Ketika merancang game educraft, nyaris tidak ada waktu istirahat yang tersisa buat Henry Jufri. Sepulang kerja sebagai buruh pukul 18.00, ia melanjutkan proyek mimpinya di rumah.
Laporan : Rahma Amri
Kadang menjelang subuh, lelaki yang hanya tamatan SD ini baru beranjak ke tempat tidur. Sang istri awalnya sangat tidak setuju dengan aktifitas baru suaminya. Alasannya, karena suaminya tidak punya banyak waktu istirahat.
Sikap aneh Henry pun memunculkan suara sumbang dari beberapa keluarga dan tetangganya. Bahkan, ada juga hinaan yang mampir ke telinganya.
“Ada yang bilang, ah kamu hanya buruh pelabuhan. Tidak usah banyak bermimpi,” kenangnya.
Namun dia mengabaikan semua suara sumbang tersebut. Dia tetap fokus, tekun, dan bekerja keras untuk meraih mimpinya.
Tantangan yang dihadapi dijadikan sebagai motivasi untuk bisa lebih baik lagi. Termasuk ketika baru mencoba mengirim aplikasi game ke Google. Game yang dikerjakan selama berhari-hari yang dikirim ke playstore banyak yang error.
Bukan itu saja, aplikasi gamenya kerap di banned alias dikunci dan dihapus oleh Google sehingga dia harus membeli akun baru untuk membuat game. Padahal, untuk membeli akun baru, dia harus menyiapkan uang 25 dollar atau sekitar Rp250.000.
“Untuk membeli akun baru seharga 25 dollar, saya harus kerja sebagai buruh panggul dulu selama empat sampai lima hari,” jelasnya.
Namun dia selalu percaya, kerja keras dan kesungguhan yang disertai doa akan selalu diijabah oleh Tuhan.
Ternyata, berkat kerja keras dan doanya, pada Oktober 2014, aplikasi gamenya mulai diterima Google. Awalnya hanya beberapa puluh dollar. Namun karena sudah mulai tahu seluk-beluk dan proses yang harus dilakukan agar aplikasinya gamenya diterima, penghasilannya perlahan-lahan mulai naik.
Game yang diciptakan Henry adalah game yang mengajar anak mengenal huruf dan angka. Game ini adalah salah satu aplikasi yang diminati oleh pengunduh di layanan aplikasi perangkat telepon berbasis Android. Tidak hanya itu, setiap huruf dan angka disertai dengan pengucapan sehingga mempermudah anak untuk mengetahui bunyi huruf.
Di permainan aplikasi Android itu pula ada latihan menulis dengan mengikuti garis dan arahnya. Ini memudahkan anak-anak yang baru belajar menulis. Aplikasi yang hanya berukuran 6,92 megabyte ini telah sampai ke versi 4.0 dan diperbarui terakhir pada 7 Juli 2015 lalu.
Versi pembaruan ini menambahkan pula belajar mengenal hewan dan buah, mengenal angka dengan jari tangan, mengenal hari dan bulan, penambahan fitur panduan penulisan huruf dan angka, penambahan suara pada tiap karakter huruf dan angka, dan juga gambar-gambar visual yang lucu.
Berapa yang sudah mengunduhnya? Dalam catatan aplikasi di Google Playstore telah lebih dari 100 ribu pengunduh.
“Setelah gagal satu akun, saya membuat akun lagi, “ katanya. “Istilahnya saya tidak ingin masuk ke dalam lobang yang sama. Saya tetap melakukan riset apalagi bagi saya mendapatkan uang sebesar 350 ribu itu harus bekerja selama 2 sampai 5 hari. Kadang dalam sehari saya hanya dapat 20 ribu saja,” katanya.
Pada Februari 2015, penghasilannya mulai naik secara perlahan namun pasti. Uang yang mengalir ke rekeningnya dari Google tercatat senilai 500 dollar atau sekitar Rp5 juta. Puncaknya, pada 22 Agustus 2015, dia bisa mengantongi 1.175 dollar sebulan atau setara dengan Rp16.330.000.
Uang itu sangat besar dibanding upahnya sebagai buruh pelabuhan selama bertahun-tahun.
Buah dari kerja kerasnya mulai dirasakan sekarang. Dia juga mulai bisa memperbaiki rumahnya sehingga cukup layak untuk ditempati.
Henry juga kerap diminta menjadi pembicara di beberapa pertemuan untuk memberikan motivasi bagaimana orang bisa maju dengan segala keterbatasan.
Dia berprinsip, biarlah menjadi orang bodoh yang punya satu ide namun fokus untuk menggapainya dibanding menjadi orang pintar yang memiliki banyak ide namun tidak fokus untuk merealisasikannya.
“Intinya kalau ingin sukses, modalnya semangat. Jangan takut gagal. Fokus untuk menggapai impian,” tandasnya. (b)

