pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

227 Eks Gafatar Asal Sulsel Dipulangkan

MAKASSAR, BKM — Sebanyak 227 orang atau 69 kepala keluarga (KK) eks pengikut Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) asal Sulsel segera dipulangkan. Pemulangan mereka akan menggunakan jalur laut.
”Saya baru dapat informasi dari Kalimantan Barat, ada 68 KK atau 227 orang asal Sulsel yang akan dipulangkan,” kata Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulsel Asmanto Baso Lewa, Senin (25/1).
Eks Gafatar yang akan dipulangkan ke Sulsel rencananya dikumpulkan di di Desa Karya Jaya, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kertanegara (Kukar), Kalimantan Timur, Selasa (26/1).
“Besok (hari ini) mereka dihimpun di sana sebelum dipulangkan ke Sulsel,” ungkap Asmanto.
Menurut rencana, mereka akan diberangkatkan Rabu malam (27/1) sekitar pukul 20.00 Wita dengan menggunakan KM Bukit Siguntang.
Dari 227 KK yang akan dipulangkan, terdiri dari 82 laki-laki dewasa, 57 perempuan dewasa, 51 anak laki-laki, 27 anak perempuan, 6 bayi laki-laki, dan 4 bayi perempuan.
Setiba di Makassar, para eks Gafatar akan ditangani oleh Dinas Sosial, sementara dikoordinasikan dengan Pangdam VII/Wrb dan dilakukan pendataan asal kabupaten.
Pemprov Sulsel melalui Badan Kesbangpol berjanji akan memberi pendampingan kepada warga Sulsel eks Gafatar tersebut.
Pendampingan itu bertujuan agar mereka tidak canggung untuk berbaur dengan masyarakat sekitar. Pendampingan yang diberikan nantinya dalam bentuk pemahaman agama dan langkah bersosialisasi dengan masyarakat.
“Hal itu dimaksudkan agar mereka tidak menutup diri dari pergaulan. Masyarakat pun bisa menerima,” kata Asmanto.
Asmanto melanjutkan, para eks Gafatar itu harus dipulihkan pemikirannya yang selama ini terkontaminasi oleh ajaran sesat. Selain itu, pemerintah juga akan menyiapkan pendampingan terhadap anak-anak eks Gafatar.
Secara umum, penanganan eks Gafatar, menurut Asmanto, ditangani Kementerian Sosial sehingga pihaknya terus berkoordinasi untuk menentukan langkah selanjutnya.
Sebelumnya, sudah ada tujuh orang eks Gafatar yang terdiri dari dua KK ke Sulsel atas inisiatif sendiri. Mereka tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Sabtu, (23/1).
Sementara Kepala Dinas Sosial Sulsel Ilham Andi Gazaling, mengatakan setibanya di Makassar, mereka akan ditampung sementara di Gedung Rehabilitasi Cacat, Jalan AP Pettarani untuk didata dan menunggu dijemput oleh keluarganya masing-masing.
“Kemungkinan besok (hari ini) akan ada rapat koordinasi untuk membicarakan teknisnya. Kita tampung dulu kemudian dipulangkan ke kampung masing-masing,” pungkasnya.
Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, mengungkapkan pihaknya telah menyiapkan sejumlah program untuk mengatasi persoalan Gafatar. Salah satunya, menyiapkan langkah pendampingan untuk memulihkan paham radikalisme yang mereka anut, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri untuk kembali bersosialisasi dan bergaul di tengah masyarakat.
Hal senada dikatakan Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang. Menurutnya, pemerintah punya kewajiban untuk memulihkan rasa percaya diri dan mental para eks Gafatar. Sekaligus memberi arahan kepada masyarakat agar bisa diterima dengan baik.
“Kita tidak ingin eks Gafatar tidak diterima dengan baik di tengah masyarakat. Disinilah perlunya keterlibatan pemerintah untuk memberi pendampingan bagi mereka,” ungkapnya.
Terpisah, Kepala Dinas Sosial Sulsel Ilham Andi Gazaling, mengatakan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Kementerian Sosial untuk mengetahui jumlah eks anggota Gafatar asal Sulsel yang akan dipulangkan.
Pihaknya akan melakukan inventarisasi warga Sulsel eks Gafatar untuk kemudian diberi pembinaan mental dan sosial. Setelah diinventarisir jumlah eks anggota Gafatar per kabupaten, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan dinas sosial kabupaten/kota, karena teknis pembinaan merupakan wewenang mereka.
Sementara itu, Kejaksaan Negeri (Kejari) Makassar menyita buku di Taman Kanak-kanak (TK) Pertiwi, Jalan Landak Baru. Penyitaan itu menyusul adanya dugaan buku tersebut mengandung paham radikal.
Kepala Seksi Intelijen Kejari Makassar Andi Fajar Anugerah Setiawan di ruang kerjanya, Senin (25/1) mengatakan, lima buku yang disita ini dicetak Cordova di Jalan abdullah Daeng Sirua.
Dari pengakuan guru TK Pertiwi, menurut Fajar, buku ini sudah tidak digunakan lagi sejak tahun 2011. Bahkan buku itu sifatnya hanya sebagai pegangan guri dan tidak diperjualbelikan.
“Sudah lama buku ini ditarik peredaran. Tetapi karena adanya edaran di media sosial, membuat seorang guru penasaran dan mencari buku itu untuk melihat isinya,” terang Kasi Intel.
Terkait sanksi, Fajar mengatakan bahwa pihaknya belum bisa menentukan sanksi apa yang akan diberikan. Sebab pihaknya masih akan mempelajari dan mendalaminya. Apakah ada unsur kesengajaan dari pihak percetakan atau seperti apa.
“Kalaupun terbukti, nanti akan dilakukan penyelidikan terhadap penerbit dan percetakan,” tandasnya.
Fajar mengakui, pihaknya turun melakukan penyitaan setelah ada laporan mengenai dugaan isi buku tersebut berbau paham radikal. Lima buku yang disita sebanyak lima seri. Pihak kejari akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Makassar untuk kelanjutan kasus ini.
Kepala TK Pertiwi St Khadijah Ahmad yang dikonfirmasi, mengatakan buku yang disita itu sudah tidak dipakai lagi sejak tahun 2011. Namun diakuinya, buku itu sempat dijadikan buku pegangan oleh guru, tapi tidak diedarkan.
“Jumlahnya sedikit karena hanya buku pegangan. Dan tidak lagi digunakan sejak tahun 2011,” kata dia.
Setelah pihaknya melihat edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di media sosial, ia kemudian kembali mencari buku itu. “Karena penasaran, makanya kita cari kembali buku itu untuk melihat isinya,” tandasnya. (rhm-mat/rus/b)



×


227 Eks Gafatar Asal Sulsel Dipulangkan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar