pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Pejuang dalam Keluarga

PERJUANGAN Raden Ajeng (RA) Kartini telah membawa banyak pengaruh terhadap emansipasi wanita di tanah air. Perempuan tangguh nan jelita itu telah menorehkan tinta emas demi kesetaraan, tanpa melupakan kodrat sebagai seorang wanita.
BKM/ARDHITA ANGGRAENI
Andi Dala AtiikaAndi Dala Atiika merupakan satu dari banyak perempuan Indonesia yang telah menikmati buah dari perjuangan Kartini. Selain sebagai ibu rumah tangga dengan tiga orang anak, ia juga seorang wanita pengusaha. Usahanya bergerak di bidang kontraktor dan pengadaan. Karena aktivitas sehari-harinya itu, wanita yang akrab disapa Atiika ini menjadi pengurus Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI).
Meski sibuk dengan rutinitasnya sebagai pengusaha, Atiika tetaplah seorang ibu rumah tangga yang selalu berusaha menjaga keharmonisan keluarganya. Baginya, keluarga merupakan yang utama.
”Hari Kartini yang tiap tahun kita peringatan membawa banyak pesan serta makna, utamanya bagi kaum perempuan. Perempuan boleh saja setara dengan laki-laki dalam banyak hal. Tapi yang tidak boleh dilupakan, perempuan tetap harus menjadi seorang ibu rumah tangga dan pejuang di dalam keluarganya sendiri,” tutur Atiika yang ditemui di sela-sela memperingati Hari Kartini di Wisma Kalla, Kamis (21/4).
Wanita kelahiran Polmas, Sulawesi Barat, 15 Juli 1972 ini menilai, selalu saja terjadi perubahan terhadap emansipasi perempuan dari waktu ke waktu. Merekapun bisa setara dengan laki-laki dalam banyak hal.
Sebaliknya, dalam hal-hal tertentu seorang laki-laki belum tentu dapat setara dengan perempuan. Namun dia mengingatkan, sejauh apapun emansipasi itu, seorang perempuan tetap memiliki keterbatasan.
”Saya sudah bekerja selama empat tahun dan ikut berbagai organisasi. Namun, saya biasanya setiap hari di rumah, pertama kali bergelut dengan urusan keluarga. Itu karena saya seorang ibu rumah tangga,” ujar istri Muh Hamzah Hamid ini.
Lahir dari pasangan H Abbas Mappaonang dan Andi Basse Sambriani, Atiika terbilang perempuan mandiri. Dia tidak ingin banyak bergantung dari orang lain.
”Kita harus menjadi orang yang berilmu, seperti diinginkan Ibu Kartini. Walau perempuan bisa melakukan apa saja, tetap harus mendapat support dan dukungan dari suami. Karir yang dijalaninya hanya pengembangan pribadi semata,” jelasnya.
Disadari Atiika, seorang ibu rumah tangga tetap harus memiliki wawasan dan mengikuti perkembangan zaman. Bukan hanya bisa mengurus rumah tangga samata.
Dalam mendidik putra putrinya, Atiika menerapkan pembelajaran dan disiplin kepada mereka. Dia beralasan, jika keduanya dijalankan dengan maksimal, maka anak-anak dengan sendirinya akan patuh dan memiliki disiplin.
Selain kepada ketiga buah hatinya, Atiika serta suaminya juga memegang teguh budaya hidup disiplin. ”Kedisiplinan itu dimulai dari peraturan-peraturan kecil di rumah tangga. Selanjutnya, pada pergaulan anak-anak bersama temannya di luar,” ujarnya.
Di tengah kesibukan sehari-hari, menurut Atiika, seorang ibu hendaknya bisa menjadi tempat curhat bagi suami dan anak-anaknya. Jangan sampai mereka melakukannya kepada orang lain.
Sebagai seorang perempuan berdarah Bugis, Atiika tetap memegang teguh budaya leluhur. Hal itu juga diajarkan kepada ketiga anaknya, Zahra Thae Rahmani Hamzah, Fauzan Muh Hamzah dan Ahmad Djihan Hamzah. (ita/rus)



×


Pejuang dalam Keluarga

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar