JIKA menyebut orang sakit jiwa alias gila, mungkin diantara kita tidak banyak yang menaruh perhatian. Bahkan memilih untuk menghindarinya dengan berbagai alasan. Tapi tidak dengan Sahabuddin.
Laporan: Rusdi Nasaruddin
KEPEDULIAN masyarakat terhadap keberadaan orang gila di sekitarnya masih terbilang sangat minim. Apalagi seorang polisi yang sehari-harinya disibukkan dengan tugasnya sebagai aparat pengamanan.
Tentu sangat sulit untuk menemukan seorang anggota polri yang bersedia membantu, bahkan memanusiakan orang yang mengidap penyakit jiwa. Namun Brigpol Sahabuddin mampu melakukannya.
Saat ini Sahabuddin bertugas di Binmas Polsek Tanete Riaja, Kabupaten Barru. Ia pernah bertugas sebagai pasukan Gegana Brimob Kelapa Dua Mabes Polri.
Di balik tugas-tugasnya di kepolisian, Brigpol Sahabuddin memiliki keikhlasan hati untuk membantu masyarakat yang memiliki keluarga dengan latar belakang kelainan jiwa. Meski dia kerap menemui risiko yang cukup berbahaya ketika berhadapan dengan orang gila.
Ditemui ketika berada di Mapolres Barru saat mengantar seorang ‘pasiennya’ bernama Yusri, Kamis (21/1), Sahabuddin mengenang ketika dirinya pertama kali bertemu langsung dengan orang gila bernama Ambo. Saat itu tubuhnya nyaris terkena sabetan perang yang digunakan Ambo.
Penderita kelainan jiwa yang juga warga Kecamatan Tanete Riaja ini, selalu menenteng parang panjang sembari menantang orang-orang yang ada di sekitarnya ketika penyakitnya kambuh. Tak terkecuali keluarganya, juga tak luput dari ancaman Ambo. Seketika itu Sahabuddin menerima informasi kalau ada orang gila mengamuk dan mengejar warga dengan parang panjang. Tanpa berpikit panjang, Sahabuddin yang mengaku sempat sejenak menjadi ajudan mantan Wakapolri Komjen Yusuf Manggabarani ketika masih menjabat Dansat Gegana Brimob di Kelapa Dua ketika itu, merasa terpanggil untuk melakukan upaya pengamanan.
Saat berada di lokasi, diapun langsung teringat ketika bertugas di kesatuan elit kepolisian itu, khususnya tentang bagaimana taktik dan strategi dalam melumpuhkan lawan. Sejurus kemudian Sahabuddin tak kesulitan membanting dan mengunci Ambo yang semakin beringas kala itu.
Sebenarnya, Sahabuddin baru terinspirasi membantu orang gila untuk melakukan pengobatan nanti di tahun 2014 lalu. “Aksi Ambo yang mengamuk karena gangguan kejiwaan, menginspirasi saya untuk melakukan pekerjaan ini dengan segala rasa kemanusiaan, bahwa orang gila itu juga manusia yang perlu dimanusiakan,” tutur Sahabuddin.
Dengan nada merendah, Sahabuddin mengakui bahwa bukanlah dirinya yang mengobati para orang gila di sekitar Kecamatan Tanete Riaja dan Pujananting. Ia hanya tergerak untuk peduli terhadap anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa di dua wilayah tugasnya.
”Saya hanya membantu warga kurang mampu untuk mengurus administrasi seperti surat-surat BPJS, Jamkesda serta KIS sebagai dokumen pengganti pembayaran pengobatan dan mengantarnya hingga ke rumah sakit. Mulai ke RSUD Barru sampai memperoleh rujukan ke RS Dadi di Makassar. Yah, biasalah kalau ada warga yang tidak memiliki biaya pengobatan, saya bantu seadanya dan biasa juga dibantu para tokoh masyarakat,” terangnya.
Pekerjaan yang dilakoninya ini, diakui Sahabuddin sangat berisiko. Tidak heran jika kemudian banyak teman dan rekannya sesama polisi yang merespon secara beragam.
Salah seorang perwira berpangkat perwira di lingkup Polres Barru Ipda Syafaruddin, memberi respons dan mengakui sikap serta kepedulian Sahabuddin terhadap warga yang mengidap penyakit kejiawaan. Menurutnya, jiwa sosial Brigpol Sahabuddin sebagai anggota Polsek Tanete Riaja sudah diperlihatkan sejak awal bertugas di wilayah ini. ”Kepekaan sosialnya sangat tinggi. Bukan hanya orang gila yang diurus dan dibantu. Jika mendengar informasi ada jalan rusak, jembatan roboh atau ada laporan tentang permasalahan warga, dalam waktu singkat ia meresponsnya dan bergegas menuju lokasi yang dilaporkan,” aku Syafaruddin.
Penilaian serupa juga datang dari atasannya di Polsek Tanete Riaja. Kapolsek Tanete Riaja AKP Sahyuddin mendukung sepenuhnya kepedulian sosial dari anggotanya yang ditugaskan di bagian Binmas itu. ”Benar-benar sebagai seorang aparat yang sangat bermasyarakat. Pokoknya sangat responsif kalau ada warga yang meminta bantuan. Dia tidak pernah berpikir risiko. Yang terpenting membantu dulu warga yang memiliki kepentingan apa saja. Bahkan orang gila tidak luput dari perhatiannya,” ujar Sahyuddin. (*/rus/b)

