pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Azis Qahhar Mengalah

Dua Kali Gagal, Dorong Generasi Muda Maju di Pilgub

PAREPARE, BKM — Pemilihan gubernur (pilgub) Sulsel masih lama digelar. Meski begitu, sudah banyak nama mencuat untuk menduduki posisi yang akan ditinggalkan Syahrul Yasin Limpo itu. Salah satunya Abdul Azis Qahhar Mudzakkar.
Namun, ketika ditemui wartawan di Kota Parepare, Minggu (11/1), anggota DPD RI ini belum bisa memastikan apakah dirinya akan maju di perhelatan lima tahunan itu untuk yang ketiga kalinya.
”Saya sudah dua kali maju (di pilgub). Saya ingin generasi muda untuk maju di pilgub nantinya,” kata Azis Kahar usai Dialog Publik Membangun Peradaban Melalui Jurnalis Berintegrasi di Teras Empang. Kegiatan ini melibatkan para jurnalis Kota Parepare dan Pemuda Muhammadiyah.
Azis mengakui bahwa politik di pilgub sangat keras dan membutuhkan biya besar. ”Namun saya maju di pilgub karena dukungan masyarakat. Saya dibiayai oleh masyarakat yang menjadi simpatisan saya waktu itu,” tandas mantan cawagub yang berpasangan Ilham Arief Sirajuddin ini.
Sikap Azis Qahhar yang terkesan mengalah dan akan memberi kesempatan kepada tokoh yang lebih muda untuk bertarung di Pilgub Sulsel 2017 mendatang, mendapat tanggapan dari dosen politik dan ilmu sosial Unhas Dr Darwis. Menurutnya, Ustaz Azis menunjukkan sikap kenegarawannya yang patut ditiru, karena merasa dua kali gagal. “Dan yang terpenting beliau tahu diri bahwa Sulsel ini punya calon pemimpin yang mumpuni, dan juga sebagai sikap memberi jalan kepada anak-anak muda yang potensial,” ujar Darwis yang juga mantan anggota KPU Sulsel ini.
Hal berbeda disampaikan Prof Dr Adi Suryadi Culla. Dia menilai, sikap Azis Qahhar itu masih samar. Soalnya, Pilgub masih jauh. Selain itu, secara rasional agak tidak masuk dalam tataran logika obyektif, jika seorang politisi yang punya basis dukungan konstituen yang cukup kuat menolak untuk jadi calon.
“Sebab dalam beberapa kali pengalaman pilgub terbukti Azis punya basis massa tradisional. Artinya, mungkin saja sikapnya berubah. Dia berbicara sebagai politisi, memang perlu ditafsirkan. Apalagi fakta politik memang seringkali sulit diprediksi,” ujar Adi.
Dijelaskan, mungkin saja Azis masih dalam proses kalkulasi. Kemungkinan dia tidak mau mengalami kekalahan yang berikutnya. Apalagi pengalaman serupa telah juga dialami banyak calon lainnya dalam pemilukada di beberapa daerah.
Setelah menjadi calon beberapa kali, bahkan lebih tiga kali, namun tetap kalah. Apalagi proses kompetisi pilkada menguras begitu banyak energi, perhatian, waktu, pengorbanan politik serta finansial dan sebagainya.
“Tak kalah pentingnya adalah dampak regulasi baru yang mengharuskan seorang pejabat publik, termasuk anggota legislatif seperti Azis sebagai anggota DPD RI yang harus mengundurkan diri jika menjadi calon. Karena itu wajar jika dia perlu memikirkan ulang dan mempertimbangkan untuk jadi calon dalam pilgub. Sebab bisa buntung atau rugi dua kali. Lepas jabatan, dan fatalnya lagi karena kalah di pilgub,” pungkas Adi. (smr-rif/rus/c)



×


Azis Qahhar Mengalah

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar