Posisi Flyover yang strategis mengundang masyarakat untuk memfungsikan jembatan layang ini untuk berbagai aktivitas. Mahasiswa yang ingin menyuarakan aspirasinya kerap menggunakan flyover sebagai tempat berorasi.
Laporan : Rahma Amri-Muh Yusuf
Aktifitas ekonomi juga kerap terjadi di bawah jalan tersebut. Para loper koran dan pedagang asongan banyak menawarkan barang dagangannya di lokasi ini.
Dan yang menjadi paling menarik, khususnya saat sore hingga malam hari. Sisi jalan flyover sering digunakan sebagai lokasi nongkrong serta pacaran anak muda. Meski terkesan angker, namun para muda-mudi yang mabuk asmara seakan tidak peduli.
Sosiolog dari Universitas Hasanuddin, Dr M Darwis mengatakan, fenomena ini merupakan pergeseran fungsi lain flyover di tengah bertumbuhnya Makassar sebagai kota besar.
Orang-orang yang menggelar aksi unjuk rasa misalnya, melihat flyover sebagai lokasi strategis untuk menyuarakan aspirasi karena banyak dilihat orang. Begitu juga dengan pedagang asongan dan penjual koran yang memanfaatkan kondisi itu untuk menjual barang.
Terkhusus untuk muda mudi yang menggunakan sisi kira dan kanan flyover sebagai tempat nongkrong dan pacaran, Darwis menilai, aktifitas itu terjadi lebih disebabkan oleh kurangnya fasilitas ruang terbuka yang disiapkan Pemkot Makassar untuk bersosialisasi.
“Itu lebih disebabkan karena kurangnya ruang terbuka untuk sosialisasi yang nyaman dan murah,” jelasnya.
Dia menyebutkan, kalaupun ada ruang terbuka yang disiapkan, seperti pelataran di Pantai Losari, namun masyarakat kurang merasa nyaman untuk bersantai atau sekadar ngobrol karena kerap merasa terancam jiwanya akibat ulah oknum-oknum yang ingin menguntungkan diri sendiri.
Untuk mengembalikan fungsi flyover sesuai peruntukannya, kata M Darwis, pemerintah harus tegas dalam menegakkan aturan lalu lintas.
Terutama bagi orang-orang yang menggunakan sisi badan jalan flyover sebagai tempat ‘ngetem’. Karena selain mengganggu arus lalu lintas, juga bisa membahayakan pengendara bermotor yang sedang melaju di sana.
Dia melanjutkan, pemerintah harus memasang rambu-rambu lalu lintas di sekitar flyover apa yang dilarang dan diperbolehkan.
“Pemerintah harus pasang rambu-rambu dilarang pacaran atau parkir di badan jalan flyover. Kecepatan kendaraan juga harus diatur agar tidak terjadi kecelakaan dan ada pengendara yang jatuh dari flyover,” jelasnya.
Sementara itu, Mustafa Irate seorang spritual yang memimpin salah satu jamaah di Makassar mengatakan, selain faktor teknis, kecelakaan lalu lintas di flyover juga bisa disebabkan faktor nonteknis. Misalnya soal hal-hal gaib.
“Tidak semua penyebab kecelakaan lalu lintas di flyover disebabkan hal teknis. Saya melihat ada hal gaib. Tapi soal ini orang bisa percaya atau tidak,” kata mantan anggota DPRD Kota Makassar ini, Rabu (9/9).
“Saya percaya ada hal mistis di flyover. Tetapi bagi saya itu biasa. Olehnya itu para pengendara lebih berhati-hati dan selalu mengingat Allah SWT saat membawa kendaraan. Begitupun saat melintas di flyover,” katanya.
Namun, salah seorang ustadz, Suf Kasman yang di hubungi, Rabu (9/9) mengatakan, kecelakaan yang sering terjadi di flyover bukan disebabkan persoalan mistis. Apalagi jika alasannya karena saat selesai dibangun tidak dilakukan upacara adat.
“Kecelakaan terjadi karena banyak hal, salah satunya kurangnya kehati-hatiannya pengendara. Kita tidak boleh meyakini sesuatu selain kekuatan dari Allah karena itu merupakan perbuatan syirik dan tidak disukai oleh Allah,” ungkapnya. (rhm-ucu-kkn1/cha/b)

