MAKASSAR sebagai kota metropolitan yang kini menuju kota dunia, tak lepas dari berbagai permasalahan pelik. Mulai dari aksi kriminalitas, kemacaten, tumpukan sampah, banjir dan aneka persoalan perkotaan lainnya. Pemerintah kota pun mencari solusi untuk memantaunya. Salah satunya melalui operation room.
Laporan: Arif Alqadri
UNTUK menjadikan kota ini nyaman dan aman, Pemkot Makassar membangun sistem jaringan komunikasi pengendalian seluruh sistem dan aplikasi perkotaan. Markasnya di sebuah ruangan Menara Balai Kota, tepatnya di lantai 10.
Operation room resmi beroperasi pada Desember 2015 lalu. Ruangan ini memiliki ukuran panjang 30 meter dan lebar 22 meter, yang dihiasi kaca bening berukuran tebal dengan ornamen dinding berwarna merah.
Di dalam ruangan dipasang sistem elektronik dan komponen yang canggih untuk keperluan penempatan, penyimpanan dan pengelolaan data yang dilengkapi sistem untuk memantau atau memonitor kondisi wilayah, dengan peralatan jarak jauh dan sudah ditempatkan secara real time, dibantu dengan kamera CCTV (Closed Circuit Television) yang dipasang di beberapa titik.
Di dalam operation room, sejumlah layar monitor berukuran sekitar 14 inci memantau aktifitas lalulintas yang ada di Kota Makassar dan dapat dilihat secara langsung. Sehingga setiap masalah yang muncul di masyarakat, khususnya di jalan raya dalam Kota Makassar dapat terpantau secara cepat dan akurat, sehingga persoalan yang ada dapat segara dicarikan solusinya.
Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Makassar Hamzah menjelaskan, fasilitas Operation Room memiliki 69 CCTV yang ditempatkan di beberapa titik secara terpadu. Kehadirannya, diakui sangat diperlukan untuk menjadikan Makassar Smart City yang berbasis IT, yang akan terus tumbuh seiring kebutuhan masyarakat.
“Operation room diharapkan menjadi kunci keberhasilan transformasi sepenuhnya untuk menjadikan Makassar Smart City, yang juga akan memberikan pelayanan dan keterhubungan seluruh jajaran Pemerintah Kota Makassar satu sama lain,” kata Hamzah.
Diakui Hamzah, saat ini operator room atau yang lebih dikenal dengan sebutan war room masih terbilang kurang. Hanya ada tiga orang petugas yang berjaga mengontrol atau mengoperasikan peralatan di ruangan ini.
”Untuk waktu kerjanya, para operator yang bertugas di Operation Room hanya mengikuti waktu kantor, yakni dimulai pukul 07.00 Wita sampai pukul 17:00 Wita,” jelas Hamzah.
Meski begitu, tambahnya, bukan berarti aktifitas pemantauan secara otomatis CCTV yang dikendalikan di operation room berhenti. Hamzah mengatakan, CCTV dan pengimputan data di dalam ruangan ini bekerja selama 24 jam.
Walaupun operator di dalam opertion room sudah tidak ada lagi di dalam, tetapi semua data-data atau rekaman yang terpantau oleh CCTV tetap masuk dan dapat dilihat dikeesokan harinya.
“CCTV bekerja selama 24 jam. Jadi meski operator yang ada di dalam opertion room sudah pulang, besoknya kita bisa buka rekaman yang ada. Karena database yang dimiliki cukup besar, yang bisa menampung ribuan data rekaman,” terangnya.
Beberapa kejadian yang berlangsung di Kota Makassar terpantau di dalam ruangan ini. Salah satunya adalah aksi pembakaran pos polisi Tello yang terjadi beberapa waktu lalu.
Itu artinya, keberadaan operation room yang menempatkan beberapa CCTV di Kota Makassar, dapat membantu kerja-kerja kepolisian untuk mendata aksi kriminalitas di jalanan. Termasuk untuk mengungkap siapa pelakunya.
Menurut Hamzah, bukan hanya pembakaran pos polisi Tello yang berhasil direkam. Tetapi beberapa aksi di jalan juga pernah terekam, seperti tabrak lari di depan RS Awal Bros, dan beberapa kejadian lainnya. (*/rus/b)

