Namaku Mawar (samaran). Usiaku saat ini sudah 54 tahun. Bahkan, aku telah dikaruniai cucu. Sekarang aku berstatus janda setelah 13 tahun yang lalu aku resmi bercerai dengan suamiku.
Aku bercerai dengan Handoko (samaran) karena ia ingin menikahi Teratai (samaran), mahasiswinya di kampus tempatnya mengajar. Handoko adalah tenaga pengajar di salah satu perguruan tinggi di Makassar.
Tentu keinginan Handoko aku tolak mentah-mentah. Aku tidak ingin dimadu dan anak-anak juga tidak mau jika ayahnya menikah lagi. Dengan keputusan bulat, saat itu aku menggugat cerai Handoko.
Sebenarnya, sebelum Handoko mengutarakan keinginannya untuk menikah lagi, aku sudah tahu Handoko menjalin asmara dengan Teratai. Apalagi, saya termasuk istri dosen yang aktif datang ke kampus.
Suara-suara miring aku dengar beredar di kampus bahwa suamiku menjalin kasih dengan mahasiswinya. Mendengar hal itu, aku pun penasaran. Aku coba cari tahu siapa sebenarnya Teratai.
Setelah aku telusuri ternyata, Teratai bukan mahasiswi jurusan dimana suami saya bertugas. Ia adalah mahasiswi jurusan lain. Aku juga sempat melihat keseharian Teratai. Saat itu aku lihat kecantikan Teratai memang menonjol dibandingkan mahasiswi lain di fakultas itu.
Beberapa bulan setelah aku tahu siapa itu Teratai, aku mulai cuek. Aku tidak mau lagi mendengarkan gosip di fakultas yang menyebutkan suamiku menjalin asmara dengan Teratai.
Namun, aku melihat perubahan sikap Handoko. Ponselnya sudah jarang ia letakkan di atas meja ketika usai pulang mengajar. Ia pegang terus dan disimpan di dalam saku celananya.
Aku pun curiga. Saat malam hari ketika Handoko tertidur pulas, aku diam-diam membuka ponselnya. Saat itu, ponsel belum dilengkapi dengan kata sandi sehingga lebih mudah mengakses setiap informasi yang masuk.
Ada beberapa short message service (SMS) yang masuk dengan bunyi membuat hati saya terluka. Aku menduga SMS ini lupa dihapus oleh suamiku.
“Papi, sudah makan belum. Sebentar kita makan di restoran ki nah,” begitu bunyi salah satu SMS dari nomor yang diberi nama seorang laki-laki.
Saat itu aku yakin jika SMS itu bukan dari laki-laki. Bisa saja namanya ditulis laki-laki, tapi pemiliknya adalah perempuan. Aku pun mencatat nomor itu.
Keesokan harinya aku mecoba menghubungi nomor telepon yang mengirim pesan ke ponsel suamiku. Ternyata, yang terima adalah seorang wanita. Suaranya merdu sekali. Aku langsung tanya nama dan pekerjaannya. Tanpa curiga, wanita tersebut menyebut nama dan pekerjaanya. Ternyata ia mengaku bernama teratai dan masih kuliah.
Malamnya, aku dan Handoko terlibat pertengkaran hebat. Awalnya Handoko mengelak jika SMS itu adalah dari selingkuhannya. Tapi setelah kubeberkan bukti-bukti, Handoko tidak berkutik. Ia pun marah dan langsung meninggalkan rumah.
Hampir 2 pekan Handoko tidak pulang ke rumah setelah pertengkaran itu. Setiap aku menghubungi ponselnya, ia tidak angkat. Anak kami pun bertanya keberadaan ayahnya. Kepada anak-anakku aku jelaskan jika ayahnya sementara melaksanakan tugas keluar Makassar. (bersambung)

