MAKASSAR, BKM — Puluhan warga eks Timor-Timur melakukan aksi unjuk rasa di Kantor Gubernur Sulsel, Selasa, (6/10).
Mereka menuntut penyelesaian kasus kekerasan yang terjadi di lokasi transmigrasi antara Tobada 7 dan 8, Mamuju Tengah. Kasus kekerasan itu menewaskan mantan Kepala Desa Tobada, Muh Salamuddin.
Koordinator aksi, Celestino Hornai mengatakan, mereka meminta Pemerintah Provinsi Sulsel dan Sulbar memberikan jaminan keamanan di wilayah transmigrasi eks warga Timor Timur yang dihuni sekitar 700 kepala keluarga.
Kematian salah seorang warga di area transmigrasi itu dipicu persoalan perbatasan yang sejak dulu selalu bersoal.
Sejauh ini, dia menilai aparat pemerintah dan kepolisian terkesan lamban menangani kasus tersebut.
Dia menuntut aktor intelektual dibelakang peristiwa pembunuhan itu segera ditangkap dan jaminan keamanan diberikan kepada warga.
Salah satu korban yang selamat dalam pembantaian tersebut, Abdul Latif Dacosta mengungkapkan saat peristiwa terjadi, pihaknya diadang sekitar 10 orang yang mencaplok lahan di sekitar tapal pada 3 Oktober lalu.
“Peristiwa ini sudah kami laporkan ke polisi tapi baru satu orang yang ditangkap,” jelasnya.
Para pengunjuk rasa itu diterima Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah Hasbi Nur.
Dia mengungkapkan, pihaknya akan mempelajari apa yang menjadi permasalahan di sana. Termasuk mengenai kasus pembantaian dan masalah tapal batas transmigrasi.
“Kami akan sampaikan ke Pak Gubernur Sulsel terkait aspirasi ini,” paparnya
Mengenai kedatangan warga Tobada ke Pemprov Sulsel, Hamsi menilai ada kesalahpahaman, atau mereka tidak tahu. Seharusnya, mereka melapor ke Pemda Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. (rhm/war/c)
Warga Eks Timor Timur Unjuk Rasa di Pemprov Sulsel
×

