Saat ini aku menjalin hubungan dengan Eros (samaran). Usianya 37 tahun. Eros bukan seorang perjaka, tapi telah memiliki istri dan anak. Namun, aku sudah terlanjur jatuh cinta kepadanya.
Namaku Angel (samaran). Usiaku 25 tahun dan saat ini menjadi guru honor di sekolah dasar di salah satu kabupaten di Sulsel. Sedangkan Eros adalah seorang karyawan swasta di Makassar
Aku mengenal Eros sejak empat tahun lalu dari media sosial Facebook. Perkenalan kami di Facebook tanpa sengaja. Awalnya Eros sering berkomentar di status dan foto yang aku posting. Akupun membalasnya.
Setelah itu, Eros mulai mengajakku chatting. Banyak hal yang kami bicarakan. Mulai dari pembahasan yang biasa-biasa hingga tentang urusan pribadi masing-masing.
Sekitar satu bulan berinteraksi dengan Eros melalui Facebook, aku mulai merasa nyaman. Kepadaku, ia terus terang telah memiliki anak dan istri. Saat itu akupun tidak mempermasalahkan. Apalagi di benakku tidak punya niat menjalin hubungan dengan Eros. Aku hanya memandangnya sebagai kakak yang bisa mendengar keluh kesahku.
Lantaran aku sering mencurahkan segala masalah hidupku ke Eros, aku seakan-akan sangat tergantung dengan petuah dan nasihat-nasihatnya. Sehari tak chatting dengannya, kadang membuatku merasa kehilangan. Apalagi, kami hanya berkomunikasi melalui Facebook. Saya sama sekali tidak tahu nomor ponsel Eros.
Sekitar enam bulan saya akrab dengan Eros, tiba-tiba Eros mengatakan akan berangkat ke kampungku untuk keperluan tugas kantornya.
Mengetahui Eros akan datang ke kampungku, perasaanku bercampur aduk. Antara senang dan was-was. Senang akan bertemu langsung dengan Eros, tapi was-was karena aku tahu Eros akan kecewa jika melihatku secara langsung. Tapi, harus aku akui aku ingin sekali ketemu dengannya.
Hingga akhirnya waktu yang aku nanti-nantikan tiba juga. Eros sudah tiba di kampungku. Kami pun bertemu di salah satu rumah makan. Ternyata, Eros lebih ganteng dibandingkan dengan fotonya. Begitupun Eros, ia terkesima melihatku. Bahkan, dengan terus terang, Eros mengaku jatuh hati.
Itu adalah pertemuan pertamaku dengan Eros. Setelah itu kami tidak pernah ketemu lagi hingga Eros kembali ke Makassar.
Namun, beberapa hari setelah Eros tiba di Makassar, kami kembali berkomunikasi. Tapi kali ini bukan lagi melalui Facebook karena saat kami bertemu, kami bertukaran nomor handphone. Saat itulah, Eros mengaku ingin menjalin hubungan denganku.
Aku tidak langsung memberikan jawaban. Kuakui, memang aku juga jatuh hati dengan Eros. Namun, statusnya sebagai suami orang menjadi pertimbangan utamaku. Saat itu aku hanya menjawab bahwa semua dijalani dulu seperti biasa.
Rupanya, apa yang diucapkan Eros membuatku bimbang. Aku terus memikirkannya. Aku tidak bisa memungkiri kata hatiku. Akhirnya dengan keputusan yang berani, akupun nekat menjalin hubungan asmara dengan Eros. (bersambung)

