TANAMAN hias, mulai dari bonsai, bunga-bungaan, sampai tanaman buah berjejer di sebidang halaman Jalan Urip Sumoharjo tepat di depan Taman Makam Pahlawan. Tanaman hias tersebut menunggu pembeli.
Laporan: RAHMAN
Di depan penulis, La Marito (66) tahun pemilik lapak penjualan tanaman hias tersebut mengaku prospek penjualan tanaman hias saat ini sedikit menurun, apalagi sedang sepi pembeli. Menurutnya ini berkaitan dengan musim kemarau, sehingga orang lebih memilih tidak menanam tanaman hias dulu.
“Saat ini dek’ memang pembeli sepi. Bisa jadi dikarenakan musim kemarau yang panas sehingga warga lebih memilih tidak membeli tanaman hias dulu,” ujarnya.
Berbeda dengan musim penghujan, ujar La Marito, saat musim penghujan merupakan berkah bagi penjual tanaman hias.“Biasanya banyak pembeli dibandingkan musim kemarau, kalau musim penghujan masyarakat ramai-ramai membeli tanaman hias dan tanaman buah. Alasan mereka di musim penghujan sangat mudah menanam tanaman hias dan tidak mudah layu,” ucap Anto sapaan akrabnya.
Menurutnya, di kala musim penghujan, penjualan tanaman hias dan bibit buah, mengalami lonjakan pembeli yang sangat signifikan hingga 60 persen dibanding kemarau.
Sambil mengusap keringat yang membasahi dahinya, Ato mengaku memulai hari-harinya menjaga lapak penjualan tanaman hiasnya sekira pukul 06.00 Wita sampai ba’da magrib.”Pukul 05.30 Wita saya tinggalkan rumah di Sudiang, dan berjualan sampai menjelang Magrib,” lanjutnya.
Ato tidak sendiri, ia dibantu saudarinya, Wagure menjual berbagai macam tanaman hias seperti bunga Mawar, bahania, cemara, pucuk merah, keladi tengkorak bahkan dirinya juga menjual tanaman produktif.
Bunga tersebut juga hasil impor dari Malang.
Pria kelahiran Raha ini sejak dulu sangat mencintai tamanan hias dan dia mewujudkan minatnya tersebut di Makassar.
Bergelut di bisnis tanaman hias, memang dibutuhkan keuletan dan kesabaran terutama merawat bunga tersebut. Apalagi tidak semua orang membutuhkan bunga tersebut.
Dia-pun mengawali bisnis tanaman hias 15 tahun yang lalu karena melihat maraknya kegiatan bercocok tanam hias yang dilakukan di rumah warga. Dari kondisi itulah sehingga Anto muncul ide untuk menjual tanaman hias. Jenis tanaman yang dibagikan pun saat itu masih tiga tanaman yakni kattus dan pohon buah yang telah dibongsai. Setelah itu, mulai menjual bibit-bibit tanaman buah atau tanaman pelindung.
Apalagi, pengalamannya selama mengabdi di Pemerintah Kota Makassar sebagai PNS di Dinas Pertamanan dan Kebersihan menjadi bekal bagi Lamarito untuk memulai bisnis tersebut.
Dia sendiri memulai usahanya itu sejak 2001 hingga sekarang. Dia sendiri menggeluti usaha satu-satunya itu selama 15 tahun. (man/war)

