SANGAT sulit menemukan seseorang untuk tetap bertahan terhadap usaha yang digelutinya, meski usaha tersebut sudah tidak dilirik lagi.
Laporan: ARIF AL QADRY
Dia adalah H Bau (58) tahun, penjual prangko dan kartu ucapan selamat di depan Kantor Pos Besar, Jalan Slamet Riyadi.
Kepada penulis, H Bau menegaskan untuk tetap berjualan kartu ucapan selamat hingga ajal menjemputnya. Alasannya, usaha yang telah digelutinya selama 37 tahun lalu adalah usaha rintisan dari suaminya yang lebih dulu dipanggil Ilahi dalam usia 60 tahun.
Memang, jelas H Bau, dia seringkali didatangi sales untuk beralih usaha seperti menjual kebutuhan pokok seperti rokok, kopi dan berbagai macam kebutuhan masyarakat, termasuk topi. Tetapi dia tidak tergoda dengan iming-iming para sales untuk bisa diberikan bantuan barang.
“Saya sampai sekarang tetap berjualan prangko dan kartu ucapan, disamping usaha rintisan suami saya, warung yang berada di depan kantor pos sudah memiliki ciri khas menjual prangko, kartu ucapan dan amplop,” jelasnya.
Bahkan, kata H Bau sambil sesekali membersihkan amplop, dia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam warungnya.
“Setiap pagi saya sudah keluar rumah pukul 10:30 Wita dan pulang nanti pukul 20:00 Wita. Makan dan salat lima waktu juga saya laksanakan di dalam warungnya,” katanya.
Dia juga menceritakan, saat era tahun 1990 hingga tahun 2000, di warungnya biasa bertumpuk orang mengantri memilih kartu ucapan selamat maupun para pecinta prangko. Mereka bahkan berebutan mencari kartu yang tercantik dan terunik di masa itu.
Bahkan ada yang lebih dulu memesan kepada penjual, untuk disimpan-kan kartu ucapan yang unik. Ini biasa terjadi saat-saat menjelang Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru, begitupun pada saat hari valentine dan ulang tahun.
“Memang nak’ setelah bermunculan handphone dan teknologi informasi (IT) sedikit demi sedikit pembeli kartu ucapan selamat mulai berkurang. Kini, orang lebih simpel mengucapkan selamat lewat Sourt Message Sistem (SMS), Blackberry Masengger (BBM),” ujarnya.
Wanita kelahiran Selayar 2 Maret 1958 itu mengaku,tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dilakoninya selain berjualan prangko. Berjualan prangko, kata dia, untuk tetap bertahan bertahan hidup.(arf/war)

