PADA tanggal 3-13 Juli 2023, Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Hasanuddin (Unhas) ambil bagian dalam event World Choir Games yang dilaksanakan di Gangneung, Korea Selatan. Ini merupakan ajang kompetisi paduan suara bergengsi di dunia yang digelar setiap dua tahun sekali. PSM Unhas berjaya dengan meraih juara satu dan membawa pulang dua medali emas!
TIGA orang dari PSM Unhas yang terlibat di event tersebut hadir menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar. Mereka adalah Anshari Sanusi (manajer sekaligus pelatih), Pande Putu Dylan Sugangga (Ketua PSM Unhas 2023), dan Cakra Dwi Saputra (anggota PSM Unhas).
Ari –sapaan akrab Anshari Sanusi– bertutur, ada sejumlah syarat yang mesti dpenuhi untuk mengikuti ajang World Choir Games tersebut. Salah satunya, pernah meraih juara satu pada event sebelumnya. ”PSM Unhas tahun lalu juara satu di Lysbon, Portugal. Itu menjadi tiket untuk mengikuti event yang di Korsel,” ujar Ari.
Ia menyebut, ada 28 kategori berbeda di ajang tersebut. PSM Unhas mengikuti kategori Folklore Acapella dan Scenis Folklore. Untuk Folklore Acappela, mereka membawakan tiga lagu, masing-masing Ma’rencong-rencong dari Makassar, Sipatokaan dari Minahasa, dan Toki Tifa dari Maluku.
Sementara untuk Scenis Folklore, PSM Unhas mengusung budaya salah satu suku di Sulsel, yakni Toraja. Mereka menampilkan sebuah cerita rakyat yang menceritakan tentang kehidupan sehari-hari masyarakat di Toraja. Mendapat ganggung dari elang raksasa namun kemudian berhasil dihalau oleh masyarakatnya sendiri.
Penampilan PSM Unhas di dua kategori itu sangat memukau. Mereka pun berhasil membawa pulang dua medali emas untuk kategori Scenic Folklore dan Folklore Acappela. Ada pula piala, yang kesemuanya dibawa saat siniar berlangsung.
Ari menuturkan, untuk mengikuti ajang di Korsel ini, persiapannya dilakukan selama setahun. Setelah pendaftaran yang harus mengisi formulir, mengirim contoh suara, foto dan berkas lainnya, PSM Unhas kemudian intens latihan. Mulai dari vokal hingga koreo.
Selain itu, ada pula penggalangan dana. Salah satu bentuknya adalah mencari sponsor dan juga melakukan konser dengan penjualan tiket. Dana yang terkumpul dari penjualan tiket itu kemudian dikumpulkan untuk biaya pemberangkatan.
Dylan, panggilan akrab Pande Putu Dylan Sugangga, menyebut ada 28 orang yang ikut ke Korsel. Dari jumlah itu, 24 di antaranya adalah penyanyi. Sementara dua lainnya adalah pelatih serta pembina.
”Untuk kesiapannya kami intens latihan sejak setahun lalu. Hampir setiap hari latihannya tanpa mengenal lelah. Karena ini ajang bergengsi. Bagaimana caranya mendapatkan motivasi di diri kita dan teman-teman. Ajang yang kita ikuti ini besar sehingga harus bersemangat,” ujar Dylan.
Juara yang diraih ini cukup membanggakan bagi Dylan. Sebab di eranya menjadi ketua PSM Unhas, sebuah sejarah dicetak.
”Tentu ini sangat membanggakan. Karena di periode saya menjadi ketua, bisa mencetak sejarah ditunggu-tunggu oleh kakak-kakak saya terdahulu. PSM Unhas bisa menjuarai ajang World Choir Games setelah penantian selama 17 tahun,” ungkap Dylan, yang masa kepengurusannya akan berakhir Januari 2014 mendatang.
Selama kepemimpinan Dylan, PSM Unhas membuat dan melaksanakan sejumlah program. Mulai dari latihan, rekruitment anggota baru hingga menggelar konser. Kegiatannya lebih ke entertainment yang ada hubungannya dengan paduan suara.
Untuk syarat menjadi anggota PSM Unhas, Dylan mengatakan ia harus mahasiswa Unhas, apapun jurusan dan fakultasnya. ”Yang paling utama suka bernyanyi, senang seni suara dan mau belajar,” kata mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Jurusan Hubungan Internasional.
Ditanya tentang ketertarikannya bergabung dengan PSM Unhas, Dylan mengaku karena dirinya memang suka musik dan menyanyi. Ketika masuk di Kampus Merah dia langsung mencari-cari lembaga atau wadah untuk menyalurkan bakat dan hobinya. Di situlah ia mendapatkan paduan suara. Apalagi ketika masih duduk di bangku SMA dirinya sudah biasa ikut dan bergabung dalam grup vokal.
”Saya juga melihat PSM Unhas sudah terkenal dan sering ke luar negeri,” imbuhnya.
Cakra yang merupakan penyanyi PSM Unhas, mengaku ada banyak manfaat yang diperolehnya setelah bergabung dengan paduan suara. Di antaranya bisa memenej waktu, dapat prestasi, dan relasi. Bahkan ketika ikut ajang di Korsel, ada banyak teman baru yang didapatkannya. Mereka berasal dari Amerika, Australia, New Zaelan, hingga Afrika Selatan. ”Saya juga bisa melihat dunia baru di luar sana, yaitu Korea Selatan,” kata mahasiswa jurusan Sastra Prancis, Fakultas Ilmu Budaya ini.
Aktif di PSM Unhas dan berlomba di kancah internasional, menurut Cakra, tidak mengganggu perkuliahan. Dirinya berusaha menyeimbangkan antara kegiatannya di luar dengan kuliah.
Ia juga sempat mengikuti event yang dilaksanakan Lysbon Portugas. Berhasil meraih juara, Cakra disukai oleh dosen. Apalagi setelah juara di Korsel, dosennya bertambah suka lagi. Karena prestasi yang diraihnya berdampak pada jurusan dan fakultas untuk akreditas.
Di bagian lain penjelasannya, Ari menyebut bahwa dirinya telah melatih PSM Unhs sejak 2006. Ia juga sempat mengikuti World Choir Games yang dilaksanakan di Cina. Tapi PSM Unhas kala itu hanya sampai babak penyisihan, karena memang baru ikut.
Ditanya tentang rahasia PSM Unhas bisa meraih prestasi seperti saat ini, Ari mengungkap bahwa itu terletak pada proses rekruitment. ”Pilih orang yang punya komitmen. Tidak memilih penyanyi, tapi pejuang. Pejuang yang bisa bernyanyi. Setelah dilihat dan diseleksi, mereka harus mengorbankan banyak waktu. Karena latihan dilaksanakan dari pukul 5 sore (17.00) hingga 11 malam (23.00) setiap hari. Mereka tidak punya waktu di rumah sehingga dan membawa tugas-tugasnya ke tempat latihan. Punya komitmen kuat dan latihan keras itu intinya,” tandasnya. (*/rus)

