MUSABAQAH Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Sulsel ke-XXIX berlangsung di Kabupaten Barru sejak 28 Mei lalu dan berakhir 4 Juni 2016. Ternyata, ada sisi menarik dari perhelatan religius ini. Apa itu?
Laporan: Rusdi Nasaruddin
ADA dua keluarga yang terbilang hebat bertarung di MTQ kali ini. Yakni keluarga ibu Amanah Hasan, Official Kafilah Kabupaten Pinrang dan Syaharuddin, salah seorang tim juri lomba kaligrafi.
Kepala keluarga itu pantas dikatakan hebat, karena ada yang sampai memboyong dua hingga tiga generasi untuk berlaga di berbagai cabang lomba. Hebatnya lagi, mereka mewakili beberapa kabupaten di ajang tersebut.
Tidak ada yang menyangka jika ibu paruh baya bernama Amanah Hasan (57) ini seorang muslimat asal Provinsi Bali. Sebab dulu sebelum dinikahi pria Bugis, dia hidup sebagai wanita muslimah di tengah dominasi warga Bali yang umumnya beragama Hindu.
Ketika ditanya, apakah dia seorang muallaf sebelum bertemu dengan Mursalim, suaminya? Dengan tegas ia menjawab bahwa dirinya muslimah sejati dari Bali. Janda yang ditinggal mati oleh almarhum suaminya 2013 lalu, tak pernah surut niat besarnya untuk mendidik anak cucunya sebagai generasi Qurani.
Di ajang MTQ, ibu hebat ini membuktikan kehandalannya. Ia membawa tiga generasi ke arena MTQ untuk mengikuti berbagai lomba dengan mewakili beberapa kabupaten.
Amanah sendiri bertindak sebagai official kafilah Kabupaten Pinrang. Ada pula tiga anak kandung dan empat cucunya.
Yang menarik, Amanah kerap mengaku sebagai orang Bone, meski tidak satu dengan kafilah asal Kabupaten Bone. ”Kalau ada orang bertanya saya orang apa, saya sering menjawab orang Bone. Karena suamiku, almarhum Mursalim berasal dari Desa Pattiro, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone,” tuturnya saat ditemui di sela-sela mengikuti MTQ di Kabupaten Barru.
Sebagai bukti klaim dirinya orang Bone, saat ini Amanah membina Pondok Pengajian Nurul Falah di Desa Pattiro. Hal ini merupakan upayanya melanjutkan perjuangan keluarganya dalam mencetak generasi Qurani. Ada sekitar 20-an santri yang mondok belajar tilawah dan hafal Alquran di tempat ini.
Mantan qariah Provinsi Bali ini menyebut, dalam MTQ di Barru, tiga anak kandungnya berlaga di tiga cabang berbeda. Anak pertama bernama Nurlaely (30) bertanding di ajang lomba Qira’ah Sab’ah. Anak kedua, Ahmad Syahid (24) mengikuti Tafsir Bahasa Indonesia. Sementara si bungsu, Nasriah (20) bertarung di lomba Tahfidz 20 juz. Ketiganya mewakili Pinrang.
Sedangkan keempat cucunya, yakni Husnah (12) tampil pada lomba Tahfidz 5 juz sebagai wakil Kabupaten Luwu, Zakinah (8) menjadi duta Kabupaten Wajo. Hilyah M (8) untuk Tahfidz 1 juz putra juga wakil dari Kabupaten Wajo. Lalu cucu termuda bernama Qanita (7) bertarung untuk lomba Tahfidz 1 juz dan merupakan utusan Kabupaten Pinrang.
”Cucu saya bernama Husna pernah mewakili Sulbar dalam lomba Tahfidz 1 jus di MTQ tingkat nasional di Ambon. Salah seorang adiknya saat TK juara 1 di Festival Anak Saleh se-ASEAN di Banjarmasin. Qanita, masih cucu saya, juga pernah juara satu aksioma antara siswa Madrasah Ibtidaiyah se-Indonesia di Palembang. Begitu pula dengan Hilyah pernah meraih juara 1 Tartil di Festival Anak Saleh Indonesia (FASI) di Bandung pada 2013 lalu dan sebagai wakil Sulsel dari tingkat Taman kanak-kanak,” terangnya.
Bagi Amanah, apa yang dicapai oleh keluarganya ini merupakan rahmat terbesar yang dibangun melalui perjuangan disertai keikhlasan. Mengajarkan dan mendidik anak-anak, cucu dan para santri yang ikut belajar di lembaganya, mengalir apa adanya.
”Terkadang dimulai dengan metode Iqra seperti pada pola pengajaran mengaji umumnya. Jadi tidak ada pola yang istimewa, namun harus memang orang tua yang memberikan dorongan kuat dan penuh keikhlasan. Begitu kunci utama yang kami terapkan kepada anak, cucu dan santri yang belajar di lembaga pengajian di Desa Pattiro,” bebernya.
Amanah pun berkisah tentang perjalanan hidupnya di berbagai ajang MTQ, hingga akhirnya dipercaya sebagai official bagi kafilah Kabupaten Pinrang.
Sebenarnya, pernah dua tahun ia diamanahkan Pemerintah Kabupaten Bone. Kemudian tidak lagi dilirik. Akhirnya tawaran datang dari daerah lain.
Hal yang sama dialami beberapa anak dan cucu hingga menjadi duta di berbagai kabupaten di Sulsel dan Sulbar. “Bahkan pernah ada keluarga kami yang mewakili Provinsi Papua,” aku Amanah.
Bukan hanya kiprah sukses sanak keluarganya di ajang pentas MTQ yang diceritakan Amanah. Awal jalinan cintanya dengan almarhum Mursalim pun bermula di Pulau Dewata. Ketika Mursalim yang juga seorang qari, suatu waktu jalan-jalan ke Bali. Sebelumnya, mereka berdua memang pernah bertemu bertemu di ajang MTQ. ”Waktu itu saya seorang qariah yang sering mewakili Provinsi Bali,” tuturnya.
Pulau Dewata menjadi saksi awal berseminya benih-benih cinta antara kedua qari dengan qariah ini. Di Bali pun almarhum Mursalim pernah menjadi utusan di MTQ tingkat nasional.
“Allah lebih mencintai suami saya hingga memanggilnya kembali keharibaan-Nya jelang berlangsungnya MTQ se-Sulsel di Pinrang 2013,” tandasnya kembali mengenang suaminya. (*/rus/b)

