MENJADI PNS bukan berarti Fanny melupakan aktifitasnya sebagai seorang atlet. Dia tetap menggeluti olahraga judo yang dianggap sudah mengantarnya berkarir sebagai seorang PNS.
Laporan: Rahmawati Amri
SEJAK masih kecil Fanny memang sudah menggeluti judo. Awalnya ia hanya ikut kakaknya yang juga atlet judo. Namun karena belum terlalu serius, latihannya sempat terhenti. Nanti saat duduk di SMP, dia kembali aktif latihan.
Banyak suka dan duka yang dirasakan selama bergelut dengan olahraga judo. Dia harus siap dengan risiko cidera, karena olahraga yang satu ini cukup keras. Kunci mengunci dan membanting lawan tentunya bisa mengakibatkan patah tulang dan cidera otot.
Untuk urusan yang satu ini, kata Fanny, dia sudah punya langganan seorang dokter yang ahli mengobati patah tulang.
“Jadi kalau cidera saat latihan atau bertanding, saya ke dokter fisioterapi langganan,” tuturnya.
Sebagai atlet judo, berderet-deret prestasi telah diraihnya.
Dia mulai ikut PON tahun 1993, namun waktu itu belum dapat juara. Nanti pada PON 1996, Fanny berhasil menyabet juara 3 untuk kelas 72+. Begitu pula pada PON tahun 2000, dia menyabet juara 3 di 70 kg. Tahun 2004, juara 3 kelas 78 kg plus.
Pada PON tahun 2008 Fanny mencatat prestasi gemilang dengan meraih juara 1 kelas 78+. Dan pada PON 2012, dirinya keluar sebagai juara 3 untuk kelas 78+.
Saat ini, wanita berpenampilan tomboy ini sementara mempersiapkan diri untuk berlaga di PON 2016 pada September mendatang di Kota Bandung. Latihan pun kian diintensifkan.
“Mungkin sekitar bulan Maret atau April sudah mau TC Pelatda di KONI,” jelasnya.
Yang menjadi persoalan sekarang, kata Fanny, untuk meminta izin masuk pemusatan latihan dirinya agak bingung. Pasalnya, sebagai seorang PNS, dia harus aktif masuk kerja. Apalagi absensi yang digunakan sudah menggunakan finger print.
Namun, berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, KONI akan bersurat ke instansi tempatnya mengabdi sebagai pengantar meminta izin.
“Selama ini kepala biro izinkan asal pekerjaan tidak terbengkalai,” ungkapnya.
Selain berlatih untuk persialan laga, Fanny juga aktif melatih adik-adik junior. Alasannya, agar berlangsung regenerasi. Bersama beberapa teman, dia mendirikan club Judo Lompobattang.
“Sangat bersyukur karena adik-adik yang kami latih sudah banyak yang berprestasi. Malah dua orang lolos seleksi untuk ikut PON mendatang,” jelasnya.
Dia melihat perkembangan olahraga judo di Sulawesi Selatan sudah mulai bagus. Banyak atlet yang memiliki talenta untuk berpretasi lahir dari klub judo yang ada. Beberapa daerah yang mulai mencetak atlet diantaranya Makassar, Pangkep, Bone, dan Bantaeng.
Sebagai warga keturunan, perayaan Imlek juga disambut dengan penuh suka cita. Kendati dirinya menganut agama Kristen Katolik, namun karena keluarganya masih banyak menganut Budha, otomatis nuansa Imlek masih sangat kental di rumahnya.
Anak dari almarhum Suryadi Pie dan Go Giok Khie ini merayakan Imlek dengan makan-makan bersama, berdoa untuk para leluhur, dan berkunjung ke rumah keluarga. (*/rus/b)

