa ijazah yang dikeluarkan UT sama dengan PTN lain di Tanah Air, yang di Makassar ada UNM dan Unhas. Bahkan, menurut Prof Ojat, di tahun 2011 pada saat berlangsung penerimaan CPNS yang jumlahnya 20 ribu orang, 50 persen atau 9.476 formasi diisi oleh alumni UT. Itu artinya alumni UT mampu berkompetisi dengan lulusan PTN lainnya.

Untuk itu, ia meminta, mendorong serta berkoordinasi dengan direktur UT yang ada di masing-masing daerah untuk terus merancang upaya pemasaran dan promosi. Termasuk kegiatan publikasi dengan bekerja sama media massa. ”Termasuk menjalin komunikasi dan kerja sama para pemangku kepentingan. Bangun jaringan dengan para bupati/kepala daerah, kepala dinas. Dengan cara seperti itu UT semakin mendapat dukungan dari banyak pihak, khususnya pada aktor-aktor lokal dari daerah,” jelasnya.

Beasiswa juga menjadi salah satu strategi yang dilakukan. Orang-orang yang terkendala masalah ekonomi bisa masuk PT dengan cara diberi beasiswa. Tahun 2021 lalu UT memberikan Rp16 miliar beasiswa kepada mahasiswa. Di antaranya Bidikmisi serta CSR yang diperoleh dari mitra. (*/rus)




×


Edukasi Masyarakat Terbiasa Belajar Jarak Jauh

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link