SAAT ini dr Nurlinda Subair masih fokus memberikan penyuluhan dan pemahaman kepada masyarakat melalui kegiatan yang digelar, baik di rumah sakit, kantor-kantor, sekolah ataupun di tempat umum lainnya. Caranya dengan menempelkan stiker dan brosur tentang pencegahan dan deteksi dini tumor serta kanker.
Laporan: Arif Alqadri
SAAT ditemui di sekretariat MC3, Ibu Nonong memperlihatkan sejumlah foto-foto kegiatan yang telah dilaksanakan komunitas ini, baik di Kota Makassar maupun daerah lain. Salah satunya saat menggelar kegiatan di Lapangan Karebosi di tahun lalu, bertepatan dengan Hari Kanker.
Terlihat di dalam foto tersebut ratusan masyarakat Kota Makassar hadir. Beberapa diantaranya adalah pejabat Pemkot. Bahkan Menteri Kesehatan ikut hadir.
“Meskipun MC3 masih baru, tetapi kami telah membuat berbagai macam kegiatan sosial, penyuluhan dan pemahaman deteksi dini tumor kanker. Bahkan kami juga telah diakui oleh Menteri Kesehatan. MC3 dinilai sangat baik dan menjadi komunitas untuk masyarakat. Karena itu tahun depan kami berharap bisa membuat sekretariat yang lebih baik dan bisa menampung lebih banyak penderita kanker untuk bertukar pikiran,” ujarnya.
Sambil memperlihatkan foto-foto kegiatan MC3 yang telah digelar dengan penuh antusias, Ibu Nonong juga menyempatkan berbagi cerita dan pengalaman ketika ia divonis menderita kanker payudara. Komunitas dan sekretariat yang ia bentuk merupakan inisiatifnya setelah tertolong dan sembuh dari penyakit kanker yang dideritanya.
Dalam kisahnya, Ibu Nonong menyatakan di awal tahun 2012 lalu, ia pernah menderita dan merasakan penyakit kanker payudara. Bahkan saat itu ia sempat pasrah dan rela untuk menghilangkan salah satu payudara demi mengangkat sel kankernya.
Tetapi hal itu tidak terjadi. Tuhan menunjukkan jalan keluar dengan mempertemukan dia dengan seorang dokter yang memberikan motivasi semangat kepada dirinya, sekaligus menyatakan kesiapan untuk membantu menyembuhkan penyakit yang diderita tanpa harus menghilangkan atau mengamputasi salah satu payudaranya.
Awalnya Ibu Nonong bersikeras untuk tetap menghilangkan payudara demi kesembuhannya. Tetapi semangat dan dorongan yang diberikan dokter kepada Ibu Nonong untuk berobat tanpa perlu mengamputasi payudara terus dilakukan. Hal ini membuatnya luluh hingga akhirnya mengikuti usulan tersebut.
Saat itu, Nonong menjalani kemotherapy selama setahun lebih, yang dimulai di awal tahun 2012 sampai 2013. Selama mengikuti kemotherapy, ia diharuskan untuk melakukan pemeriksaan sebulan sekali guna mengontrol sel kankernya.
Ia mengaku sempat bosan mengonsumsi obat setiap hari. Apalagi jumlahnya cukup banyak. Tetapi ia sadar, demi kesembuhan diperlukan kesabaran, ketabahan dan doa. Hal tersebut yang ditekankan di dalam hati, yang sekaligus menjadi semangat bagi dirinya untuk berobat.
”Jadi saya juga dulu sempat menderita penyakit kanker payudara. Bahkan sempat ingin mengamputasi salah satu payudara saya yang divonis terkena kanker. Tapi untungnya dokter memberi saya solusi dan semangat untuk mengikuti kemotherapy. Hasilnya, saat ini saya sudah sembuh dan tetap akan mewujudkan niat saya untuk memberikan penyuluhan dan pencegahan dini tumor kanker ke seluruh masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, dengan membentuk komunitas MC3 dan membuat sekretariat yang berada di rumah pribadinya, ia bersama teman-teman yang berprofesi sebagai dokter dapat memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada masyarakat awam mengenai bahaya penyakit tumor kanker serta memberikan upaya pencegahaan.
MC3 yang resmi dibentuk pada 17 Agustus 2013, juga diharapkan mampu memberikan motivasi dan dorongan semangat kepada pasien serta penderita kanker untuk menjalani terapi untuk mengurangi jumlah pasien stadium lanjut. Komunitas ini dibentuk oleh dua orang mantan penderita kanker, yakni dr Nurlinda Subair dan Nita Nurspty.
Ibu Nonong bercita-cita menjadikan MC3 sebagai wadah terpercaya dalam mengedukasi, memberi informasi dan melakukan promosi kesehatan terkait tumor dan kanker. (*/rus/b)

