Kisah Cinderella, seorang putri yang malang ternyata tidak sekadar ada dalam dongeng atau komik. Di kehidupan nyata, kisah itu kerap pula dijumpai.
Bukan karena terinspirasi dari Cinderella, namun naluri manusia untuk berbuat jahat maupun baik bagaikan dua sisi mata uang yang akan selalu ditemukan. Satu sisi ditemukan orang dengan perilaku baiknya, namun tidak jarang menemukan orang dengan perilaku jahat.
Seperti yang dialami seorang gadis berusia 18 tahun, Inna (nama samaran). Masa kecil wanita berkulit kuning langsat itu dilalui dengan sangat bahagia. Kedua orang tuanya, Hasbi (45) dan Lina (39) sangat menyayangi dan mencintainya. Lahir di tengah keluarga yang berkecukupan, apapun yang diinginkan Inna, akan dipenuhi kedua orang tuanya. Jangankan mainan, liburan hingga ke negeri tetangga pun kerap dilakoni.
Namun kebahagiaan yang dirasakan tidak bertahan lama. Ketika duduk di bangku kelas 6 SD, ibunya meninggal karena penyakit kanker payudara.
Otomatis, dia pun menjadi anak yatim. Rumahnya yang penuh kehangatan berubah menjadi muram. Apalagi, ayahnya yang seorang pengusaha jarang tinggal di rumah. Terkadang, sang ayah baru bertemu dengan Inna ketika gadis cilik itu akan berangkat sekolah.
Dua tahun setelah kepergian ibunya, sang ayah kawin lagi dengan seorang janda dengan tiga anak yang masih kecil-kecil.
Awalnya, Inna merasa bahagia karena rumahnya yang terletak di batas kota, tidak sunyi lagi. Selain itu, dia merasa rindu dengan sosok perempuan yang bisa dipanggil mama.
Tuti (30, nama samaran) awalnya sangat memperhatikan Inna. Segala keperluan sekolahnya disiapkan. Apalagi, saat ayahnya ada di rumah. Namun petaka kemudian muncul tiga bulan setelah ayahnya menikah. Tabiat asli sang ibu tiri mulai terlihat. Inna mulai direcoki dengan berbagai pekerjaan rumah. Khususnya menjaga adik-adiknya. Tak jarang, Inna dicaci dan dipukul jika membuat kesalahan. Namun di depan sang ayah, perlakuan sang ibu tiri sangat manis dan baik hati.
Kejadian demi kejadian yang memilukan hati kerap dialami Inna sampai perempuan itu menginjak usia remaja. Dia menjadi gadis yang tertutup. Kendati di rumahnya ada pembantu, tetap saja Tuti menyuruhnya ini itu.
Inna tak sanggu melawan karena dominasi ibu tirinya terlalu kuat. Malah dia menilai, ayahnya sudah berada di bawah pengaruh kekuasaan sang ibu tiri.
Kerap Inna difitnah, dikatakan mencuri, bolos sekolah, pergi dengan teman-teman lelakinya. Itu dilakukan agar sang ayah marah padanya. Jika begitu, Inna kadang tidak diberi uang jajan. Akibatnya, wanita berkulit kuning langsat itu harus berjalan kaki ke sekolah yang jaraknya cukup jauh. Dia tidak diperbolehkan menggunakan mobil atau motor yang ada. Rumah dan seluruh isinya berada di bawah kekuasaan sang ibu tiri. (b)

