Namaku Rinai (samaran). Umurku 18 tahun. Aku putus sekolah ketika masih duduk di bangku SMP kelas 2 karena tidak ada biaya.
Bapakku hanyalah seorang penarik becak. Ibuku sudah meninggal saat saya masih berusia empat tahun. Aku memiliki satu orang adik. Ayah merupakan tumpuan hidup kami.
Dia pernah menikah satu kali namun pernikahannya kandas saat aku duduk di bangku kelas VI sekolah dasar. Ibu tiriku tak tahan hidup menderita. Dia meninggalkan kami saat usia perkawinannya baru tiga bulan.
Peristiwa itu membuat ayahku terpuruk dan putus asa. Untuk mengobati kekecewaannya, dia lari ke minuman keras. Ayah yang sebelumnya penyayang dan penuh tanggung jawab berubah jadi pendiam, pemabuk, dan ringan tangan. Lelaki yang dulunya menjadi sosok idola bagi saya dan adikku, berubah menjadi lelaki yang menakutkan. Kami tidak terurus. Agar bisa makan, saya kerap disuruh-suruh oleh tetangga dengan imbalan seadanya. Itu kukumpulkan dan kubelikan makanan untuk saya dan adikku. Sekolahku jadi tidak teratur. Hingga akhirnya harus putus sekolah saat duduk di bangku sekolah. Ayahku jadi jarang pulang. Sebagai anak tertua saya merasa bertanggung jawab pada adikku semata wayang. Dia sangat kusayangi. Akan kulakukan apa saja untuk membiayai dan membahagiakannya. Aku rela jadi tukang cuci piring di warung dekat rumah agar bisa dapat jatah makan. Jika ada makanan yang tidak laku, kubawa pulang untuk makan kami berdua. Selain jadi tukang cuci piring dan disuruh ini itu sama tetangga, saya juga rela jadi tukang cuci. Beruntung adikku tidak rewel dan nakal serta mengerti kondisi kami. Malah, dia sama sekali tidak pernah minta uang jajan jika tidak kuberikan.
Hingga pada suatu hari, saat itu usiaku 15 tahun, ayahku pulang ke rumah. Dengan nada memerintah, aku disuruh mandi yang bersih dan menggunakan pakaianku yang terbaik, serta berdandan yang cantik. Akupun menurut perkataan ayah karena takut dipukul.
Diapun membawaku naik becak ke suatu tempat yang akhirnya kutahu jika itu adalah penginapan. Aku diarahkan ke sebuah kamar. Kemudian kamarnya dikunci. Tak lama kemudian kamar terbuka dan muncul seorang lelaki yang sudah agak berumur. Diapun mengunci kamar dan langsung mendekatiku. Dia menjelaskan diriku sudah dijual oleh bapak sehingga saya harus melayaninya. Tak perlu saya jelaskan, dengan hati perih saya harus melepaskan keperawananku pada lelaki tua itu. (rhm/cha/b)

