Agus: Tidak Ada Bentrok, Itu Tidak Benar
MAKASSAR,BKM — Tidak terima rekannya dianiaya, seratusan orang pasein (residen) di Balai Rehabilitasi Baddoka, Minggu (23/8) pukul 22.00 Wita mengamuk. Mereka merusak sejumlah fasilitas balai rehabilitasi. Menurut informasi, ratusan penghuni balai rehab jengkel karena Rizal, seorang pasien rehab diduga dianiaya AB, salah seorang konsuler (pembimbing) balai rehabilitasi.
Aksi para pasien ini berhenti setelah aparat Resmob, Gegana serta Intel Brimob Polda Sulsel turun melakukan pengamanan.
Anggota Gegana dipimpin Ipda Warman dan Intel Brimob Polda Sulsel Iptu Laode Rusli menyisir kantor Balai Rehabilitasi Baddoka.
Kepala Bagaian Operasi (Kabag Ops) Polrestabes Makassar AKBP Abdul Azis mengatakan, ratusan pasien berbuat anarkis di dalam Balai Rehabilitasi dengan merusak sejumlah fasilitas kantor dan menghamburkan berkas-berkas.
“Mereka marah karena salah seorang pasien dipukuli oleh salah satu pegawai. Mendengar kasus penganiayaan itu, spontan mereka mengamuk,” kata Azis.
Akibat kejadian itu, sedikitnya delapan orang pasien dilaporkan mengalami luka-luka. Mereka diduga terlibat bentrok fisik dengan pegawai balai rehabilitasi.
Ke delapan residen (pasien) yang luka-luka itu mendapat perawatan intensif di Instalasi Gawat Darurat (UGD) BNN. Selanjutnya, dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara. Mereka yang menjalani perawatan masing-masing Ibrahim, Agam (17), Muh Alwi Maliki (22), Saikuddin (42 ), Andi Fahrul (23), Taufik (35), Muhiddin. Hingga Senin (24/8) siang, ratusan personil polisi masih melakukan penjagaan.
Kepala Balai Rehabilitasi Baddoka Agus S yang dikonfirmasi BKM, Senin (24/8) membantah adanya bentrok antara sesama pasien di balai rehabilitasi. Apalagi soal adanya kabar pegawai yang memukuli pasien.
“Tidak ada itu aksi brutal maupun bentrok sesama residen. Itu tidak benar. Di balai rehabilitasi dilarang keras melakukan penganiayaan. Saya tegaskan, tidak ada bentrok dan tidak ada aksi anarkis,” tukas Agus.
Menurut Agus, di Balai Rehabilitasi Baddoka ada 146 pasien. Ditanya soal jumlah personil yang dimiliki, Agus enggan memberitahu.
“Itu internal kami dan tidak bisa saya sebutkan. Di sini antara tahanan tangkapan dan yang dititip langsung oleh orangtua pengguna berada dalam satu atap. Mereka sama dan tidak terpisahkan,” tukasnya. (ish/cha/b)

