pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Digelari Daeng di Pesawat

BKM/CHAIRIL
Nurqalby RuslanPEMBAWAANNYA supel dan ramah. Tingginya semampai. Rambut panjangnya dibiarkan terurai hingga di bawah bahu.
Kulit putihnya yang bersih makin bersinar dibalut baju kaos ketat warna hitam, dipadu celana jeans warna biru yang ketat pula. Di bagian kaki terpasang sepatu kets warna merah campur putih di bagian alas dan pengikatnya.
Sekilas, cewek bernama lengkap Nurqalby Ruslan ini tampak tomboy ketika bertandang ke redaksi Berita Kota Makassar, Senin (14/3) malam. Tidak ada yang pernah menyangka kalau Aby –sapaan akrabnya– adalah seorang pramugari, yang dalam dua tahun terakhir bekerja di maskapai penerbangan luar negeri.
Aby lahir di Ujung Pandang, 29 Agustus 1989. Dia merupakan anak sulung dari sembilan bersaudara. Ayahnya, H Ruslan atau yang akrab disapa H Cullang, merupakan salah seorang tokoh masyarakat di Kecamatan Tallo yang bermukim di Kelurahan Wala-walaya.
Pendidikan terakhir Aby adalah SMK Telkom Makassar jurusan pariwisata. Ia lulus dari sekolah ini tahun 2007.
Gadis yang suka menyanyi ini, sebenarnya pernah bekerja di salah satu bank di Makassar di tahun 2008. Posisinya sebagai teller. Namun pekerjaan itu tidak lama dilakoninya. Hanya setahun bekerja di bank, ia kemudian memilih untuk resign.
BKM/CHAIRIL
Nurqalby RuslanHobinya yang suka jalan-jalan kemudian membawa Aby pada sebuah profesi baru. Tahun 2009, tepatnya di bulan Desember, ia masuk dalam tiga besar calon pramugari di Batavia Air.
Sebenarnya, cita-cita Aby ingin menjadi pilot. Namun keinginan itupun kemudian dikubur dalam-dalam, menyusul lolosnya dia dalam seleksi calon pramugari.
”Semuanya berawal dari ajakan teman untuk mendaftar menjadi pramugari. Saya coba-coba waktu itu, dan akhirnya diterima,” ujarnya.
Diakui, untuk menjadi seorang pelayan penumpang pesawat terbang, tidaklah mudah. Pelamar harus melalui berbagai tahapan seleksi yang cukup ketat. Saingan pun cukup banyak.
”Waktu saya ikut tes, pesertanya ada 157 orang. Ada ujian tertulis, tes kesehatan, percakapan dengan menggunakan bahasa Inggris, interview serta tes lainnya. Alhamdulillah, semua tahapan saya bisa lalui dengan baik dan masuk dalam tiga besar,” terangnya.
Meski begitu, tidak mudah bagi Aby untuk bisa menapaki pekerjaan barunya ini. Sebab orang tuanya, utamanya sang ayah, ternyata tidak setuju dengan pilihan buah hatinya. Mereka khawatir ketika anak gadisnya harus hidup jauh dari orang tua.
Dengan tegas, H Cullang menolak anaknya menjadi seorang pramugari. Pihak maskapai pun ‘turun tangan’ untuk memberi penjelasan. Namun semua itu tak menggoyahkan pendiriannya.
”Itu yang paling saya ingat waktu lulus diterima menjadi pramugari. Bukannya senang anaknya lulus tes pramugari, ayah saya malah tidak mendukung. Bahkan pihak maskapai yang membentu memberikan penjelasan, tak digubrisnya,” kenang Aby.
Tapi, Aby tidak patah arang. Ia berusaha dewasa menghadapi sikap ayahnya. Alhasil, upayanya itu berbuah baik.
”Saya bicara ke ayah saya untuk meminta agar beliau merestui saya jadi pramugari. Saya bilang, ini adalah bentuk perjuangan saya. Juga perjuangan ayah yang telah membesarkan saya. Ayah harus bersemangar. Jangan mau diremehkan oleh keluarga dan kerabat ayah,” kenangnya lagi. Kali ini, Aby berujar dengan kalimat yang terbilang puitis.
Permintaan dan pernyataan tulus yang terlontar dari seorang anak perempuan kepada ayahnya, akhirnya membuah luluh. H Cullang kemudian dengan iklhas menyatakan mendukung sepenuhnya keputusan Aby untuk berkarir di dunia penerbangan sebagai pramugari.
”Sebenarnya, saya sempat kasihan ke ayah ketika itu. Tapi semua itu demi masa depan saya. Saya bangga memiliki seorang ayah yang selalu menjaga anaknya dimanapun berada,” tuturnya haru.
Aby sempat bercerita sekilas tentang sosok sang ayah. Menurutnya, H Cullang adalah seorang bapak yang tegas dalam mendidik dan membimbing anak-anaknya. Ketika Aby masih duduk di bangku sekolah, pengawasan tak pernah lepas dari sang ayah.
Ketegasan dari orangtuanya itupun kini dinikmati hasilnya oleh Aby. Ia bisa menjadi seorang pramugari. Meski berada jauh dari orang tua, Aby mampu menjaga diri.
Apalagi kini sang ayah sudah tiada. Jadilah Aby yang merupakan anak tertua harus membantu ibunya menafkahi adik-adiknya. Di maskapai Batavia Air, Aby menjalani kontrak selama tiga tahun. Setelah itu ia ikut tes di maskapai Nam Air (anak perusahaan Sriwijaya Air) dan dinyatakan lulus.
Hanya setahun Aby di Nam Air, kemudian pindah ke New Jatayu Air. Lagi-lagi setelah setahun di tempat ini, diapun memilih hijrah.
Kali ini yang dipilihnya mendaftar bukanlah maskapai dalam negeri. Aby mencoba peruntungan mendaftar sebagai pramugari di maskapai Pulmantur yang bermarkas di Spanyol. Setelah melalui tes Bahasa Inggris serta renang, diapun diterima bekerja di maskapai dengan rute penerbangan internasional itu.
”Saya dikontrak di Pulmantur selama lima tahun. Sekarang ini sudah hampir dua tahun. Untuk Indonesia, ada rute penerbangan di Surabaya dan Medan. Kalau rute Makassar belum ada,” jelas Aby.
Di sela-sela pembicaraan, Aby memuji teman-teman kerjanya di pesawat. Ada orang Arab, Spanyol dan Belanda.
Mengetahui Aby berasal dari Makassar, teman-temannya itupun memberi panggilan khusus baginya. ”Saya biasa dipanggil Daeng Sayang kalau di pesawat. Itu karena mereka tahu saya dari Makassar,” tuturnya.
Lalu berapa gaji yang didapatkan bekerja di perusahaan penebangan itu? Awalnya, Aby enggan untuk menyebutkannya. Namun, tidak lama kemudian dia menyebut angka di kisaran Rp30 juta hingga Rp40 juta setiap bulannya.
”Gajinya dibayar pakai dollar. Terbang atau tidak terbang tetap digaji,” ujarnya, sumringah.
Aby berada di Makassar dari tanggal 10 hingga 16 Maret. Ia mendapat izin untuk pulang kampung. Setelah itu, Aby akan kembali menjalani rutinitas kesehariannya sebagai pramugari yang terbang dari satu negara ke negara lainnya.
Lalu sampai kapan ia harus menggeluti pekerjaan ini? Apalagi Aby seorang perempuan dan usianya kini sudah 26 tahun.
”Setelah kontrak selama lima tahun selesai, saya ingin kembali terbang lagi di Indonesia agar lebih dekat dengan keluarga. Saya juga punya keinginan untuk bisa membina keluarga,” katanya sambil tersenyum.
Ditanya apakah sudah punya calon pendamping untuk diajak duduk di pelaminan nantinya? Sambil berbalik menghadap dinding, Aby berujar; belum. Ada yang berminat? (ish/rus)



×


Digelari Daeng di Pesawat

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar