Muhammadiyah sebagai organisasi massa (ormas) besar di Indonesia cukup banyak memberi kontribusi bagi kemaslahatan umat dan pembangunan di Indonesia. Ormas yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu juga menjadi wadah bagi para kadernya dalam merangkai cerita hidup. Seperti yang dirasakan salah seorang kadernya, Mutmainnah, ST, MT.
Wanita kelahiran Sidrap, 7 Oktober 1981 itu merekam jejak sejarah hidupnya melalui pengkaderan Muhammadiyah. Tuhan telah mempertemukannya dengan jodohnya ketika di mengikuti Training Centre Taruna Melati (TCTM) I sekitar tahun 1995. Waktu itu, suaminya menjadi master TC.
Dari pertemuan di ajang pengkaderan, jalinan kisah dirajut wanita yang akrab disapa Inna ini dengan lelaki bernama Sultan Rasyid yang saat ini berpangkat Mayor SUS. Merekapun memutuskan menikah tahun 2001 dan saat ini sudah dikaruniai empat orang anak.
Wanita manis berjilbab ini memang sejak kecil sudah kenal dengan ormas tersebut karena kedua orang tuanya Muhammadiyah.
Mengikuti jejak mereka, ibu empat anak ini berkiprah dengan mengikuti sejumlah tahapan pengkaderan. Mulai dari TC TM I hingga kedua. Kemudian lanjut menjadi pengurus pelajar muhammadiyah. Dan ketika menjadi mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, dia pun tak mau ketinggalan gabung di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.
Darah Muhammadiyah sangat kental mengalir dalam dirinya. Banyak manfaat yang dirasakan menjadi kader organisasi tersebut.
Ditemui disela-sela kesibukannya menerima tamu VVIP pada penutupan Muktamar Muhammadiyah ke-47, Jumat (7/8), di Kampus Unismuh Makassar, Inna menuturkan melalui pengkaderan Muhammadiyah, dia diajarkan strategi kepemimpinan perempuan. Selain itu, pengalaman berorganisasi di Muhammadiyah membuatnya merasa percaya diri dalam merajut cita-citanya. Selepas kuliah, dia menjadi dosen Teknik Arsitektur di UIN Alauddin.
Wanita jebolan S2 Teknik di Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, Maret lalu, dipercaya menjadi wakil Indonesia yang dikirim ke Kanada untuk belajar tentang Community Development Leadership by Women melaui program SILe (Supporting Islamic Leadership in Indonesia) di Kanada.
“Pengkaderan di Muhammadiyah membuat saya menjadi duta Indonesia yang diperhitungkan karena leadershipnya sangat besar,” ungkapnya.
Saat ini, Inna mulai mempersiapkan diri untuk berkiprah lebih dalam lagi di ormas tersebut dengan masuk ke Aisyiyah. (rhm/cha/b)
Ketemu Jodoh di TCTM Muhammadiyah
×

