NAMA Eryvia Maronie cukup akrab di telinga para publik relation (PR) di Kota Makassar. Wanita yang akrab disapa Ery ini pernah menempati beberapa posisi PR manager di pusat perbelanjaan yang ada di Makassar.
Di puncak-puncak karirnya, tiba-tiba wanita kelahiran Makassar, 23 Maret 1977 itu memutuskan untuk mengubah haluan. Ya, Ery banting setir terjun ke dunia bisnis.
Setelah resign tahun 2013 dari Trans Studio Mal, Ery merintis bisnis kecil-kecilan. Cerdas membaca peluang usaha, dia membidik bisnis jualan barang-barang seken. Mulai dari baju, sepatu, tas bermerek, hingga furniture.
Selain itu, Ery juga fokus membesarkan event organizer (EO) yang baru didirikan Mei 2015 lalu. Namanya EMaronie Organizer. Berbeda dengan EO lain, Ery fokus di bidang edukatif kreatif.
“Saya kalau bikin sesuatu memang anti mainstream. Kalau orang bikin online shop jual baju-baju baru, saya fokus jual barang bekas namun berkualitas. Begitu juga dengan EO yang saya dirikan,” ungkapnya.
Dia mengakui, ternyata barang-barang seken, apalagi yang branded memiliki pangsa pasar yang cukup besar. Sebab banyak orang mau keren bergaya menggunakan baju bermerek tapi uangnya tidak cukup. Sementara ada orang yang menggunakan baju bermerek hanya satu dua kali sudah bosan dan bingung mau diapakan.
“Nah, saya tangkap peluang ini supaya semua orang bisa happy,” ungkapnya.
Dia mengaku tertarik terjun ke dunia bisnis karena karakternya yang tidak bisa diam. Suka dukanya berbisnis barang seken, karena banyak yang mengidentikkan barang seken sama dengan cakar. Padahal tidak. Sementara di bisnis EO, kata ibu tiga anak ini, ternyata masih banyak orang tua yang ogah-ogahan anaknya ikut workshop.
Isteri dari Andi Tenri Lengka Bau’ ini mengaku apa yang dilakukan atas restu suami.
“Suami saya setuju dengan apa saja yang saya lakukan, asalkan positif dan keluarga tetap nomor satu,” jelasnya.
Pada dasarnya, wanita yang hobi travelling ini tidak ngoyo atau keukeuh dengan apa yang harus diraih. Semua dijalani dengan senang hati. Asalkan berdampak positif bagi semua orang. Namun, dia tetap berharap agar EO nya lebih lebih dikenal masyarakat luas dan selalu eksis menjadikan masyarakat lebih cerdas.
“Mottoku bukanji hidup adalah perjuangan, tapi hidup itu harus dinikmati,” pungkasnya. (rhm/rus/c)
Anti Mainstream
×

