Ide kreatif Rere terus mengalir. Setelah jadi DJ, menggarap album, menggarap iklan, bapak satu anak ini kemudian tertarik untuk menceburkan diri di dunia perfiliman dan menjadi sutradara sejumlah film bergenre lokal.
Laporan : Rahma Amri
Berbeda dengan penggarapan film-film lain yang berpusat di Jakarta, Rere mengerjakan semua tahapan filmnya di Makassar dan melibatkan hampir semua kru film mulai dari pemain hingga penata musiknya dari daerah ini.
Dia mengaku tertarik membuat film setelah terinspirasi film India berjudul Billu Barber. Dari situ dia belajar secara otodidak membuat film hingga lahirlah Bombe yang mendapat sambutan hangat dari masyarakat.
Dia mengaku ide penggarapan filmnya mengalir begitu saja. Dengan kemahiran mengoperasikan sejumlah program komputer, Rere mengaku mempelajari dasar-dasar perfilman dalam waktu yang cukup singkat. Apalagi, komputer musik dan film itu hampir sama kerjanya. Semuanya berjalan menggunakan sequence.
Ide cerita, angle camera dan segala sense of art di film murni ide dari dalam hatinya tanpa pernah dipelajari sebelumnya.
“Saya ndak pernah belajar cinematography. Saya pake feeling saja semuanya. Tiga film saya kerja ndak ada yang dibikin pake skenario. Boleh tanya artis-artis dan kru semua sudah ada di kepalaku. Jadi semua dialog di lokasi shootingpi baru saya kasih tahu,” jelasnya.
Dia menyadari kru dan artis kadang bingung dengan pola kerjanya. Namun, sekalipun begitu, hasil garapannya tetap punya rasa.
Saat ini, salah satu film garapannya yang sedang diputar di 25 bioskop di Indonesia, Sumiati, mendapat respons yang hangat dari masyarakat.
Ide awalnya untuk menggarap film itu karena belum ada yang membuat film tentang hantu yang cukup melegenda. Dia menilai, mitos tentang cerita hantu itu merupakan aset yang harus dituangkan ceritanya lewat film.
“Sedikit waktu, kalau saya ndak buat itu Sumiati, bakalan datang orang luar yang buat,” jelasnya.
Ketika dia mengutarakan keinginan itu kepada sang produser yang juga membiayai pembuatan film Bombe, langsung disetujui. Dia pun merekrut talent lokal untuk bermain di film tersebut. Termasuk pemeran Sumiati, Dinda Surbakti yang merupakan warga Makassar. Semua anak-anak Art 2 Tonic juga dilibatkan.
Film itu digarap selama beberapa bulan. Setelah penayangan perdana Kamis (26/11), film itu ternyata mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Tiket pada penayangan perdana di XXI sold out atau terjual habis pada lima jam penayangan di Studio 4. Sebanyak 885 tiket habis terjual. Penonton berdesak-desakan untuk memperoleh tiketnya. Film ini diharapkan mampu menandingi penjualan tiket film sebelumnya, Bombe yang laku terjual 50.000 tiket.
Sukses itu membuat Rere semakin terangsang untuk berkreasi.
“Saya sedang dalam persiapan membuat film yang agak kolosal, judulnya MAKS 88. Selain itu, juga persiapan Bombe 3. Tergantung mood nanti mana yang duluan shooting,” pungkasnya. (rhm/cha/b)

