pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Demi Karir, Suamiku Rela Layani Bosnya

Namaku Krisan. Umurku 30 tahun. Saya ibu dua anak yang status perkawinannya tidak jelas. Suamiku, Hanafi (33), sudah setahun terakhir tidak pernah pulang ke rumah. Dia memilih untuk tinggal bersama bosnya, seorang perempuan cantik dengan status perkawinan tidak jelas.

Laporan: Rahma Amri

Berulang kali saya mengajukan cerai pada suami, namun lelaki itu tidak pernah ingin memenuhinya. Awalnya, perkawinan kami sangat indah. Ketika baru membina mahligai rumah tangga, suami saya berprofesi sebagai supir taksi.
Setahun setelah menikah, waktu itu saya sedang hamil tiga bulan, suami memutuskan untuk beralih profesi sebagai supir pribadi seorang perempuan yang menjadi bos di perusahaan bongkar muat.
Pertemuan suamiku dan perempuan itu, Sinta (nama samaran), seperti yang diceritakan suami, terjadi di taksi. Waktu itu, Sinta menjadi penumpang yang minta diantar ke Bandara. Selama di taksi, merek berbincang-bincang hingga suamiku ditawari menjadi supir pribadinya dengan gaji yang cukup lumayan. Dengan alasan ingin mendapat kepastian penghasilan bulanan yang cukup, apalagi keluarga kecil kami sudah akan dikaruniai momongan, suamiku pun memutuskan untuk menerima tawaran Sinta.
Dari segi postur dan wajah, suamiku cukup lumayan. Walaupun hanya tamatan SMK, namun penampilannya yang parlente kerap membuat orang mengira jika Hanafi seorang bos perusahaan. Awal-awal bekerja di tempat Sinta, semua berjalan mulus. Uang belanjaku pun lebih baik dibanding ketika suamiku berprofesi sebagai supir taksi. Apalagi, jika suami terpaksa lembur melayani sang bos yang minta diantar ke sana kemari karena berbagai urusan. Selain membawakan uang tip dari bos, suamiku juga kerap membawa makanan-makanan enak pulang ke rumah.
Awalnya, saya senang dengan materi yang diberikan. Apalagi sang bos kerap menitipkan hadiah-hadiah kecil untukku melalui suami. Namun, makin lama, saya merasa ada yang kosong dalam hatiku. Karena suami jarang pulang ke rumah dengan alasan harus mengawal sang bos kesana kemari. Awalnya, saya mengerti dengan kondisi yang terjadi. Namun, suatu saat, ketika suamiku pulang subuh dalam kondisi mabuk dengan bau parfum yang cukup menyengat, kesabaranku sirna. Waktu itu, anak pertama kami baru berusia enam bulan. Pertengkaran hebat terjadi. Dalam kondisi setengah sadar, dia mengaku diminta ikut minum oleh sang bos yang menemani rekan bisnisnya di sebuah tempat hiburan malam. Pagi harinya, kukemas bajuku dan pulang ke rumah orang tuaku. (b)



×


Demi Karir, Suamiku Rela Layani Bosnya

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar