ADA banyak mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Kedokteran (FK) Unhas yang mencetak prestasi, baik di skala nasional maupun internasional. Salah satunya adalah Iin Fadhillah Utami Tammasse.
Laporan: Ardhita Anggraeni
CEWEK berhijab ini akrab disapa Iin. Sulung dari dua bersaudara adalah buah cinta pasangan Drs H Tammasse Balla,MHum dengan Dr dr Hj Jumraini Tammasse,SKed,SpS.
Sejak kecil, Iin sudah memperlihatkan tingkat kecerdasan yang berbeda dengan teman seusianya. Saat bersekolah hingga kuliah, ia telah mencetak prestasi di berbagai bidang. Mulai dari fisika, bahasa Inggris, bahasa Jerman, baca puisi, master of ceremony (MC), menulis cerpen, debat bahasa hingga meneliti.
Lahir di Makassar, 8 April 1995, Iin menghabiskan masa kecilnya di Kabupaten Soppeng, tanah kelahiran kedua orangtuanya. Saat itu ia mengikuti ibunya yang bekerja sebagai kepala puskesmas di Kota Kalong.
Karena ibunya selalu berpindah-pindah tugas, otomatis lin juga harus ikut. Ketika duduk di bangku Taman Kanak-kanak, ia beberapa kali pindah. Pernah ‘singgah’ di TK Pertiwi Takkalala, TK Lajoa Soppeng, sebelum akhirnya berlabuh di TK Ananda Makassar.
Demikian pula di bangku sekolah dasar. Pendidikannya di SD Inpres Tamalanrea 11 dia jalani hanya hingga kelas 4, sebelum pindah ke SDITA-Ashri Telkomas. Setelah dari SMP Negeri 12 Makassar (hingga kelas 8), lin menuntaskan pendidikan di SMP Islam Athirah Bukit Baruga, Antang.
Sementara di tingkat SMA, Iin menjalaninya di SMA Negeri 17 Makassar selama 4 tahun. Satu tahun diantaranya ia habiskan untuk mengikuti program American Field Service (AFS) di Swiss, Agustus 2012 hingga Juli 2013. Program ini memberinya kesempatan mempermahir bahasa Jerman.
lin selalu mengukir prestasi pada setiap jenjang pendidikan yang dijalaninya. Ketika SD tampil mewakili sekolah dalam lomba cerdas cermat, pemilihan murid teladan, serta Olimpiade Fisika dan Matematika.
“Awalnya dari kecil, apalagi waktu SMP, saya memang sudah tertarik dengan dunia fisika. Akhirnya saya mulai coba-coba ikut lomba apa saja, bukan hanya fisika. Dan Alhamdulillah, lulus Olimpiade Sains Nasional (OSN) SMP tingkat provinsi dalam bidang tersebut. Sedangkan untuk bahasa Inggris, saya mulai jatuh cinta dengan yang satu ini setelah mengenal story telling (bercerita dalam bahasa Inggris) yang mengasyikkan,” ujar Iin dalam kesempatan bincang-bincang dengan BKM, belum lama ini.
Ketika duduk di bangku SMP, Iin tercatat sebagai penyandang peringkat umum pertama di SMP Negeri 12 Makassar, dan peraih UN tertinggi di SMP Islam Athirah Bukit Baruga.
DI SMA Negeri 17 Makassar, gadis remaja yang bercita-cita mengikuti jejak ibunya menjadi dokter ini, menduduki peringkat umum pertama dan peraih UN tertinggi di sekolah tersebut.
Tak berhenti disitu. Prestasi Iin berlanjut di tahun 2014. Tamat SMA, ia lulus bebas tes masuk Fakultas Kedokteran Unhas.
“Dulu waktu SMA ikut pertukaran pelajar ke Swiss. Memang target saya itu mau ikut. Kemudian saya mendaftar. Sebenarnya saya suka negara Amerika, karena katanya banyak ilmu yang bisa diserap di sana. Makanya saya pilih negara itu. Tapi pas keluar pengumuman di sekolah, ternyata saya lulusnya di Swiss. Padahal saya tidak tahu apa-apa tentang negara itu,” curhatnya.
Meski begitu, ia tetap menerimanya dan mengikuti program pertukaran pelajar tersebut. Selama satu tahun Iin tinggal di rumah orang tua angkatnya di negara itu.
Apa yang diperolehnya selama mengikuti program pertukaran pelajar itu, telah Iin tuangkan dalam sebuah buku. Judulnya; Merangkul Salju di Negeri Mimpi.
Buku yang dikemas full color ini diterbitkan Iin sekembalinya ke Tanah Air. Dalam buku itu, ia menceritakan kisahnya yang mengeliling tujuh negara Eropa. Termasuk menjadi pelajar yang telah lolos seleksi untuk pertukaran pelajar. Dari 3.418 pelajar Indonesia yang mendaftar, hanya 1.100 orang saja yang diberangkatkan ke 28 negara. Salah satunya adalah Iin.
“Saya sudah tuliskan 12 artikel selama perjalanan ke Swiss. Rencananya mau tulis buku kedua setelah selesai kuliah.
Saya akan mencerikan kisah apa di balik menjadi mahasiswa kedokteran. Pasti orang penasaran,” bebernya.
Memiliki begitu banyak prestasi terkarang memberikan beban tersendiri kepada Iin. Apalagi dengan imej sebagai siswa berprestasi dan serba bisa.
Teman-teman dan gurunya pun tentu menaruh harapan yang besar pada dirinya. Namun ternyata, hal ini tidak dijadikan beban oleh Iin. ‘Beban’ ini malah diubah menjadi motivasi untuknya.
“Saya bersyukur dengan semua yang telah saya raih. Tidak ada beban. Malah saya merasa itu motivasi untuk mempertahankan prestasi,” tandasnya. (*/rus)

