Dalam beberapa hari ini, warga Kabupaten Bone dibikin heboh dengan aksi dua kakak beradik Arman dan Agga. Selain mengamuk dan membunuh dua warga, ternyata keduanya juga telah membunuh bayi berusia lima bulan bernama Amel. Amel sendiri adalah keponakan mereka.
Saat ditemui di Mapolres Bone, Arman, salah satu tersangka terlihat tenang. Raut wajahnya seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Maklum, aksi yang ia lakukan bersama saudaranya diduga dilatarbelakangi oleh kepercayaan yang mereka anut.
Ditemui khusus, Arman mengaku mengamuk dan membunuh warga dan sebelumnya mengubur keponakannya hidup-hidup karena menjalankan perintah bisikan gaib yang ia dengar.
Petani penggarap sawah milik keluarga yang hanya sekolah sampai kelas tiga SD ini juga mengaku tak ada keraguan melakukan aksi tersebut. ”Saya memang cekik dan injak namun tidak mati juga, makanya kami kubur hidup-hidup,” kata Arman santai.
Kamis (15/10) siang, Arman diperiksa intensif di ruangan penyidik Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Bone bersama Arman, Bustang dan Becce.
Arman menceritakan kisah dirinya sejak awal mula dia menerima petunjuk gaib. Dengan bekas luka di dahi akibat lemparan batu warga saat dirinya mengamuk, Arman pun menuturkan kepada BKM.
“Awalnya saya selalu sedih ingat bapakku sudah meninggal dua tahun lalu. Kesedihan itu muncul tiba-tiba sekitar dua minggu lalu saat saya ikut memetik cengkeh di Palopo. Puncaknya, saya menangis di atas pohon cengkeh. Saya kemudian pulang ke Bone,” kata Arman.
Tiba di Dusun Macinna, Desa Bulum Pare, Kecamatan Awangpone, kesedihan Arman terus membuncah. Bahkan arman mengaku tak tahan lagi tinggal di rumah.
“Sejak pulang, saya sudah tidak mampu lagi tinggal di rumah. Ada hawa panas di dada dan saya selalu sedih. Saya tinggal di rumah saudara saya yang bernama Agga Daeng Patangnga,” katanya.
Saat tidur dia menerima bisikan gaib agar menghabisi bayi Amel yang baru berumur 5 bulan, anak dari saudaranya Bustang yang beristirikan Bacce. Arman mengaku kalau jasad Amel dirasuki roh jahat bernama Numa.
“Saya sangat yakin, setelah ada bisikan gaib kalau Amel telah kemasukan setan. Awalnya saya sangat sayang bayi itu, tapi setelah sore hari, muka bayi itu saya lihat berubah menjadi hitam. Saya tanya ibunya yang sedang menyusuinya, bahwa bayinya sudah berubah jadi setan,“ kata Arman.
Penglihatan Arman ternyata diamini oleh semua orang yang ada di dalam rumah itu. “Bukan hanya saya yang melihat bayi itu berubah jadi hitam. Ada tujuh orang dan semuanya melihat seperti itu. Termasuk Becce, ibu Amel dan Bustang, ayah bayi itu. Saya perintahkan Bustang untuk menggali lubang untuk mengubur Amel hidup-hidup. Saya yakin kalau dia akan tumbuh besar dalam sekejab dan membunuh kami semua,” katanya.
Bustang pun langsung pergi menggali lubang yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah.
Sepulang dari gali lubang, Arman memerintahkan Becce mengambil ember dan memasukkan Amel ke dalamnya. Selanjutnya, Amel pun dikubur hidup-hidup.
Wawancara Khusus dengan Arman, Tersangka Pembunuhan Bayi dan Dua WargaDalam perjalanan, setiap 50 meter, bayi tersebut dicekik, namun menurut Arman bayi tersebut tidak mau mati. “Karena tidak mau mati, akhirnya saya berdua sama Angga menginjak-injak Amel berkali-kali . Itupun tidak mau mati. Padahal kepalanya sudah mengeluarkan darah. Jadi saya tanam hidup-hidup dengan baju yang dia gunakan,” katanya.
Arman justru bersyukur dapat membunuhnya, karne kalau tidak, sesuai bisikan hatinya, maka bayi Amel bisa menjadi malapetaka besar bagi keluarganya.
”Setelah mengubur Amel, ada kejadian aneh. Seluruh kayu rumah, berderik dan bunyinya mengerikan. Saya yakin itu setan yang sudah masuk ke tubuh Amel dan kembali mau membunuh saya sekeluarga. Rumah berderik sampai pagi,“ tambah arman.
Menurut Arman, sumber kejadian ini disebabkan oleh Numa yang dianggap sebagai pembawa setan. Numa yang tak lain adalah saudara kandung dari Becce, ibu kandung Amel. Dan Numa tadinya tinggal serumah dengan orangtua Amel.
Sehari setelah membunuh Amel, Arman dan Agga dengan parang dan badik terhunus mengamuk membabi buta. Mereka membacok enam orang warga. Dua diantaranya tewas di tempat. (mir/cha/b)

